Hagia Sophia, Saksi Sejarah Perjalanan Turki

Oleh: Rendy Setyawan, Wartawan MINA

Hagia Sophia menjadi perbincangan publik dunia setelah Turki memutuskan untuk memanfaatkannya kembali menjadi masjid. Dunia ramai-ramai menyoroti langkah Presiden Erdogan yang seolah-olah sedang menegaskan negara yang dipimpinnya menuju neo Utsmani. Adapun Utsmani dahulu merupakan sebuah kerajaan besar berpusat di Istanbul yang membentang dari Eropa hingga Asia Selatan.

Hagia Sophia sudah mengalami renovasi dan perluasan beberapa kali selama berabad-abad ini. Salah satu keunikannya adalah perpaduan mosaik khas era Bizantium dan kaligrafi dari masa Kesultanan Utsmani. Mulanya, Hagia Sophia dibangun sebagai gereja Church of Holy Spirit atas perintah Kaisar Bizantiun Justinian I pada abad ke-6.

Beberapa pilar penyangga dalam bangunan tersebut diambil dari Ephesus dan Kuil Artemis. Hagia Sophia juga merupakan salah satu dari katedral terbesar di dunia yang memiliki makna khusus bagi komunitas orthodox.

Bangunan ini merupakan katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel, kecuali pada tahun 1204 sampai 1261, ketika tempat ini diubah oleh Pasukan Salib Keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kekuasaan Kekaisaran Latin Konstantinopel.

Bangunan ini menjadi masjid mulai 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan Kesultanan Utsmani. Kemudian bangunan ini disekulerkan dan dibuka sebagai museum pada 1 Februari 1935 oleh Republik Turki.

Terkenal akan kubah besarnya, Hagia Sophia dipandang sebagai lambang arsitektur Bizantium dan dikatakan “telah mengubah sejarah arsitektur.” Bangunan ini tetap menjadi katedral terbesar di dunia selama hampir seribu tahun sampai Katedral Sevilla diselesaikan dibangun pada tahun 1520.

Bangunan yang sekarang ini awalnya dibangun sebagai sebuah gereja antara tahun 532-537 atas perintah Kaisar Rowami Timur Yustinianus I dan merupakan Gereja Kebijaksanaan Suci ketiga yang dibangun di tanah yang sama, dua bangunan sebelumnya telah hancur karena kerusuhan. Bangunan ini didesain oleh ahli ukur Yunani, Isidore dari Miletus dan Anthemius dari Tralles.

Pada 1453 M, Konstantinopel ditaklukkan oleh Utsmani di bawah kepemimpinan Sultan Mehmed II, yang kemudian memerintahkan pengubahan gereja utama Kristen Ortodoks menjadi masjid. Dikenal sebagai Aya Sofya dalam ejaan Turki, bangunan yang berada dalam keadaan rusak ini memberi kesan kuat pada penguasa Utsmani dan memutuskan untuk mengubahnya menjadi masjid.

Berbagai lambang Kristen seperti lonceng, gambar, dan mosaik yang menggambarkan Yesus, Maria, orang-orang suci Kristen, dan para malaikat dihilangkan atau ditutup. Berbagai atribut Keislaman seperti mihrab, minbar, dan empat menara, ditambahkan. Aya Sofya tetap bertahan sebagai masjid sampai tahun 1931 M.

Kemudian bangunan ini ditutup bagi umum oleh pemerintah Republik Turki dan dibuka kembali sebagai museum empat tahun setelahnya pada 1935. Pada tahun 2014, Aya Sofya menjadi museum kedua di Turki yang paling banyak dikunjungi, menarik hampir 3,3 juta wisatawan per tahun.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata Turki, Aya Sofya merupakan tempat di Turki yang paling menarik perhatian wisatawan pada 2015.

Dari pengubahan awal bangunan ini menjadi masjid sampai pembangunan Masjid Sultan Ahmed (juga dikenal dengan Masjid Biru) pada 1616, Aya Sofya merupakan masjid utama di Istanbul. Arsitektur Bizantium pada Aya Sofya mengilhami banyak masjid Utsmani, seperti Masjid Biru, Masjid Şehzade (Masjid Pangeran), Masjid Süleymaniye, Masjid Rüstem Pasha, dan Masjid Kılıç Ali Pasha.

Status museum dicabut

Pengadilan administrasi utama Turki mencabut status Hagia Sophia sebagai museum pada 10 Juli 2020. Keputusan tersebut membuka jalan bagi pemerintah Turki untuk membuat situs bersejarah tersebut menjadi masjid. Meski sejumlah negara mengaku kecewa dengan keputusan Turki, namun itu sudah menjadi hak negara tersebut untuk menentukannya.

“Keputusan ini adalah bagian dari kedaulatan Turki sebagai negara,” kata Erdogan menepis kritikan asing.

Seperti yang dikatakan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmilla Vorobieva. Dia mengatakan pemerintahnya tidak ingin mencampuri urusan dalam negeri pemerintah Turki terkait rencana perubahan status situs bersejarah tersebut.

Meski demikian, Pemerintah Rusia berharap agar Turki mempertimbangkan kembali dari semua aspek mengenai rencana tersebut. Apalagi, kata Lyudmilla, Hagia Sophia merupakan situs budaya UNESCO.

Lyudmilla yang pernah berkunjung ke situs bersejarah itu mengatakan Rusia yang merupakan negara mayoritas kristen ortodoks juga memiliki hubungan kuat dengan Hagia Sophia.

“Siapapun yang pernah mengunjungi situs tersebut dipastikan akan mengagumi keindahan Hagia Sophia yang bersejarah bagi umat kristen dan muslim. Namun, tentu saja itu merupakan hak sepenuhnya pemerintah Turki,” kata Lyudmilla, dalam konferensi virtual, pada Rabu.

Pada Kamis (9/7), UNESCO memberi peringatan bahwa perubahan status harus ditinjau oleh komite UNESCO. Pihak UNESCO mengungkapkan bahwa setiap perubahan dari sebuah situs yang berada di dalam daftar Situs Warisan Dunia harus diberitahukan terlebih dahulu dan melalui proses peninjauan. (A/R2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)