Guru Besar IPB: Potensi Jamur Indonesia Berpeluang Atasi Krisis Pangan

Jamur Tiram Putih.(Foto: Pertanian.go.id)

Bogor, MINA – Sampai saat ini, masyarakat di Indonesia belum terbiasa dan familiar mengonsumsi jamur padahal, jamur memiliki kandungan nutrisi yang tinggi.

Di samping itu, jamur juga berpotensi sebagai pangan fungsional dan mampu mewujudkan ketahanan pangan nasional. Demikian Prof Dr Lisdar A Manaf, Guru Besar IPB University bidang Mikologi menjelaskan sebagaimana keterangan tertulis IPB University kepada MINA, Selasa (20/10)/

Ia mengatakan, jamur merupakan pilihan terbaik sebagai pangan fungsional dan berpotensi besar dalam mewujudkan ketahanan pangan.

Selain itu, jamur juga dapat meningkatkan keragaman pangan di Indonesia.

Lebih lanjut Prof Lisdar  mengatakan, jamur kaya akan gizi yang tinggi terutama protein nabati.

Kadarnya mencapai 10 persen, lebih tinggi dari kadar protein sayuran.

Sementara, kandungan karbohidrat pada jamur lebih dari 50 persen. Dengan demikian, jamur dapat menjadi alternatif dalam upaya penuntasan gizi buruk atau stunting.

“Jamur mempunyai kesempatan besar untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional. Jamur di Indonesia memiliki keragaman produk yang lebih banyak dibandingkan bahan pangan lainnya, karena disamping mempunyai zat gizi dan nongizi yang baik bagi kesehatan, jamur juga dapat diolah dari tiga sumber yaitu tubuh buah jamur, miselium dan metabolit hasil fermentasinya,” ungkapnya.

Prof Lisdar mencontohkan, jamur tiram yang merupakan jenis jamur paling sering dibudidayakan oleh masyarakat dapat diekstrak menjadi bahan obat.

Ekstrak tersebut dapat diperoleh dari filtrat kulturnya.

Selain itu tubuh buah jenis jamur tertentu seperti Ganoderma dapat diekstrak untuk bahan tambahan pangan sekaligus suplemen, immunostimulan dan antivirus.

Maka dari itu diperlukan dukungan dan promosi serta pengetahuan biologi dalam produksi jamur dan pemasarannya.

Dosen IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam itu juga menyebutkan Indonesia masih tertinggal jauh pada produksi jamur sebagai pangan fungsional dibanding Thailand.

Sampai saat ini Thailand sudah lebih dulu mengembangkan jamur-jamur tropis.

Di Indonesia, jenis jamur yang dikembangkan baru tiram saja, jenis lain seperti merang masih dibudidayakan secara tradisional dalam skala kecil.

Ia juga menyayangkan perhatian Kementerian Pertanian yang hilang timbul terhadap pengembangan jamur, terlebih lagi ilmu Mikologi yang tidak diberi kesempatan lebih besar untuk diajarkan.

Padahal, budidaya jamur sendiri amatlah mudah, murah, serta ramah lingkungan yaitu dapat memanfaatkan limbah pertanian serta berprinsip zero waste.

Petani lokal hingga mahasiswa juga bersemangat untuk mengembangkannya bila didampingi oleh pengetahuan pemasaran yang baik.

Ia juga menyayangkan kebijakan Kementerian Pertanian saat ini yang tidak lagi melirik Pojaknas Jamindo (Kelompok Kerja Nasional Jamur Indonesia ). Sehingga perlu upaya lanjutan agar Kementerian Pertanian kembali memberi perhatian dalam pengembangan produk dan budidaya jamur.

Ke depannya, ia ingin membangun Mushroom Center sebagai sarana pendidikan, penelitian, dan pembibitan bagi produk berbasis jamur.

Ia membeberkan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga sudah memiliki rencana yang sama.

Harapannya akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti Kementerian Pertanian Korea Selatan yang sangat mendukung Mushroom Center di negaranya dengan difasilitasi oleh infrastruktur yang baik dari hulu ke hilir. (R/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)