Hari Pertama Pesantren Kilat Ramadhan Masjid Istiqlal Dihadiri Ratusan Peserta

Jakarta, 19 Ramadhan 1437/24 Juni, 2016 (MINA) – Masjid Istiqlal Jakarta mengadakan Pesanten Kilat Ramadhan 2016 hari pertama gelombang ke-1  dan dihadiri sekitar 300 peserta siswa dan siswi dari berbagai wilayah di sekitar Jakarta. Bahkan ada yang datang dari Bandung, Jawa Barat.

“Mereka sangat antusias, mereka datang sudah dari pagi-pagi,” ujar Akbar Zainuddin, Kepala Bidang Diklat Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI) saat ditemui Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Masjid Istiqlal Jakarta, Jum’at, (24/6) siang.

Peserta Pesantren Kilat Ramadhan 2016 Masjid Istiqlal hanya dibatasi hingga 1.000 orang karena kapasitas ruangan yang tidak mencukupi dan acara itu dibagi menjadi 3 gelombang. Gelombang pertama pada hari ini hingga 25 Juni 2016, gelombang 2 pada tanggal 25-26 Juni, dan gelombang 3 pada 26-28 Juni.

Baca Juga:  Tokoh Pers Prof Salim Said Meninggal Dunia

“Dari 300 orang dibagi-bagi menjadi 20 kelompok, dan masing masing kelompok terdiri dari 15 sampai 17 orang dipimpin oleh mentornya masing-masing. Setiap peserta akan menghafal dan tadarus Al-Quran setiap salat berjamaah, malam ini juga ada dongeng Islami. Di akhir, mereka juga akan menulis jurnal pelajaran apa yang mereka dapat hari ini, dan apa yang akan dilakukan dikemudian hari,” katanya.

Zainuddin menambahkan, tujuan diselenggarakannya pesantren kilat ini untuk mendekatkan para pemuda dan pemudi kepada masjid, melihat tantangan remaja sekarang itu kan semakin kompleks. Mereka dihadapkan dengan era informasi yang begitu masif.

“Mengenalkan remaja kepada masjid, khususnya Masjid Istiqlal, agar mereka terbiasa untuk dekat dengan masjid. Kita membiasakan shalat berjamaah lima waktu di masjid. Selain itu adalah pembinaan karakter dan pengembangan mental positif agar menjadi remaja yang shalih-shalihah, dan kreatif,” katanya.

Baca Juga:  Sudah 164 Calon Santri Ponpes Al-Fatah, Pendaftaran Masih Dibuka

“Internet telah mengubah banyak hal, dan tidak bisa dihindari karena menjadi keniscayaan. Yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir dampak negatifnya dengan cara apa? Menguatkan sensor pribadi mereka dengan iman dan karakter yang kuat. Kalau iman dan karakter mereka kuat, tantangan seberat apapun akan bisa mereka hadapi,” tambahnya. (L/M09/P001)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA))

Wartawan: habibi

Editor: Rudi Hendrik