HIDUP ADALAH PERJUANGAN

 

afta 1Oleh Ali Farkhan Tsani *

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

 لَن تَنَالُواْ ٱلۡبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ‌ۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَىۡءٍ۬ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ۬

Artinya : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Surah Ali Imran : 91).

Asbabun Nuzul ayat ini adalah bahwa suatu ketika ada sebagian dari umat Islam yang suka bershadaqah dengan buah kurma yang jelek-jelek yang tak termakan oleh mereka sendiri.  Riwayat lain menyebutkan bahwa ada seorang lelaki memetik buah kurmanya, kemudian dipisahkannya yang baik-baik dari yang buruk-buruk. Ketika datang orang yang meminta shadaqah diberikannyalah yang buruk itu. Maka ayat ini turun mencela perbuatan itu.  Setelah ayat itu turun, sahabat Nabi Abu Thalhah berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin menshadaqahkan kebunku karena Allah”. Kemudian Rasulullah menasehatinya agar kebun tersebut dishadaqahkan untuk kepentingan orang-orang fakir miskin.

Kemudian Umar ibn Khattab pun melakukan hal yang sama. Sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dari Ibn Umar, ia berkata, “Umar mempunyai tanah di Khaibar, kemudian ia datang kepada Rasulullah, sambil berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki sebidang tanah di Khaibar, tetapi aku belum mengambil manfaatnya, bagaimana aku harus berbuat?” Rasulullah bersabda, “Jika engkau menginginkannya tahanlah tanah itu dan shadaqohkan hasilnya”.

Ayat ini menegaskan betapa kebaikan hanya dapat diraih melalui pengorbanan atas segala yang kita cintai dari diri kita dan harta kita untuk jalan yang diridhai Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Cinta memerlukan Pengorbanan, dan pengorbanan memerlukan usaha sungguh-sungguh, kerja keras, ketekunan dan istiqamah. Nabiyullah Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar dahulu telah memberikan teladan terbaik bagaimana hidup adalah pengorbanan. Cinta memerlukan pengorbanan. Bahkan mengorbankan anak kandungnya sendiri demi memenuhi seruan ilahi.

Allah pun mengabadikannya di dalam ayat :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلۡمَنَامِ أَنِّىٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰ‌ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ‌ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ

Artinya, “Duhai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Surah Ash-Shaffat : 102).

Pengorbanan adalah persitiwa besar dan berani dalam sejarah perjalanan kehidupan umat manusia. Karena jiwa pengorbanan itu berlandaskan pada “kebenaran, keberanian, keihlasan, kejujuran yang didasari pada perilaku iman, taqwa, kesabaran dan ahlak yang unggul dan prima.  Sebaliknya orang-orang yang enggan berkorban menegakkan dinullah,memeperibadati-Nya dengan sungguh-sungguh, adalah karena mereka bergelimang dalam kecintaan berlebihan terhadap dunia, “nafsu” dan “kepentingan” “menenggelamkan” diiringi “egoism syahwat”, bersifat sementara dan asesosris dunia, termanjakan “hiburan tontonan” yang melalaikan.

Pengorbanan menjadi harga mati bagi iman; di mana geliat iman kita adalah akan terlihat pada sebanyak apa kita berkorban, pada sebanyak apa apa kita memberi, pada sebanyak apa kita lelah, pada seberapa besar ilmu dan tenaga kita curahkan untuk jalan Allah, pada seberapa kita sanggup meninggalkan rutinitas  harian untuk shalat fardhu berjamaah di masjid, dst. Juga pada sebanyak apa kita mengadu saat shalat tahajud, dan puncak dari segalanya adalah saat di mana kita menyerahkan harta dan jiwamu sebagai persembahan total kepada Allah.

Seorang ‘Alim Imam al-Zujaj mengingatkan kita, “Cinta manusia kepada Allah dan Rasul-nya adalah mentaati keduanya dan Ridha kepada semua perintah Allah dan ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya. Kecintaan dan ketaatan kepada Allah itu tidak mungkin terwujud tanpa pengorbanan. Tak ada cinta tanpa ketaatan, dan tak ada ketaatan tanpa pengorbanan.

Seorang sastrawan Muslim, Musthafa Shadiq Al-Rafi’i mengatakan; “Sesungguhnya kemenangan dalam pertarungan hidup tidaklah diperoleh dengan harta, kekayaan dan, kesenangan; tapi dengan perjuangan keras,pengorbanan,  ketagwaan dan kesabaran. (L/R1/R2).

*Redaktur Mi’raj News Agency (MINA)

Comments: 0