Hamas: Upaya Yahudisasi Israel di Al-Quds Pasti Gagal

Al-Quds, MINA – Gerakan Perlawanan Palestina Hamas menyerukan untuk pemberlakuan kebijakan nasional yang komprehensif di mana semua kemampuan dimanfaatkan untuk mendukung, mempertahankan dan melindungi Kota Al-Quds.

Hamas menegaskan bahwa upaya otoritas pendudukan Israel untuk mengubah karakter geografis dan demografis Al-Quds pasti akan gagal.

Pernyataan Hamas tersebut dikeluarkan menyikapi pengumuman yang disampaikan oleh pemerintah kota otoritas Israel di kota Al-Quds untuk memulai pelaksanaan proyek yang menghubungkan permukiman-permukiman Yahudi di Al-Quds ke semua bagian wilayah yang diduduki Israel tahun 1948 melalui jalur kereta cepat.

“Ini adalah sebuah proyek kolonial baru yang menambah rangkaian proyek yahudisasi terhadap kota Al-Quds,” tegas Hamas dalam keterangan tertulisnya, Kamis (31/12).

Hamas menegaskan proyek kereta api cepat tersebut bertujuan menghubungkan semua permukiman di utara dan selatan Al-Quds dengan pergerakan kereta api di Tel Aviv, Jaffa dan Haifa yang ada di wilayah Palestina yang diduduki Israel tahun 1948.

“Proyek ini menyoroti desakan pendudukan Israel untuk memberlakukan status quo di lapangan dan tekadnya untuk melanjutkan rencana Yahudisasi dengan memaksakan kedaulatan penuh Israel di Yerusalem yang diduduki, memisahkannya dari Tepi Barat yang diduduki, dan mengubah situs bersejarah, Arab, dan Islamnya, seperti yang direncanakan dalam Kesepakatan Trump Abad Ini,” tulis pernyataan sikap Hamas.

Hamas juga menegaskan, Al-Quds harus menjadi yang pertama dalam semua kebijakan, program, dan dana Palestina, dan harus menjadi perhatian PLO dan Otoritas Palestina, faksi dan semua kekuatan sertaomponen masyarakat sipil Palestina.

Ini harus berjalan sesuai dengan kebijakan nasional yang komprehensif di mana semua kemampuan dimanfaatkan untuk mendukung, mempertahankan dan melindungi Al-Quds.

Hamas telah menyatakan penolakannya atas semua proyek permukiman Israel dan yahudisasi di tanah Palestina yang diduduki penjajah Israel, terutama kota al-Quds, ibu kota negara Palestina.

“Kota al-Quds akan tetap menjadi identitas Palestina, Arab, Islam, dan menjadi bagian integral dari sejarah Palestina,” tegas Hamas.

Hamas mengatakan, meningkatnya serangan permukiman yang sengit di Al-Quds adalah hasil dari perjanjian normalisasi antara beberapa negara Arab dan entitas Zionis, yang telah meningkatkan nafsu penjajah Israel mencaplok lebih banyak lagi wilayah Palestina ke dalam entitas Zionis, sebagaian bagian dari rencana yang disebut “Israel Raya”.

Hamas meminta warga Palestina di Al-Quds dan Palestina yang diduduki Israel tahun 1948 untuk memperkuat keberadaan dan ikatan mereka dengan Masjid Al-Aqsha, yang berkontribusi pada kegagalan rencana-rencana Zionis.

Hamas menyerukan kepada orang-orang Palestina yang tinggal di wilayah pendudukan 1948 untuk mengunjungi dan tinggal di Masjid Al-Aqsa dalam upaya memblokir segala rencana-rencana Israel meyahudisasikan kota Al-Quds.

“Kami menyerukan kepada Otoritas Palestina untuk memikul tanggung jawabnya terhadap Kota Al-Quds dengan mendukung rakyat Palestina di sana melawan rencana ekspansi dan permukiman Israel,” ujarnya.

Hamas menyerukan kepada para pemimpin Arab dan Umat Islam untuk mengambil sikap serius terhadap proyek pemukiman Israel di Yerusalem yang diduduki.

Mereka juga harus mendukung ketabahan penduduk Palestina di Yerusalem dengan segala cara yang memungkinkan dan pada bidang ekonomi, media dan budaya.

“Kami menuntut komunitas internasional dan Uni Eropa untuk menekan pendudukan Israel untuk menghentikan proyek kolonialnya di Kota Al-Quds yang diduduki yang ilegal menurut hukum internasional,” pungkasnya. (T/R1/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)