Hak Eksplorasi Minyak dan Gas Palestina

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Wartawan MINA

Palestina telah menderita kelangkaan sumber daya alam dan kekayaan mineral akibat pendudukan Zionis Israel.

Kelangkaan sumber energi Bahan Bakar Minyak (BBM) beserta turunannya itu karena dikuasai pendudukan, seperti minyak dan gas, membuat harganya semakin tinggi. Bahkan tertinggi di kawasan negara-negara Arab.

Laporan Maan News per 30 Juni 2021 menyebutkan, harga BBM di Palestina : bensin beroktan 95, yang paling banyak digunakan di pasaran, dijual dengan harga 1 liter = 6,06 shekel (Rp26.877). Lainnya harga bensin beroktan 98 1 liter = 6,89 shekel (Rp30.558), solar dan minyak tanah 1 liter = 5,19 shekel (Rp23.018).

Bandingkan dengan harga di Indonesia saat ini. Bensin RON 88 (Premium) yang banyak dipakai warga 1 liter = Rp6.450.

Bensin RON 90 (Pertalite) 1 liter = Rp7.650 Bensin RON 92 (Pertamax) 1 liter = Rp9.000. Bensin oktan 95 (Pertamax Plus) 1 liter = Rp9.850.

Harga lainnya, kerosene (Minyak Tanah) 1 liter = Rp14.500 dan Marine Diesel Fuel (Minyak Diesel/Solar) 1 liter = Rp6.096.

Harga gas di Palestina mencapai : tabung 2,5 kg 13,5 shekel (Rp59.875). Sementara tabung 5 kg 27 shekel (Rp119.751).

Sedangkan di Indonesia, gas 5,5 kg saja hanya dalam kisaran Rp62.000, dan gas 3 kg kisaran Rp20.000.

Hak Pengelolaan

Sejak berdirinya Otoritas Nasional Palestina pada tahun 1994, Otoritas Perminyakan Palestina telah dibentuk menjadi otoritas pengawas dan bertanggung jawab untuk mengelola sektor hidrokarbon di wilayah Palestina.

Karena pentingnya minyak secara ekonomi, Pemerintah Palestina pun sebenarnya telah meluncurkan penawaran internasional bagi asing untuk melaksanakan eksplorasi minyak di Tepi Barat.

Termasuk eksplorasi ladang gas alam yang ditemukan di lepas pantai Gaza pada tahun 1998.

Sebuah ladang minyak juga ditemukan di Rantis (barat Ramallah). Namun pendudukan Israel menjarah dan mengeksploitasi ladang ini dan memompa 800 barel per hari.

Menurut data Otoritas Lingkungan Palestina, perusahaan Israel, Givat Olam, memulai pengeboran eksplorasi di cekungan Majd di tanah Rantis pada tahun 1994, melalui sumur Majd 2, Majd 3 dan Majd 4.

Menurut sumber yang sama, sebagian besar wilayah kaya minyak terletak di sebelah timur Jalur Hijau, dengan lebar sepuluh kilometer dan perpanjangan dua puluh kilometer, yang berarti sebagian besar ladang minyak terletak di Tepi Barat.

Volume cadangan minyak dari sumur minyak yang ditemukan berjumlah satu setengah miliar barel dan 182 miliar kaki kubik gas. Sebagian besar ladang minyak berada di bawah tanah Palestina yang diduduki pada tahun 1967.

Pendudukan Israel telah mengintensifkan aktivitasnya dalam mencari minyak di sepanjang Jalur Hijau antara Qalqilya dan Ramallah sejak tahun 1992.

Karena itu rencana Otoritas Palestina untuk menawarkan eksplorasi minyak di Tepi Barat pada mitra asing, mencerminkan keinginan untuk melepaskan diri dari cengkeraman pendudukan, satu-satunya penyedia bahan bakar untuk Palestina dan pemegang kendali atas harga dan jumlah yang beredar.

Cadangan Minyak

Data Wafa News menyebutkan, daerah Rantis dan sekitarnya memiliki sumber daya alam yang besar. Luas ladang minyak yang ditemukan di daerah tersebut berkisar antara 600 hingga 700 km2. Sebagian besarnya terletak di wilayah yang diduduki pada tahun 1967.

Cadangan diperkirakan lebih dari 1,5 miliar barel minyak, dan 182 miliar kaki kubik gas, dengan nilai total diperkirakan lebih dari 155 miliar dolar atau sekitar Rp2.244 triliun.

Operasi eksplorasi mengungkapkan bahwa deposit minyak membentuk lapisan setebal sekitar 600 m, dan terletak di kedalaman antara 4.200 dan 4.800 m di dalam tanah.

Israel telah mulai menggali sumur eksplorasi minyak keenam di belakang tembok pemisah Israel di daratan dari kota Rantis. Otoritas Israel juga akan menggali 40 sumur lagi, 26 di antaranya untuk mengekstrak minyak dan gas, dan sisanya untuk mengekstrak minyak saja.

Hak Palestina

Palestina berusaha bergerak ke segala arah untuk mengeksplorasi kekayaan alam dan tidak membiarkannya menjadi mangsa pendudukan. Dari sisi hukum internasional pun sebenarnya diakui bahwa “eksplorasi kekayaan adalah hak setiap negara dan merupakan urusan berdaulat untuk itu.”

Pendudukan tidak memiliki hak untuk mengeksploitasi kekayaan tanah yang diduduki, sama seperti tidak memiliki hak untuk mencegah orang-orang Palestina di bawah pendudukan dari mengeksploitasi kekayaan alam mereka.

Pendudukan itu sendiri adalah pelanggaran hukum, dan setiap tindakan yang mencegah orang Palestina mengeksploitasi kekayaan mereka adalah pelanggaran lain terhadap aturan hukum internasional.

Menurut hukum dan perjanjian internasional, Palestina memiliki hak untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya, dan pendudukan tidak memiliki hak untuk mencegahnya.

Karena itu, Palestina harus terus bergerak maju dalam proyek eksplorasi sumber daya mineral minyak dan gas tersebut, terlepas dari hambatan Israel.

Otoritas Nasional Palestina harus terus bekerja mengambil inisiatif dan mencari berbagai cara untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya untuk mengambil hak-haknya dari tangan pendudukan.

Negara-negara Arab Timur Tengah yang nota bene adalah wilayah penghasil minyak utama dunia, selayaknya memberikan perhatian besar pada upaya tetangganya, Palestina. Misalnya dengan upaya kerjasama eksplorasi dengan Otoritas Palestina, dan menekan Israel. Bukan malah menjalin kerjasama dengan Israel.

Saatnya pula Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan dunia Islam pada umumnya untuk andil menyelesaikan masalah ini. Sumber daya minyak adalah hak bangsa dan warga Palestina, dan itu akan sangat mendukung prospek pembangunan Palestina keseluruhan. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)