Hakikat Tawakal

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Di antara bukti keimanan seorang hamba adalah rasa tawakalnya yang sepenuh hati hanya kepada Allah Ta’ala. Dia tidak pernah merasa galau dalam menjalani kehidupan yang serba fatamorgana ini. Baginya, kehidupan dunia adalah wasilah saja untuk menjalani kehidupan yang sebenarnya, nanti di akhirat.

Ujian, boleh saja datang silih berganti menghampirinya. Namun, ketergantungan dan kepasrahannya hanya kepada Allah semata. Tidak pernah ia menggantungkan sedikitpun rasa sedih dan gundah gulananya itu kepada selain Allah. Sebab dia tahu dengan pemahaman yang benar bahwa hanya dengan tawakal sepenuh hati kepada Allah sajalah proses perjalanan hidup di dunia ini akan terasa ringan.

Di antara bentuk ketaatan yang agung dan salah satu dari kewajiban dalam ajaran Islam adalah seseorang bertawakal kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam memperoleh kemanfaatan dan menolak bahaya. Juga dalam memperoleh maslahat duniawi dan ukhrawi. Semua hal ini harus diiringi dengan keyakinan yang sempurna bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah satu-satunya yang menjadi pemberi nikmat dan melindungi. Tidak ada yang melindungi kecuali Allah. Dan tidak boleh seorang hamba menjadi sesuatu selain Allah sebagai pelindung, dalam hal-hal yang hanya Allah saja yang mampu.

Allah Ta’ala berfirman, artinya, “(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzammil: 9).

Dia juga berfirman, yang artinya, “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.” (QS. Al-Isra: 2).

Allah Jalla wa ‘Ala memerintahkan kepada para hamba-Nya agar tidak menjadikan penolong dan pelindung selain Dia. Al-Wakil, Maha Pelindung, adalah di antara nama Allah Jalla wa ‘Ala. Maknanya adalah yang melindungi, tempat bersandar, mengurusi segala sesuatu. Karennya Dialah yang terpercaya, tempat berharap, dan yang takuti.

Allah Jalla wa ‘Ala menyebut tawakal dalam kitab-Nya di banyak ayat. Dia memberitahukan kepada kita bahwa tawakal adalah syariat dan jalan hidup seluruh Nabi. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi-Nya Nuh ‘alaihissalam, yang artinya, “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal.” (QS. Yunus: 71).

Bahkan kepada nabi Musa AS, Allah juga berfirman yang artinya, “Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri”. (QS. Yunus: 84).

Tentang Nabi-Nya Syu’aib ‘alaihissalam, yang artinya, “Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88).

Tentang Nabi Hud ‘alaihissalam,

إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلاَّ هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud: 56).

Tentang Nabi-Nya Ya’qub ‘alaihissalam,

يَا بَنِيَّ لاَ تَدْخُلُواْ مِن بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُواْ مِنْ أَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنكُم مِّنَ اللّهِ مِن شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”. (QS. Yusuf: 67).

Tentang Nabi-Nya, al-Khalil, Ibrahim ‘alaihissalam,

إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن شَيْءٍ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”. (QS. Al-Mumtahanah: 4).

Tentang Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٢٨) فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (١٢٩)

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ´Arsy yang agung”. (QS. At-Taubah: 128-129).

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهَا أُمَمٌ لِّتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِيَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَـنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ

“Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat”. (QS. Ar-Ra’d: 30).

Allah menyebutkan tawakal sebagai sifat dari hambanya yang beriman dan juga para walinya. Sebagaimana dalam firman-Nya, yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 2-4).

Tawakal itu tempatnya di hati. Amalan ini terdiri dari dua prinsip yang agung yang harus tertanam di hari seorang hamba, agar ia menjadi seseorang yang bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal. Kedua hal itu adalah:

Pertama: pengetahuan seseorang hamba atau seorang hamba mengilmui bahwa tidak ada pelindung dan tempat bertawakal kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada selain-Nya. Dia adalah Rabba yang Maha Agung, yang mengatur segala sesuatu. Jika ia menghendaki sesuatu terjadi, maka pasti terjadi.

