Hamas: Bandar Udara Penting bagi Palestina

Gaza, 19 Rajab 1437/27 April 2016 (MINA) – Anggota Senior Biro Politik Hamas, Musa Abu Marzuq mengatakan, adanya bandar udara di wilayah Gaza penting, namun gagasan pembangunan kembali bandar udara dan pelabuhan laut di Gaza bukan murni usulan Hamas, namun bandara itu sudah ada sebelumnya.

“Untuk memberikan hukuman kepada Gaza,  maka bandara tersebut dihancurkan.  Sementara pelabuhan laut sudah ada sebelum Israel menjajah,” katanya dalam sebuah pernyataan di Gaza, Selasa (26/4), demikian laporan The Palestinian Information Center (PIC) dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Dalam catatannya berjudul “Respon atas apa yang terjadi di tempat terjajah”, Abu Marzuq menegaskan bahwa semua proyek di Palestina terkait pelabuhan laut di Gaza terhubung dengan Tepi Barat dan Yordania melalui Laut Meditrania.

“Tidak mungkin pelabuhan dan bandara udara menjadi alat memisahkan Gaza dari Tepi Barat. Hamas berpandangan bahwa tidak ada negara di Gaza dan tidak ada negara tanpa Gaza serta komitmen mempertahankan rekonsiliasi dan persatuan nasional meski banyak rintangan,” paparnya.

Ia menegaskan, pelabuhan itu telah membuat warga Gaza gembira dan merasa bebas dari belenggu sehingga tak mungkin gagasan itu mereka tolak. Pelabuhan itu bukan untuk mendirikan pemerintah atau negara sendiri, bukan pula memisahkan diri dari Tepi Barat atau untuk meninggalkan proyek nasional dalam membebaskan tanah mereka dan kembali ke kampung halaman mereka.

“Itu semua dalam rangka hak kemanusiaan yang diingkari oleh banyak pihak,” tegasnya.

Lebih jauh, Abu Marzuq mempertanyakan pihak-pihak yang mempersoalkan pembangunan kembali bandar udara dan pelabuhan laut di Gaza.

“Apa kepentingan Turki dan Qatar membangun pelabuhan di Gaza? Saya bisa bisa katakan, ada 2 juta manusia hidup dalam blokade selama 10 tahun, tanyakan kepada mereka, apakah pelabuhan itu tuntutan rakyat atau tuntutan Hamas?” katanya mempertanyakan.

Di akhir pernyataannya, Abu Marzuq menyatakan, bahwa tak mungkin bisa mewujudkan persatuan antara Tepi Barat dan Gaza, sementara saat ini Gaza diblokade  dan warganya dilarang untuk berhubungan dengan dunia luar.

“Tak mungkin itu terwujud bila warga Gaza  tetap diblokade, ditenggelamkan dalam pengangguran, persoalan listrik dan gaji pegawai,” pungkasnya. (T/P011/R05)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)