Hari Buruh Melawan Donald Trump

Aksi protes pada Hari Buruh Internasional di Washington, Senin, 1 Mei 2017. (Foto: Yin Bogu/Xinhua)

 

Puluhan ribu aktivis hak asasi buruh dan imigran turun ke jalan kota-kota Amerika Serikat (AS) untuk memperingati Hari Buruh Internasional. Peringatan Hari Buruh kali ini dihiasi penangkapan dan bentrokan di beberapa lokasi.

Hari Buruh Internasional yang juga dikenal sebagai May Day diperingati setiap tanggal 1 Mei sejak diperkenalkan pada akhir abad ke-19. Bagi kelompok kiri dan buruh Amerika, hari ini melambangkan sejarah perjuangan untuk hak-hak pekerja.

Tahun ini, Hari Buruh diasumsikan sangat penting, karena gerakan kali ini melawan presiden sayap kanan AS Donald Trump.

Sebuah gerakan bernama Movimiento Cosecha digelar di jalanan memperjuangkan hak-hak sekitar 11 juta orang yang tidak berdokumen di AS. Gerakan ini mengumpulkan para aktivis untuk melakukan pemogokan nasional dan menyerukan pula ‘Hari Tanpa Imigran’ di hari yang sama.

Di Portland, Negara Bagian Oregon, polisi mencabut izin demonstrasi ketika demonstran anti-fasis, atau Antifa, melawan petugas, melempar mobil polisi dan melemparkan bom molotov.

Polisi menembakkan granat setrum, peluru baja berlapis karet dan menangkap puluhan demonstran.

Sementara di sisi lain, kelompok aktivis lainnya, Dewan Koordinasi Anarkis Metropolitan (MACC), mengadakan serangkaian demonstrasi di New York City. Pada Senin (1/5) siang, MACC dan kelompok sayap kiri anti-otoriter lainnya berkumpul di sebuah blok anti-fasis untuk sebuah demonstrasi besar di Union Square.

Pendukung Trump dan anggota gerakan Alternative Right (alt-right) melakukan penggangguan di Union Square dan bentrok dengan Antifa serta pemrotes lainnya. Di tempat lain di kota yang sama, setidaknya 32 orang ditangkap saat demonstrasi diwarnai konfrontasi di kota tersebut.

May Day ini penting, tidak hanya melawan, tapi untuk menunjukkan bahwa gerakan ini tidak dapat ditekan,” kata juru bicara MACC Matthew Whitley kepada Al Jazeera.

Aksi protes buruh dan imigran di Hari Buruh Internasional memprotes kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Senin, 1 Mei 2017. (Foto: Gabrielle Lurie/The Chronicle)

 

Di malam hari, MACC mengadakan demonstrasi solidaritas untuk para tahanan di luar Pusat Pemasyarakatan Metropolitan. Mereka membuat kebisingan sebanyak mungkin sehingga orang-orang yang terkunci di dalam penjara bisa mendengarnya.

“Yang utama dari May Day ini tentang pekerja yang paling dieksploitasi dan terpinggirkan, yaitu imigran, imigran berdokumen dan yang dipenjara,” kata Whitley.

Di Los Angeles, Negara Bagian California, diperkirakan sebanyak 15.000 orang berpartisipasi dalam demonstrasi Hari Buruh. Sementara demonstrasi serupa dipentaskan di San Francisco dan Oakland, serta kota-kota lainnya di negara bagian itu.

Di Grand Rapids, Negara Bagian Michigan, lebih dari 4.000 orang bergerak.

Sementara di Homestead, Negara Bagian Florida, setidaknya seribu orang turun ke jalan.

Mengikuti tradisi pendahulunya, Barack Obama dan presiden sebelumnya, Presiden Trump menyatakan 1 Mei sebagai “Hari Loyalitas”. Dalam sebuah proklamasi yang dirilis pada hari Jumat, 28 April 2017, Trump mengatakan, “Amerika Serikat berdiri sebagai pemimpin dunia dalam menegakkan cita-cita kebebasan, persamaan dan keadilan.”

Direktur nasional organisasi Sosialis Demokratik Amerika (DSA) Maria Svart mengatakan bahwa kelompok tersebut memperingati Hari Buruh Internasional setiap tahun. Namun peringatan tahun ini, terjadi pada saat yang penting. Di tahun ini, anggota DSA telah berkembang dari 5.000 orang menjadi lebih dari 20.000 orang sejak Trump terpilih.

May Day, Hari Buruh Internasional, adalah kesempatan untuk mengingatkan diri kita sendiri, juga bos, bankir dan pembuat kebijakan bahwa kita tidak perlu mendapatkan perlakuan seperti ini lagi,” katanya kepada Al Jazeera, mengacu pada ketidaksamaan sosioekonomi.

Menurutnya, kelompok sayap kanan dan Trump memilih untuk membuang satu orang pekerja, yaitu imigran, di bawah bus. Trump menggunakan stereotip lama yang menganggap orang-orang berkulit warna lebih malas daripada orang kulit putih.

Alternatif Sosialis, sebuah partai sayap kiri nasional, mengalami lonjakan keanggotaan juga sejak Trump terpilih sebagai presiden. Mereka meminta Hari Buruh Internasional diperingati dengan pemogokan secara nasional.

Kshama Sawant, seorang pemimpin Partai Alternatif Sosialis dan anggota dewan kota di Seattle, mengatakan bahwa AS sedang mengalami “kesempatan bersejarah” karena kemarahan terhadap Trump tumbuh dan membuat gerakan progresif yang lebih luas.

Alternatif Sosialis menyerukan pembebasan semua tahanan imigran dan pembatalan rencana membangun tembok di perbatasan Meksiko. Mereka juga mendukung seruan mogok kerja di Hari Buruh.

“Sehari setelah Trump terpilih, hampir semua orang tertegun,” kata Sawant dan menyinggung tentang serangkaian protes sejak pelantikan Trump pada 20 Januari 2017 dengan fokus pada isu hak perempuan atas ilmu pengetahuan.

Selama akhir April 2017, puluhan ribu orang berbaris dalam demonstrasi untuk memprotes kebijakan lingkungan Trump.

Pada bulan Februari, demonstrasi massa juga terjadi menentang pencalonan Andrew Puzder untuk jabatan Sekretaris Tenaga Kerja oleh Trump. Aksi itu memaksa Puzder mundur dari nominasinya. Di antara yang didemonstrasikan adalah kampanye Fight for $15, sebuah gerakan akar rumput yang menuntut agar upah minimum federal dinaikkan menjadi $15 per jam.

Ketika Presiden Trump memperkenalkan “larangan Muslim”, yaitu pembatasan imigrasi dan kunjungan warga dari tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim, demonstrasi dan pembangkangan sipil terjadi di bandara di seluruh negara. Aksi protes itu memainkan peran penting dalam menjegal kebijakan kontroversial Trump. (RI-1/P2)

Sumber: tulisan Patrick Strickland di Al Jazeera

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)