Namun, jika tidak Dia kehendaki, pasti tidak terjadi. Seorang hamba meyakini bahwa Allah mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya, Maha Mendengar apa yang mereka ucapkan, Maha Melihat apa yang mereka lakukan, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Allah Ta’ala berfirman,yang artinya, “Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 217-220).

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, artinya, “dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.” (QS. An-Nisa: 81).

Dan firman-Nya yang artinya, “Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan: 58).

Kedua: Amalan hati, berupa penyandaran diri kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Jangan sampai hati kita hanya bersandar pada usaha dan bergantung sepenuhnya pada usaha tersebut. Hati tetap harus bersandar kepada Allah Jalla wa ‘Ala sambal melakukan usaha untuk mewujudkan kebaikan urusan agama dan dunia.

Tawakal adalah ibadah yang senantiasa hadir di setiap keadaan seorang muslim. Seorang muslim senantiasa bertawakal kepada Allah dalam memperoleh kebaikan dunia, seperti rezeki, kelancaran mata pencarian, dan kemaslahatan-kemaslahatan dunia lainnya.

Tawakal kepada Allah juga akan memberikan dampak yang baik dalam permasalahan agama seseorang. Karena seseorang hamba butuh kepada Allah dalam setiap urusan agamanya. Kebutuhan tersebut tidak terlewatkan walaupun sekejap mata. Ia butuh kepada Allah untuk menegakkan ibadah dan ketaatan, dan lain-lain.

Tawakal kepada Allah Jalla wa ‘Ala jangan diartikan menafikan usaha. Usaha adalah di antara wujud benar dan sempurnanya tawakal seseorang. Oleh karena itu, orang yang paling bertawakal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, memerintahkan agar seseorang berusaha. Melakukan sesuatu agar apa yang ia inginkan bisa terwujud. Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda, “Bersungguh-sungguhlah terhadap segala yang bermanfaat bagimu. Kemudian minta tolonglah kepada Allah. Janganlah kalian lemah.”

Beliau juga bersabda kepada seorang laki-laki yang bertanya tentang ontanya. “Apakah aku ikat dia, kemudian bertawakal kepada Allah? Atau aku biarkan dia?” Beliau bersabda, “Ikatlah, dan bertawakallah kepada Allah.”

Beliau mengajarkan orang tersebut untuk berusaha melakukan sesuatu agar ontanya tidak hilang. Dalam hadits riwayat Tirmidzi, dari Umar bin al-Khattab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, pasti Allah akan memberikan rezeki kepada kalian. Sebagaimana seekor burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan kosong perutnya, lalu pulang di sore hari dalam keadaan penuh.”

Usaha burung tersebut adalah berangkatnya ia di waktu pagi, di awal waktu, untuk mencari dan menjemput rezekinya.

Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu pernah mendengar seseorang yang keluar dari rumahnya tanpa usaha dan perbekalan. Lalu mereka mengatakan, “Kami adalah orang-orang yang bertawakal”. Umar menjawab, “Kalian adalah orang-orang yang pura-pura bertawakal. Orang yang bertawakal kepada Allah adalah mereka yang menyemai benih di tanah, kemudian bertawakal kepada Allah”.

Dari sini dapat diketahui, bahwa tawakal kepada Allah harus disertai dengan usaha yang bermanfaat bagi seseorang, usaha yang menghasilkan. Baik menghasilkan dalam urusan agama maupun urusan dunia. Namun, seseorang juga tidak boleh bergantung kepada usaha tersebut dan yakin sepenuhnya padanya. Wajib baginya tetap yakin kepada Allah semata, tawakal kepada-Nya saja, dan menyerahkan hasil hanya kepada-Nya, wallahua’lam. (A/RS3/B 05)

Mi’raj News Agency (MINA)