Gaza, MINA – Mahmoud Mardawi, pimpinan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), menekankan bahwa masalah Al-Quds akan tetap menjadi isu sentral perjuangan yang tidak dapat dipatahkan.
“Isu Palestina kembali diperbincangkan dengan lantang, bukan sebagai isu politik sesaat, melainkan sebagai masalah pembebasan dan martabat manusia,” ujar Mardawi menyambut Hari Al-Quds Internasional, yang berlangsung Jumat terakhir Ramadhan. Al Resalah melaporkan.
Ia menambahkan bahwa isu Al-Quds selalu diperbarui dengan setiap kejadian berdarah di Gaza, setiap perlawanan yang meletus di Tepi Barat, dan setiap dukungan dan protes di diaspora.
“Persoalan ini belum mati, tetapi malah diperbarui dan diintensifkan kendati ada berbagai upaya pengambilalihan dan pembagian,” ujarnya.
Baca Juga: WFP: Persediaan Makanan di Gaza Tinggal Dua Pekan
Ia menunjukkan bahwa rakyat Gaza sedang mengalami salah satu fase paling brutal dalam sejarah perjuangan mereka, melalui agresi yang berkelanjutan, pembantaian yang berulang, dan krisis kemanusiaan yang menyesakkan di tengah kebisuan internasional.
“Akan tetapi, mereka terus berpegang teguh pada hak-hak mereka, dalam menghadapi mesin pembunuhan dan genosida dengan keteguhan yang tak tergoyahkan dan tekad yang gigih,” imbuhnya.
Ia menambahkan, dalam konteks perlawanan yang terus berlanjut, keyakinan semakin kuat bahwa rakyat Palestina, dari Gaza hingga Tepi Barat, dari wilayah pedalaman yang diduduki hingga kamp-kamp pengungsian dan warga diaspora, berdiri dalam satu barisan dalam melancarkan perlawanan dengan berbagai alat, dengan satu tujuan pembebasan penuh dari pendudukan, kembali ke tanah air, dan pendirian negara merdeka dengan Al-Quds sebagai ibu kotanya.
Ia menegaskan kembali bahwa Al-Quds bukan sekadar ibu kota politik, melainkan simbol keagamaan dan sejarah serta identitas pemersatu bagi seluruh rakyat bangsa Palestina. []
Baca Juga: Warga Gaza Berdemonstrasi Protes Hamas, Benarkah?
Mi’raj News Agency (MINA)