London, MINA – Harga minyak mentah Brent turun ke US$89,45 per barel pada perdagangan Kamis (30/7) berdasarkan harga di ICE Futures Europe.
Investor menilai kondisi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga energi global.
Penurunan harga terjadi setelah muncul harapan bahwa ketegangan antara Washington dan Teheran tidak akan berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Meski demikian, pasar masih menunggu kepastian mengenai langkah diplomatik maupun kebijakan kedua negara dalam beberapa waktu ke depan.
Baca Juga: Hakim Prancis Selidiki Aduan Kejahatan Perang Tentara Israel di Lebanon
Analis energi menilai volatilitas harga minyak masih akan tetap tinggi karena kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia.
Selain itu, Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran strategis bagi sekitar seperlima perdagangan minyak global masih menjadi perhatian pelaku pasar apabila terjadi eskalasi konflik.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak sempat melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan militer di kawasan. Namun, harga kembali terkoreksi setelah muncul sinyal meredanya eskalasi dan adanya peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Pergerakan harga minyak dunia turut menjadi perhatian negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Fluktuasi harga minyak berpotensi memengaruhi biaya impor, nilai tukar, inflasi, hingga beban subsidi energi apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Pelaku pasar kini akan terus memantau perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran serta berbagai indikator ekonomi global yang dapat memengaruhi permintaan energi. Selama ketidakpastian geopolitik masih berlangsung, harga minyak diperkirakan tetap bergerak fluktuatif mengikuti dinamika pasar. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
















Mina Indonesia
Mina Arabic