HARI VALENTINE BUDAYA SYIRIK DAN MAKSIAT BERKEDOK KASIH SAYANG

afta peci putih
Ali Farkhan Tsani (Dokpri)

oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency)

Pengantar

Tanggal 14 Februari dikenal dengan Hari Valentine (Valentine’s Day) atau disebut dengan Hari Kasih Sayang. Disebut Hari Kasih Sayang karena pada tanggal tersebut pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran di dunia Barat, dan kini merambah ke negara-negara berkembang dan negara-negara Islam, termasuk Indonesia, merayakan cinta dan kasih sayangnya.

Pada Hari Valentine itulah pasangan remaja mengungkapkan perasaan cintanya melalui saling bertukaran benda bersimbol Valentine, seperti : kartu berbentuk hati dan gambar bersayap.

Bahkan, Asosiasi Kartu Ucapan AS (The Greeting Card Association) memproduksi kartu ucapan Hari Valentine, yang merupakan hari raya terbesar kedua agama Kristen setelah Natal  secara massal ke seluruh dunia. Diperkirakan tersebar sekitar satu miliar kartu valentine per tahun.

Lambat laun, bukan hanya tukar kartu ucapan, namun juga tukar pemberian berbagai macam hadiah, biasanya oleh kaum pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar, cokelat, perhiasan dan lainnya. Hingga kemudian tukar nafsu syahwat melalui janji saling kencan di malam Valentine.

Survey membuktikan, ternyata bukan hanya remaja muda-mudi dan sebagian orang tua muda, ternyata anak-anak usia SD pun banyak yang merayakan Hari Valentine tersebut dengan memberikan hadiah special untuk teman sekelasnya. Bahkan mengucapkan cintanya serta bermaksud menjadikannya sebagai pacaranya.

no valentineSejarah Valentine

Han Hoo Lie atau lebih dikenal dengan Ustadzah Irene Handono, alumni Institut Filsafat Teologia, sekaligus juga belajar menjadi seorang biarawati, lalu menjadi Muslimah, dan kini da’iyah, mengatakan, Hari Valentine kini sudah menjadi budaya modern remaja.

Padahal menurutnya, dari sisi sejarah maupun misi utama perayaannya, merupakan nilai-nilai ajaran Kristen. Antara lain ada yang menyebutkan, awalnya adalah dari nama Santo Valentine, asalnya pemuda bernama Valentino, yang meninggal tanggal 14 Februari 269 M. Ia mati menjalani hukuman eksekusi Raja Romawi Claudius II (265-270 M).

Santo Valentine dieksekusi karena menentang ketetapan raja, yaitu memimpin gerakan menolak wajib militer, dan memerintahkan mengawinkan pasangan muda-mudi yang justru terlarang.

Dalam versi lainnya, Irene menyebutkan, Valentine terkait dengan penyembahan dewa-dewi pada zaman Athena Kuno pada pekan perayaan yang berlangsung tanggal 13 hingga 18 Februari.

Puncak penyembahan berlangsung tanggal 13-14 Februari, dengan acara ritual persembahan untuk Dewi Cinta Juno Februata. Pada puncak acara tersebut dilangsungkan lotre pasangan (Love Lottery), di mana para wanita muda memasukkan nama mereka ke sebuah bejana. Kemudian para pria mengambil satu nama dalam bejana itu, dan nama yang terpilih akan menjadi kekasihnya selama festival persembahan berlangsung.

Untuk menarik masyarakat masuk ke gereja, maka diadopsilah perayaan penyembahan berhala tersebut oleh Paus Gelasius pada tahun 469 M. ke dalam ajaran Saint Valentine’s Day. Hingga akhirnya diresmikanlah sebagai Hari Valentine sejak 14 Februari 498 M.

“Kini perayaan itu semakin mendunia menjadi ajang pergaulan bebas kaum muda, yang terang-terangan sebagai misi pendangkalan akidah generasi muda Islam,” ujar Irene.

Samuel Zweimer dalam Konferensi Gereja di Quds tahun 1935 mengatakan, misi utama Hari Valentine adalah untuk menjadikan generasi muda Muslim yang semakin jauih dari Islam, menjadi generasi yang hanya mengejar kepuasan hawa nafsu.

Acehnese Ulema forbid celebrating valentine for a Muslim, because it is considered as a celebration of another religion and not in accordance with the teaching of IslamMaksiat Terang-Terangan

Hari Valentine kini telah menjadi bentuk pesta hura-hura, simbol modernitas, sekedar simbol cinta, glamour, dan sudah mulai bernuansa pergaulan bebas bahkan seks bebas.

Banyak muda-mudi yang mengadakan pesta Valentine hanya karena ikut-ikutan supaya tidak dibilang ketinggalan zaman atau tidak gaul, seakan-akan telah menyandang predikat sebagai orang yang modern dan maju.

