Haniyah: Al-Quds Akan Jadi Titik Poros Wujudkan Kemenangan Besar

Doha, MINA – Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Ismail menegaskan, Kota akan menjadi titik poros untuk mewujudkan kemenangan besar dan pembebasan tanah .

Hal tersebut disampaikan Haniyah dalam pidatonya pada Forum Ilmiah Internasional Ketiga pada peringatan pembakaran Masjid Al-Aqsha ke-52, Sabtu (22/8), PIP melaporkannya.

Dia menegaskan, pertempuran Saif Al-Quds (Pedang Al-Quds) adalah pintu gerbang menuju pembebasan. Pertempuran Al-Quds merupakan titik balik penting dalam perjalanan konflik dengan penjajah Israel, titik balik yang akan meninggalkan dampak mendalam pada runtuhnya pendudukan Israel.

“Allah telah membimbing kita untuk mengambil keputusan untuk mempertahankan Masjid Al-Aqsha dan Al-Quds pada waktu dan cara yang tepat selama pertempuran Saif Al-Quds,” tegasnya.

Dia menjelaskan, pertempuran Saif Al-Quds membawa semua orang ke tahap yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah konflik dengan penjajah Israel.

Dia menyatakan, selama pertempuran Saif Al-Quds, perlawanan Palestina berhasil menggagalkan strategi militer yang diadopsi oleh tentara pendudukan Israel selama beberapa tahun terakhir.

Haniyah juga menegaskan, Al-Quds tidak bisa jatuh selama ada jiwa yang berjihad, pemimpin terpercaya, orang-orang yang bersiaga, dan umat yang masih terikat dengan kiblat pertamanya.

“Konflik dengan pendudukan Israel di tanah Palestina bukanlah konflik perbatasan, melainkan konflik eksistensi, serta merupakan konflik agama dan ideologi,” tegasnya.

Dia menjelaskan, Saif al-Quds membuktikan bahwa opsi perlawanan adalah opsi strategis untuk pembebasan Palestina, bukan negosiasi atau pengakuan. Haniyah menyatakan, opsi negosiasi telah menghasilkan lebih banyak kebingungan yang menyesatkan dan pelaksanaan proyek-proyek permukiman Yahudi, serta membunuh semangat gerakan perlawanan di Tepi Barat, dan menghasilkan kerjasama keamanan dengan pendudukan Israel.

Kepala Biro Politik Hamas ini menambahkan, ketika rakyat Palestina memutuskan untuk membela Bab Al-Amud dan kampung Syaikh Jarrah, mereka ingin menegaskan bahwa jalan terpendek menuju pembebasan adalah perlawanan menyeluruh, terutama perlawanan bersenjata di Tepi Barat, Gaza, Al-Quds, wilayah pendudukan tahun 1948 dan diaspora.

“Tidak mungkin persatuan dapat dicapai dengan mengorbankan Al-Quds, atau mengorbankan perjuangan, atau mengorbankan hak-hak rakyat Palestina,” pungkasnya. (T/R1/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)