Hassan Bin Tsabit, Sahabat Rasul yang Berperang Tanpa Pedang

(ilustrasi)

Oleh: Hasanatun Aliya, Wartawan MINA 

Perang tidak luput dari persenjataan sebagai alat untuk melumpuhkan musuh. Namun tidak semua peperangan harus menggunakan senjata, sebab perkembangan zaman di era modern ini perang tidak hanya di medan pertempuran yang nyata, melainkan perang juga terjadi di dunia maya dengan menggunakan media sosial sebagai sarana melawan memusuhi Islam.

Propaganda menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penerangan atau paham, pendapat, dan sebagainya, benar atau salah, yang dikembangkan untuk tujuan meyakinkan masyarakat agar menganut suatu sikap, aliran, atau arah tindakan tertentu.
Propaganda dalam bahasa Latin modern, diartikan; mengembangkan serangkaian pesan dengan tujuan agar dapat mempengaruhi pendapat seseorang, tindakan masyarakat atau sekelompok orang.

Informasi dari propaganda tidak disampaikan secara obyektif, melainkan informasi yang diberikan dibangun dengan tujuan agar dapat memengaruhi pihak-pihak yang mendengar maupun yang melihatnya.

Saat ini media sosial menjadi tempat yang paling efektif bagi pihak untuk melakukan propaganda dengan mudah, serta jangkauannya lebih luas bahkan sampai ke seluruh penjuru dunia. Dalam perang melawan propaganda di media, diperlukan baik bentuk tulisan atau karya seni untuk menyampaikan sebuah pesan yang menceritakan peristiwa.

Perang melawan propaganda bukan hal yang baru, bahkan perang ini sudah ada pada zaman Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam (SAW) yang dilakukan oleh seorang sahabat bernama dengan kata-kata yang digunakan sebagai -syair.

Kepiawaian Hassan bin Tsabit dalam merangkai kata pada syairnya, sehingga ia mendapat tempat di sisi Rasulullah sebagai penyair kesayangan, bahkan dikenal sebagai ‘Penyair Rasulullah’ atau ‘Syair Rasulullah’. Hassan memiliki tugas khusus untuk melumpuhkan propaganda hitam yang dibuat oleh dengan menggunakan syair-syairnya.

Biografi Hassan bin Tsabit

Hassan lahir di Yatsrib (Madinah) pada 563 Masehi. Setengah hidupnya ia berada di jalan kejahiliyahan, setengahnya lagi ia habiskan untuk membela agama Islam bersama Rasulullah SAW.

Hassan bin Tsabit memiliki nama lengkap Abu al-Walid Hassan bin Tsabit, merupakan keturunan dari suku Khazraj. Suku ini hijrah dari Yaman ke Hijaz yang kemudian menetap di Madinah.

Mengutip berbagai sumber, Hasan bin Tsabit baru masuk Islam sekitar berusia 60 tahun, saat Rasulullah melakukan hijrah ke Madinah, dan wafat di usia 120 tahun.

Imam Baihaqi meriwayatkan hadits dari Aisyah Radhiallahu Anhu (RA) yang mengatakan bahwa separuh kehidupan Hassan, yakni selama 60 tahun dihabiskan menjadi seorang jahiliah. Dan 60 tahun yang selanjutnya ia menjalani kehidupannya menjadi seorang muslim.
Semenjak menjadi seorang muslim, Hassan bin Tsabit ikut berjuang bersama Rasulullah SAW. Jika sahabat lain berjuang dengan senjatanya adalah pedang, Hasan bin Tsabit bersenjatakan sebuah syair.

Hassan bin Tsabit juga memiliki peran penting dalam syiar , dalam riwayat Imam Muslim, Bukhari, Abu Dawud, dan Tirmidzi meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW dahulu menyediakan tempat bagi Hasan bin Tsabit sebuah mimbar di masjid untuk membaca pujian-pujian kepada Nabi SAW.

Melumpuhkan Propaganda Musuh dan Membangkitkan Semangat Kaum Muslimin

Hasan bin Tsabit sering menciptakan syair-syair yang menggambarkan kemuliaan dan keagungan Rasulullah SAW sehingga dapat membangkitkan semangat kaum Muslimin. Bahkan tidak sedikit syair yang ia ciptakan mampu membalas hinaan musuh-musuh Rasulullah SAW.

Semangat Hassan bin Tsabit dalam memperjuangkan Islam dengan syairnya disambut baik oleh Rasulullah SAW. Bahkan, Rasulullah SAW mengakui jika syair-syair Hassan bin Tsabit mampu melumpuhkan propaganda hitam musuh-musuh Islam.

Suatu kali Hassan bin Tsabit diminta datang ke Masjid Nabawi untuk menemui Nabi Muhammad SAW. Setelah sampai di masjid, Rasulullah kemudian berkata;

“Wahai Hassan, engkau tentu mengetahui yang telah dilakukan kaum musyrikin Makkah. Karena itu, padamkanlah semangat mereka dengan syair-syair mu. Sebaliknya, bangkitkanlah semangat kaum Muslimin dengan syair-syair mu.” (HR. Bukhari)

Syair Hassan bin Tsabit pun meluncurkan syair, seperti anak panah yang menikam dada para penista kebenaran dan para penghina Rasulullah. Oleh karena itu Nabi Muhammad begitu memuji syair-syair Hassan bin Tsabit sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat al-Bukhari bahwa kelak Malaikat Jibril akan membersamainya.

Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda jika malaikat Jibril kelak membersamai Hassan bin Tsabit.

“Wahai Hassan, seranglah mereka (kaum musyrikin) dengan syairmu. Sesungguhnya malaikat Jibril bersamamu.”

Dalam hadis lain dari Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya, Allah memperkuat Hassan dengan Roh Kesucian selama dia memuji Allah dan membela Rasulullah SAW.”

Keutamaan Hassan bin Tsabit

Selain itu, keutamaan Hassan bin Tsabit telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang tertulis di kitab Shahih Muslim.

“Telah menceritakan kepada kami ‘Amru An-Naqid dan Ishaq bin Ibrahim dan Ibnu Abu ‘Umar seluruhnya dari Sufyan dia berkata, ‘Amru Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah bahwasanya Umar bin Khaththab pernah berjalan melewati Hassan yang sedang melantunkan sya’ir di Masjid.
Lalu Umar menegurnya dengan pandangan mata. Tetapi Hassan berkata; “Dulu saya pernah melantunkan syair di Masjid ini, yang ketika itu ada seseorang yang lebih mulia daripadamu yaitu (Rasulullah).”

Kemudian Hassan menoleh kepada Abu Hurairah seraya berkata; “Saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah hai Abu Hurairah, pernahkah kamu mendengar Rasulullah berkata kepada saya, Hai Hassan, balaslah sya’ir orang-orang kafir untuk membelaku! Ya Allah ya Tuhanku, dukunglah Hassan dengan Jibril! Abu Hurairah menjawab; Ya, Saya pernah mendengarnya.”

Telah menceritakannya kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Rafi’ serta ‘Abad bin Humaid dari ‘Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Ibnu Al Musayyab bahwa Hassan pernah berkata di sebuah majlis yang di sana ada Abu Hurairah; “Saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah hai Abu Hurairah, pernahkah kamu mendengar Rasulullah kemudian dia menyebutkan Hadits yang serupa.”

Contoh Syair Hassan bin Tsabit

Contoh dari syair yang diucapkan oleh Hassan bin Tsabit dicantumkan dalam buku Sejarah Sastra Arab dari Beragam Perspektif oleh Betty Mauli Rosa Bustam. Berikut merupakan lirik syairnya;

Dikisahkan saat itu Nabi SAW baru tiba di Makkah lalu ada seorang mualaf bernama Junab Al-Kalbi berkata kepada Nabi Muhammad SAW. Ia mendengar Rasulullah berkata kepada orang tertentu (Hassan bin Tsabit);

“Jibril alahi salam di sebelah kananku, Mikail alaihi salam di sebelah kiriku, dan para malaikat melindungi tentaraku. Bacakanlah sedikit syair.”

Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang membungkukkan badannya dan diam beberapa saat sebelum berkata (dalam kamil atau posisi yang sempurna):

“Hai tiang orang yang bersandar kepadamu, pegangan orang yang berlindung kepadamu, tempat beristirahat orang yang mencari keselamatan, dan pembela orang yang membutuhkan perlindungan.”

“Hai yang dipilih Tuhan bagi makhluk-Nya menanamkan di dalam dirinya kesempurnaan dan kesucian sifat.”

“Wahai Nabi, engkaulah manusia terbaik. Wahai manusia budiman, seperti curahan air laut yang menggelora.”

“Malaikat Mikail alahi salam dan Jibril alaihi salam bersamamu, penolong kemenanganmu yang diutus oleh Yang Mahakuasa dan Maha Perkasa.”

Mendengar syair tersebut, Junab Al-Kalbi bertanya kepada Nabi Muhammad SAW,

Siapakah penyair ini?”

Lalu mereka menjawab, “Hasan bin Tsabit.”

Setelah itu, Rasulullah SAW berdoa untuk Hasan bin Tsabit agar dilimpahi kebaikan oleh Allah SWT.

Tidak hanya Hassan bin Tsabit, banyak sahabat nabi bahkan ratusan penyair lainnya yang juga menjadikan syair-syair mereka untuk membela agama Allah, termasuk Ka’ab bin Malik, Abdullah bin Rahawah dan Al-Harits ibn Hisyam.

Hal serupa dapat dilakukan oleh kaum Muslimin dalam perang melawan propaganda, walaupun bukan dengan syair. Setiap karya seni dalam Islam memang harus memiliki sebuah misi dakwah sebagaimana dahulu para sahabat Nabi yang terkenal sebagai pujangga.

Dengan menarasikan kebenaran Islam berlandaskan kalam Al-Qur’an dan sejarah-sejarah kenabian untuk mematahkan propaganda musuh yang ingin menghancurkan Islam dan memecah belah kaum muslimin atau melemahkan perjuangan. Untuk itu kaum muslimin harus terus semangat dalam menyampaikan narasi dengan karya-karyanya di sosial media sebagai syiar dakwah dalam membela agama Allah melawan propaganda.(A/R5/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)