Hari Pahlawan, Jaringan Mahasiswa Kota Gelar Aksi

Banda Aceh, MINA – Bertepatan dengan Momentum Hari Pahlawan 10 November 2018, Jaringan Mahasiswa Kota (JMK) menggelar aksi di Bundaran Simpang Lima Banda Aceh.

JMK menuntut agar pemerintah lebih peduli kepada masyarakat dan mampu mensejahtrakan masyarakat. Keinginan ini dianggap relevan dengan keinginan para pahlawan dahulu saat berjuang mempertahankan negara ini dari penjajahan.

“Keinginan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita adalah agar bangsa ini menjadi bangsa bermartabat yang rakyatnya hidup dengan layak. Itulah yang yang mereka inginkan sebagai hasil dari sebuah perjuangan yang sampai saat ini belum mampu diwujudkan,” kata juru bicara aksi, Ninis Arieska, Sabtu (11/10).

Ia,  menambahkan, aksi ini diadakan guna mengingat kembali cita-cita para pahlawan hal yang harus dilakukan adalah terkait kesejahteraan bangsa apalagi di tengah persoalan bangsa yang sedang carut marut sepertu saat ini.

Ninis mengatakan, bangsa Indonesia saat ini sedang terjangkit banyak penyakit seperti penyakit ekonomi, kelangkaan BBM subsidi berjenis Premium, kelangkaan tabung gas subsidi 3 kg, penyakit sosial dan budaya.

“belakangan ruang publik juga dipenuhi dengan kisruh yang mengancam persatuan, kita merasa takut untuk berpendapat, keadaan bangsa ini seperti meninggalkan semangat demokrasi yang menjadi buah perjuangan reformasi untuk hidup rukun dan penuh toleransi,” pungkasnya.

Ninis juga mengatakan, saat ini masyarakat sulit untuk mengatakan sebuah kebenaran karena rentan disebut tidak pancasilais dan dianggap makar.

Selain itu juga persoalan kesenjangan yang semakin tinggi antara si kaya dan si miskin serta penyakit politik Pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya sedang berusaha untuk melindungi kepentingan kroni-kroni asing.

Banyak perusahaan multi-nasional dan pengusah-pengusaha besar yang diuntungkan dengan paket kebijakan mengatasi pelemahan rupiah terhadap dolar.

Sebut saja seperti penghapusan PPN dan insentif pajak untuk para investor. Serapan tenaga kerja di sektor swasta dan UMKM sepertinya absen dari perhatian pemerintah.

“Padahal serapan tenaga kerja yang lebih banyak justru mampu menumbuhkan iklim perekonomian rakyat itu sendiri. Fakta di lapangan untuk mendapatkan pekerjaan di negeri sendiri pun kami harus bersaing dengan orang asing,” sebut Ninis (L/AP/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)