Harta

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Harta pada dasarnya bersifat netral. Ia tidak mulia atau hina, baik atau buruk. Harta  lebih sebagai ujian bagi sifat dasar manusia terhadap Allah Subhanu Wa Ta’ala. Dengan harta itu, mampukah manusia menjadi hamba yang lebih dekat kepada Allah Subhanu Wa Ta’ala, atau justeru menjadi budak harta yang terlena dan teperdaya.

Singkat kata, harta merupakan cobaan bagi keimanan dan ketaatan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Firman Allah Subhanu Wa Ta’ala, “Sesungguhnya harta benda dan anak-anakmu hanyalah ujian, dan di sisi Allah jualah pahala yang besar.” [QS. At-Taghaabun : 15]

Ayat di atas, tidak hanya memastikan bahwa harta adalah ujian, namun juga menunjukkan bahwa harta merupakan jenis kenikmatan duniawi lainnya. Seberapa pun besarnya, harta tidak memiliki nilai sama sekali di hadapan Allah. Sebanyak apa pun harta yang dimiliki seseorang, ia tetap kecil di hadapan Allah dan tidak kekal. Tetapi, yang bernilai adalah ketika harta itu dapat difungsikan dengan tepat, sesuai dengan yang Allah amanatkan.

Allah Subhanu Wa Ta’ala berfirman, “…..Katakanlah (wahai Muhammad): Harta benda yang menjadi kesenangan di dunia ini adalah sedikit sekali, (dan akhirnya akan lenyap) dan (balasan) hari akhirat itu lebih baik lagi bagi orang-orang yang bertakwa (karena ia lebih mewah dan kekal selama-lamanya) dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.” [QS. An-Nisaa’ : 77]

Begitulah Allah Subhanu Wa Ta’ala menjelaskan hakikat harta. Sebagai ujian, harta dititipkan kepada siapa saja, tanpa pandang bulu; entah itu orang kaya, orang miskin, cendekiawan, pegawai, bahkan ulama. Masing-masing akan diuji dengan harta yang ada pada mereka.

Karena itu, kesadaran untuk memahami kehidupan dunia sebagai ujian, perlu dibangun agar harta tidak membutakan mata hati dan memalingkan manusia dari Allah Subhanu Wa Ta’ala. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu dilalaikan oleh (urusan) harta bendamu dan anak-anakmu dari mengingat Allah (dengan menjalankan perintahNya). Dan (ingatlah), siapa yang melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” [QS. Al-Munaafiquun : 9]

Jadi, sikap terbaik dalam menyikapi harta duniawi adalah berperilaku zuhud. Zuhud adalah sikap di mana seseorang tidak merasa bangga, buta hati, dan teperdaya dengan harta dan segala kenikmatan dunia. Sebaliknya, jangan merasa kehilangan dan berduka ketika segala kenikmatan tersebut dicabut.

Allah berfirman yang artinya, “(Kamu diberitahu tentang itu) supaya kamu tidak bersedih hati akan apa yang telah luput daripada kamu dan tidak pula bergembira (secara sombong dan bangga) dengan apa yang diberikan kepada kamu dan (ingatlah), Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong, lagi membanggakan diri.” [QS. Al-Hadid : 23]. Wallahua’lam bisshawab.(R02/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)