Ustadz Muhammad Abduh Tausikal,M.Sc. menegaskan, kini banyak remaja Muslim tidak mengetahui bagaimanakah sejarah Hari Valentine. Karena ketidaktahuan dan cuma asal ikut-ikutan trend, juga supaya mau dikatakan gaul, akhirnya mereka pun merayakannya.

Di antara mereka saling memberi kado, lebih-lebih pada orang yang dikasihi. Maka kita lihat coklat dan berbagai souvenir laris manis di hari tersebut.

Ustadz Asrorun Niam Sholeh, dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengingatkan kepada umat Islam agar Hari Valentine jangan sampai dijadikan ajang maksiat, ajang pembolehan segala sesuatu yang dilarang oleh agama dan moral.

Al-Hasan Nasution, salah seorang aktivis Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menyerukan kepada generasi muda Islam untuk tidak ikut-ikutan larut terjerumus kepada budaya kebarat-baratan, hedonisme dan konsumeristik dengan perayaan Valentine.

Menurutnya, perayaan Valentine sangat bertentangan dengan agama, sosial, adat budaya dan kesusilaan, hanya sarana maksiat berkedok kasih sayang.

Hukum Valentine

Mudzakarah Jawatan Kuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-71 yang bersidang pada 22-24 November 2005 telah membincangkan Hukum Orang Islam Menyambut Perayaan Valentine’s Day.

Mudzakarah berpandangan bahwa  amalan merayakan Valentine’s Day tidak pernah dianjurkan oleh Islam. Roh perayaan tersebut mempunyai unsur-unsur Kristian dan amalannya yang bercampur dengan perbuatan maksiat adalah dilarang oleh Islam.

Landasan hukum Islam sangat jelas dalam hal melarang umatnya meniru atau menyerupai budaya dan cara hidup orang bukan Islam. Ini berdasarkan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

 مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (H.R. Abu Daud dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ’Anhu).

Di dalam Al-Quran antara lain disebutkan:

 أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُہُمۡ لِذِڪۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡہِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُہُمۡ‌ۖ وَكَثِيرٌ۬ مِّنۡہُمۡ فَـٰسِقُونَ

Artinya : “Dan janganlah mereka (kaum mukminin) seperti orang-orang telah diturunkan Al Kitab sebelumnya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Al-Hadid [57] : 16).

Imaam Ibnu Katsir berkata saat menafsirkan ayat tersebut bahwa Allah telah melarang kaum mukminin untuk menyerupai kepada mereka dalam perkara apapun, baik yang sifatnya prinsipil maupun yang hanya merupakan perkara cabang.

Dasar ayat lainnya adalah :

 وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ‌ۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولاً۬

Artinya : “Dan janglah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (Q.S. Al-Isra [17] : 36).

Pada sisi lainnya, umumnya acara Valentine Day diadakan dalam bentuk pesta pora dan huru-hara. Ini juga sangat bertentangan dengan peringatan Allah :

 إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٲنَ ٱلشَّيَـٰطِينِ‌ۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَـٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورً۬ا

Artinya : “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Q.S. Al Isra [17] : 27).

Ketua MUI Pusat K.H. Amidhan menegaskan, Valentine merupakan budaya barat dan bertentangan dengan budaya Muslim. Apalagi, itu untuk ajang menghalalkan pergaulan bebas.

Menurutnya, saling menumbuhkan kasih sayang kepada sesama manusia merupakan ajaran Islam, tetapi tidak seperti hari Valentine. Justru, agama Islam sangat mengajarkan untuk menjaga silaturahmi dan menumbuhkan rasa kasih sayang antarsesama dalam sepanjang hari.

Penutup  

Generasi muda Muslim khususnya perlu menghayati ada apa di balik perayaan Hari Valentine, yaitu ajang pemurtadan melalui berbagai cara.

Memang, boleh jadi KTP-nya tetap tercantum agama Islam, namun perilakunya tidak lagi sesuai ajaran Islam, namun mengikuti tatacara Yahudi dan Nasrani.

Firman Allah mengingatkan :

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَہُودُ وَلَا ٱلنَّصَـٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَہُمۡ‌ۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰ‌ۗ وَلَٮِٕنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِى جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ‌ۙ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّ۬ وَلَا نَصِيرٍ

Artinya : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan  mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 120)

Begitulah, jika tidak hati-hati, maka akan muncul generasi-generasi pengekor, generasi yang akan mengikuti ajaran dan perilaku agama lain.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan dalam sabdanya :

 لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

Artinya :Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?(H.R. Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Alanglah baiknya jika generasi muda Muslim, remaja-remaja putera-puteri mengisi aktivitas dengan kegiatan yang positif, bermanfaat dan syar’i, dengan berbagai kemasan yang tidak kalah menariknya.

Sehingga menjadi generasi yang berkepribadian dan berkarakter Islam serta tidak mudah ikut-ikutan perilaku, budaya dan perkataan di luar ajaran Islam. Apalagi sampai menjurus pada perbuatan syirik dan maksiat yang merusak akidah. (T/P4/P3).

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0