HAKIKAT TAUBAT

taubat

Oleh Rifa Arifin, Wartawan  Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Allah Ta’ala berfirman di dalam Hadits Qudsi: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memohon dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dosa-dosamu yang lalu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sampai ke awan langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa-dosa sepenuh bumi dan kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, niscaya Aku datangkan utukmu ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: hadits ini hasan).

Apa yang lalu, sudah berlalu. Pepatah Arab mengatakan: ma madha fata (yang sudah lewat, sudah tiada). Semestinya pun kita tak perlu membawanya ke hari ini, lalu larut dengan kesedihannya. Bukankah sudah jelas, yang berlalu tak akan kembali?

Maka bertaubatlah! Taubat bukan sekedar bermakna meminta ampun. Tetapi makna mendasar dari taubat adalah “memaafkan diri sendiri”.

Taubat berasal dari bahasa Arab, yang akar katanya adalah taba-yatubu. Taba berarti kembali; kembali ke sejatian diri, yang putih. Karena itu, agar kembali putih, maka perlu dibersihkan, yakni dengan menerima dan memaafkan diri sendiri.

Wahai, bukankah tiada yang sempurna? Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri. Orang kaya dan tenar yang mungkin kamu dambakan itu belum tentu bisa sebahagia abang becak yang meski berpenghasilan minim, sanggup mensyukuri kehidupannya. Boleh jadi, orang kaya itu punya masalah pelik: banyak hutang, misalnya.

Lantas, Mengapa orang meratapi nasibnya? Mengapa remaja jadi galau karena penampilannnya? Mengapa orang yang banyak harta masih merasa kurang? Mengapa yang sudah tenar justru terbuai dengan popularitasnya? Karena iri. Karena tidak terima. Karena merasa belum cukup!

Dalam tasawuf, istilah yang digunakan untuk menyebut kaya adalah al ghina  (tidak butuh). Sementara miskin disebut dengan al-faqir (butuh). Mereka yang miskin adalah mereka yang masih merasa kurang, kendatipun punya banyak uang, rumah megah, mobil mewah.

Jadi, kaya itu sebentuk mentalitas: seberapa bisa dirimu puas dengan apa yang sudah kamu punya saat ini. Lagi pula, hampir tak ada ajaran doa Baginda Nabi Muhammad Shallahu alaihi wassalam untuk minta kaya. Kalaupun ada, saya hampir yakin, itu tidak banyak dilakukan Nabi. Justru Nabi menolak hadiah harta dan wanita saat ditawari Walid ibn al-Mughirah dengan syarat mau menghentikan dakwah-risalahnya.

Bahkan, suatu ketika Nabi dilempati kerikil oleh kaum Thaif hingga pelipisnya berdarah, lalu berdoa, “In lam takun ghadhiban ‘alayya, fala ubali” (Asal Engkau, Ya Tuhan, tidak murka padaku, aku tak kan peduli).

Begitulah, mentalitas itu pertama, selanjutnya silakan mencari materi. Kesiapan mental tidak akan atau setidaknya susah terwujud sebelum bisa bertaubat. Memaafkan diri sendiri adalah pintu pertama menuju jalan kebahagiaan.

Mungkin ada di antara kita yang bernasib tak baik: broken home, cacat tubuh, direndahkan orang, dan sebagainya. Itu realitanya. Tapi, realita itu netral. Realita menjadi ilusif menyesuaikan dengan bias pemikiran yang ada dalam otak dan mental kita. Reaksi kita tergantung pada persepsi kita sendiri.

Sensualitas tubuh yang dijajakan di mana-mana itu sebetulanya bisa menjadi biasa jika sudah tertanam kuat dalam mental bahwa kulit dan dagingnya tak jauh beda dengan kulit dan dagingn kita. Porno itu kadang bukan urusan otot, tapi isi otak.

Bayangkan, jika tubuhmu dipecah habis-habisan, dipreteli. Terus dipecah sampai ke satuan dzarrah terkecil. Penulis tak tahu persis namanya, sebut saja itu atom. Dari atom itu, tentu saja masih bisa dipecah-pecah lagi, bukan? Maka bayangkan lagi, jika atom itu dipecah, dipreteli, dikrikiti, teruuus begitu sampai pada satu titik keadaan: hampa.

Boleh jadi benar kata biksu Tong itu: isi adalah kosong! Memang hampa itulah isi dunia fana ini. “Fana” bukan saja berarti akan rusak, melainkan kosong, hampa, tak berarti. Kefanaan inilah isi diri kita, benda-benda di sekitar kita, dan isi dunia. Maka, boleh jadi benar lagi kata biksu Tong itu: kosong adalah isi!

Yang tidak fana adalah ruh, jiwa-jiwa abadi, jiwa-jiwa yang tenang, an-nafsu al-muthma`innah. Nirwana!

Konsep eksistensial itulah salah satu pintu spiritual untuk mulai memaafkan diri sendiri: dengan mengingat kefanaan ini, bahwa semua manusia sama, akan mati.

Sabda sang Nabi, “Aktsiru dzikra hadzim al-ladzdzat” (Perbanyaklah mengingat [mati] pemutus kelezatan [dunia]). Untuk mendapat kebahagiaan, justru kita disuruh mengingat hal-hal yang merusak kenikmatan itu.

Tua itu pasti. Kematian juga pasti. Yang sudah berlalu, itu pasti tak kembali. Kebahagiaan karena materi itu tidak pasti. Memaafkan diri sendiri, menerima kesamaan manusia dalam level materi, mengingat mati, adalah pintu-pintu taubat. Demikian itulah salah satu esensi tauhid. (P013/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0