Harta, Fitnah Umat Manusia

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Tidak bisa dipungkiri, memiliki harta adalah sebuah keinginan bagi setiap manusia. Wasilah (perantara) harta, seorang muslim bisa lebih banyak melakukan amal ibadah yang memerlukan harta, misalnya seperti sedekah, membayar zakat dan pergi haji atau membantu muslim lainnya yang memerlukan bantuan.

Namun, di sisi lain, harta adalah fitnah bagi manusia. Betapa banyak orang yang pecah persaudaraan dan persahabatannya karena masalah harta. Betapa banyak keluarga yang pecah berantakan hanya karena harta. Harta memang meninggalkan fitnah yang kejam. Permusuhan yang ditimbulkan akibat fitnah harta bisa sampai tujuh turunan belum juga selesai.

Maka tak heran, jauh sebelumnya Rasulullah SAW bersabda mengingatkan umatnya tentang fitnah harta ini,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umatku adalah harta.”  (HR. Tirmidzi No. 2336 dan Ibnu Hibban No. 3223)

Rasulullah SAW menegaskan, harta akan menjadi fitnah besar bagi umat Islam sehingga bisa merusak dan meluluh lantakkan semua sendi kehidupan. Banyak yang terkapar seperti orang sakit dan menjadi hinaan umat lain. Akal dan hati teracuni dan dikendalikan oleh harta. Akibatnya, kondisi orang yang terbelunggu oleh hartanya semakin lemah.

Allah Ta’ala pun sudah mengingatkan bahwa harta ini adalah fitnah berat bagi hamba-hamba-Nya. Allah SWT. Berfirman,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”   (Qs. Al-An faal : 28).

Dalam Qur’an surat al Baqarah ayat 155 Allah Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Ayat ini menyebutkan mengenai harta sebagai salah satu ujian bagi manusia, Allah memberikan karunia-Nya berupa harta, tidak hanya sebagai anugerah namun juga sebagai bald’ (ujian), untuk mengetahui apakah hamba-Nya termasuk orang-orang yang bersyukur atau termasuk orang yang kufiir.

Syaikh al-Mubarakfuri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, maksudnya kesesatan dan kemaksiatan; dan ujian umat ini adalah harta, maksudnya harta menyebabkan kelalaian. Karena harta bisa melalaikan fikiran dari ketaatan dan bisa menyebabkan lupa akhirat.”

Ujian berupa harta akan menampakkan jati diri seorang muslim, akan menguji kesungguhannya dalam berpegang teguh kepada syari’at, mempertahankan kesucian jiwa serta akan menguji tekad seorang mukmin untuk tetap berpegang dengan ajaran yang haq. Ataukah akan menyerahkan seseorang kepada ketamakan nafsu, sehingga rela menukarkan agama dengan dunia, gandrung kepadanya yang kemudian berlanjut dengan membuat berbagai kerusakan di muka bumi ini.

Rasulullah SAW bersabda, “Kerusakan pada sekawanan kambing akibat dua srigala lapar yang dilepaskan padanya tidak lebih parah dibandingkan kerusakan pada agama seseorang akibat kerakusannya terhadap harta dan kemuliaan.”(HR. Tirmidzi, No. 2376; dan Ahmad 3/456).

Maka sudah selayaknya, jangan biarkan diri kita diperbudak oleh harta yang kelak akan menyusahkan kita sendiri di yaumil hisab.Dari Abu Hurairah Ra. Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah hamba (orang yang diperbudak) dinar, dirham, beludru dan kain bergambar. Jika dia diberi dia ridha, jika tidak diberi dia tidak ridha.” (HR. Bukhari No. 2886).

Demi mengumpulkan harta manusia saling berlomba, saling mengejar, dan tidak jarang saling menjatuhkan demi memperebutkan “nasib” dunianya. Hidup menjadi ajang persaingan yang pemenangnya ditentukan oleh banyaknya harta dan kekayaan. Nasib baik dan keuntungan didasarkan pada perolehan materi semata.

Kecenderungan inilah yang membuat manusia kerap lupa bahwa ada hak Allah yang harus ditunaikan dalam sikapnya terhadap harta. Padahal manusia tidak dibenarkan bersikap rakus, sombong dan berlebih-lebihan dengan harta. Harta merupakan karunia Allah yang seharusnya disyukuri dengan cara mengusahakan harta itu dari jalan yang halal dan membelanjakannya pada jalan yang juga diridhoi Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا ذئبان جَائِعَانِ أُرسِلاَ في غَنَمٍ بأفسَدَ لها مِنْ حِرصِ المرء على المال والشَّرَف لدينهِ »

Tidaklah dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing lebih berbahaya baginya dari ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya” (HR Tirmidzi no. 2376, ia berkata: hasan shahih, Ahmad: 3/656)

Sebuah ilustrasi yang sangat mengena dari Rasulullah untuk menggambarkan rusaknya agama seorang manusia disebabkan karena ambisi terhadap harta benda dan kedudukan di dunia. Kerusakan agama yang ditimbulkannya tidak lebih besar dari bahaya yang mengancam seekor kambing yang didatangi dua serigala lapar dan siap menerkamnya.

Ibnu Rajab menjelaskan, orang yang berambisi terhadap harta ada dua jenis:

Pertama, orang yang sangat mencintai harta, semangat dalam mencarinya dengan cara yang mubah, namun ia berlebihan dalam mendapatkan dan mengusahakannya.

Orang ini tercela dari sisi bahwa semua usahanya itu bisa jadi sebuah bentuk menyia-nyiakan hidup, padahal ia seharusnya bersungguh-sungguh itu dalam mendapatkan kenikmatan akhirat yang abadi. Orang yang berambisi ini malah menyia-nyiakan untuk mencari rizki yang sesungguhnya terjamin dan sesuatu yang Allah bagi-bagikan, yang tidak datang kecuali seukuran dengan takdir Allah, harta yang kelak tidak akan mendatangkan manfaat baginya, ia akan tinggalkan semua itu, dengan tetap hisabnya akan berlaku atasnya.”

Kedua, orang yang kondisinya lebih buruk dari jenis pertama. Ia adalah orang yang berambisi terhadap harta, hingga mengusahakannya dengan cara-cara yang diharamkan Allah dan menghalanginya untuk menunaikan kewajiban hartanya.

Perutnya penuh dengan harta haram. Merasa harta yang dimilikinya adalah hasil dari seluruh usahanya, ia menjadi manusia yang sangat takut kehilangan hartanya. Ia jadi sangat kikir, malas bersedekah dan individualis. Ia terjerumus pada sikap kikir yang tercela. Padahal Allah berfirman,

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.” (Qs. Al-Hasyr: 9). Wallahua’lam. (A/RS3/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)