Hadiri Kajian Bulanan Istiqlal, Ulama Palestina Bicara Soal Kekejaman Israel

Jakarta, MINA – Kekejaman Israel terhadap masyarakat Palestina sudah berlangsung sejak negeri Zionis itu berdiri pada tahun 1948. Pasca Israel berdiri, masyarakat Palestina hidup menderita di bawah keputusan-keputusan sepihak Israel.

Imam Besar Masjid Al-Umary, Palestina, Dr. Hosam Taofed An-Naffar mengisahkan bahwa setelah Khilafah Turki Utsmani runtuh tahun 1924, Inggris yang merupakan salah satu pemenang perang dunia pertama memberikan kemudahan fasilitas kepada orang-orang Yahudi untuk menduduki wilayah Palestina.

“Atas kemudahan ini kemudian pada tahun 1948, orang-orang Yahudi secara ilegal mendirikan negara mereka di atas tanah Palestina,” kata An-Naffar saat mengisi kajian bulanan yang diselenggarakan oleh Majelis Ta’lim Pemuda (MTP) Istiqlal yang dihadiri ribuan pemuda-pemudi di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (16/9).

An-Naffar menyampaikan, kekejaman Israel terus berlanjut hingga beberapa tahun usai negeri itu berdiri. Puncaknya pada 1967, Israel memaksa masuk ke area Al-Quds. Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa mereka membakar sebagian Masjid Al-Aqsa termasuk membakar mimbar Salahuddin Al-Ayyubi.

“Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa sejak 1967, Israel telah merubah syiar-syiar Islam di sekitar kawasan Masjidil Aqsa, termasuk Tembok Ratapan yang diklaim Israel sebagai tempat peribadatan mereka,” katanya.

Menurut An-Naffar, tempat tersebut adalah Tembok Al-Buraq, diambil dari nama kuda bersayap yang ditunggangi Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Sebelum melakukan Mi’raj, kuda tersebut diikat di sebuah dinding. Tetapi sekarang bentuk syiar Islam itu telah dirubah oleh Israel.

Terkait Tembok Ratapan yang sebagian umat Islam meyakini sebagai tempat turunnya Al-Masih, An-Naffar menolak pendapat tersebut.

“Tembok Ratapan hanyalah cerita mitos yang dikarang orang-orang Israel untuk menarik simpati dan dukungan, termasuk untuk menarik dana, serta untuk mengaburkan warisan budaya Islam di sana. Ini hanya akal-akalan mereka,” katanya.

Selanjutnya, An-Naffar mengungkapkan bahwa Israel juga pernah sempat membagi Masjid Al-Aqsa menjadi dua bagian. Satu tempat untuk umat Muslim, sebagian lagi untuk orang-orang Yahudi beribadat.

“Keputusan ini ditentang oleh masyarakat Palestina. Tetapi Israel justru semakin membatasi orang yang ingin berkunjung ke Masjidil Aqsa seperti hanya membolehkan umat Islam datang pada jam-jam salat saja. Itupun untuk usia di atas 35 tahun,” ujarnya.

Kekejaman Israel lainnya, kata An-Naffar, di sekitar Masjidil Aqsa, mereka membangun tembok pemisah sepanjang 725 kilometer. Tujuannya adalah untuk mengusir masyarakat Palestina, menghancurkan perkampungan mereka yang kemudian diganti dengan perumahan ilegal bagi orang-orang Israel.

“Dengan cara ini, Israel ingin Palestina merasa bosan sehingga mereka mudah menguasai tanah Palestina. Tetapi cara ini tidak sepenuhnya berhasil. Masyarakat Palestina di bawah tekanan Israel tetap teguh, tetap yakin bahwa pertolongan Allah pasti dekat,” kata Anggota Asosiasi Ulama Palestina tersebut.

An-Naffar mengaku, saat baru tiba di Indonesia, ia merasa kagum dengan kehidupan yang damai, saling menghormati, berdampingan antara umat Muslim dan non Muslim. Ia juga kagum orang-orang Indonesia bisa merasa aman ketika hendak pergi bekerja maupun bersekolah.

“Cerita-cerita indah seperti di Indonesia tidak akan ditemui di Palestina. Mereka setiap hari, dari yang tua hingga anak kecil, dari orang yang mampu hingga orang miskin, mereka semua terancam setiap waktu. Bisa saja pagi masih terlihat berangkat ke kantor-kantor mereka, berangkat ke sekolah-sekolah mereka, tapi siang atau sorenya mereka telah menemui syahidnya,” paparnya.

An-Naffar melanjutkan bahwa masyarakat Palestina, selain mengalami kekejaman fisik, mereka juga mengalami kekejaman mental dari keputusan-keputusan berbahaya Israel. Termasuk mengisolasi Jalur Gaza, Tepi Barat dan sejumlah wilayah Palestina lain dari dunia luar.

“Tingkat pengangguran di Gaza sangat tinggi mencapai 80 persen. Bukan karena masyarakat di sana pemalas. Hal ini karena isolasi yang diterapkan oleh Israel, tidak boleh ada hubungan dengan dunia luar, tidak ada barang material, tidak ada makanan dari luar masuk ke Palestina. Sehingga mereka tidak tahu apa yang mesti mereka kerjakan,” katanya.

Namun, tegas An-Naffar, hingga hari ini masyarakat di Palestina masih tetap tegar berdiri, masih tetap dengan keteguhan hati mereka menjaga salah satu dari tiga masjid yang diutamakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu Masjidil Aqsa. Mereka yakin, mereka percaya bahwa pertolongan Allah sangat dekat. (L/R06/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)