Hidup Adalah Tanggung Jawab, oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur

Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَنَسْـَٔلَنَّ الَّذِيْنَ اُرْسِلَ اِلَيْهِمْ وَلَنَسْـَٔلَنَّ الْمُرْسَلِيْنَ ۙ (٦) فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَّمَا كُنَّا غَاۤىِٕبِيْنَ (٧) وَالْوَزْنُ يَوْمَىِٕذِ ِۨ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ (٨) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يَظْلِمُوْنَ (٩) الاعراف [٧]: ٦-٩)

Maka pasti akan Kami tanyakan kepada umat yang telah mendapat seruan (dari rasul-rasul) dan Kami akan tanyai (pula) para rasul (6) dan pasti akan Kami beritakan kepada mereka dengan ilmu (Kami) dan Kami tidak jauh (dari mereka) (7) Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa berat timbangan (kebaikan) nya, mereka itulah orang yang beruntung (8) dan barang siapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami (9).” (QS. Al-A’raaf [7]: 6-9)

Syaikh Ahmad Mustafa Al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pada hari Kiamat nanti, setiap orang akan ditanya tentang rasulnya yang telah mereka ikuti. Allah  juga akan bertanya kepada para utusan-Nya tentang penyampaian mereka, jawaban dari kaumnya, tentang perbuatan mereka, apakah mereka beriman atau kafir.

Pada ayat yang lain Allah  berfirman dalam surah Al-Isra [17]: 71:

يَوْمَ نَدْعُواْ كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَٰمِهِمْ ۖ فَمَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَٰبَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا (الاسرا [١٧]: ٧١)

“(Ingatlah), pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya; dan barang siapa diberikan catatan amalnya di tangan kanannya mereka akan membaca catatannya (dengan baik), dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun.”

Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan kalimat “بِإِمَٰمِهِمْ” adalah catatan amal mereka. Sedang Said bin Musyyib ketika menjelaskan ayat di atas berkata:

كُلُّ قَومٍ يَجْتَمِعُونَ إِلَى رَئِيسِهِمْ فِي الْخَيرِ وَالشَّرِّ

Setiap kaum akan berkumpul dengan pimpinannya dalam kebaikan dan keburukan.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyatakan, ayat di atas hakikatnya berbicara tentang tanggung jawab yang harus dimiliki oleh seorang manusia. Pada hari Kiamat nanti, setiap manusia akan diperiksa, bagaimana pertanggungjawabannya atas wewenang dan kewajiban yang dipikulkan kepadanya.

Pertanggungjawaban itu tidak hanya berlaku bagi umat yang dipimpin, tetapi para rasul juga ditanya tentang apa yang telah dilakukan dalam rangka menyampaikan risalah.

Di hari pertanggungjawaban itu, setiap orang tidak akan bisa berdusta atau mengelak dari kemaksiatan yang telah diperbuat.

Dalam ayat lain, Allah  juga berfirman:

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى (القيمة [٧٥]: ٣٦)

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?”. (Q.S. Al-Qiyamah [75]: 36)

Imam As-Saddi menjelaskan ayat di atas, bahwa manusia hidup di dunia diuji dengan perintah dan larangan. Kemudian di hari Kiamat nanti, mereka akan digiring setelah dibangkitkan, kemudian ditanya tentang perbuatan mereka selama hidup di dunia. Apakah mereka menjalankan perintah dan menjauhi larangan, ataukah sebaliknya.

Senada dengan ayat di atas, Allah  juga berfirman dalam surah At-Takatsur ayat 8;

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (التكاثر [١٠٢]: ٨)

“Kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu).”

Ibnu Katsir menjelaskan ayat di atas dengan sebuah hadits Riwayat Imam Ahmad, dengan menukilkan hadits dari Abu Hurairah , Rasulullah ﷺ bersabda, “Pada hari kiamat nanti, Allah  berfirman, Hai anak Adam, Aku telah membawamu di atas kuda dan unta, dan Aku kawinkan kamu dengan wanita, dan Aku jadikan kamu dapat memimpin dan berkuasa, maka manakah ungkapan rasa syukurmu atas semuanya itu?”

Hal ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Barzah Al-Aslami:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ.

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya ke mana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang harta-nya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.”

Tanggung jawab adalah kesadaran manusia atas tutur kata, sikap, perbuatan, dan keputusan yang disengaja. Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia bertanggung jawab karena akibat baik atau buruk dari apa yang ia perbuat. Ia harus menyadari bahwa dirinya sendiri dan pihak lain merasakan dampak dari perbuatan-nya.

Apabila ditelaah lebih lanjut, tanggungjawab merupakan kewajiban atau beban yang harus dipikul atau dipenuhi, sebagai akibat perbuatan kita kepada orang lain, atau sebagai akibat dari perbuatan pihak lain kepada kita.

Tanggungjawab bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksa tanggungjawab itu.

Tujuan Diutusnya Nabi dan Rasul

Pada dasarnya, manusia itu dilahirkan dalam keadaan suci (Q.S. Ar-Rum [30]: 33) sehingga ia memiliki fitrah yang suci. Karena godaan syaitan dan faktor-faktor lain-nya, manusia keluar dari fitrah tersebut.

Untuk menjaga dan mengembalikan fitrah tersebut, Allah  mengutus rasul-Nya sebagai sebagai bentuk kasih sayang-Nya untuk menyelamatkan manusia dari keburukan dan kehancuran. Rasul dengan suri tauladan yang mulia bertugas untuk menjelaskan cara hidup yang benar di dunia sesuai dengan fitrahnya yang lurus.

Dengan kata lain, Allah  mengutus nabi serta rasul untuk menyampaikan wahyu kepada umat manusia guna menjaga fitrah mereka dengan menuntun mereka kepada jalan yang lurus, memberi kabar gembira bagi mereka yang beramal shaleh dan memberi peringatan bagi mereka yang menyimpang dan berbuat maksiat. Wahyu ini bisa berupa shuhuf, mushaf, atau risalah kenabian yang lainnya.

Mengutip buku Kenabian (Nubuwwah) dalam Al-Quran yang diterbitkan Lanjah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI, ada beberapa fungsi nabi dan rasul menurut Al-Quran, di antaranya:

  1. Menjadi Saksi

Allah  mengutus nabi serta rasul untuk menjadi saksi atas hidup orang-orang beriman dan amalan yang mereka lakukan. Selain itu, nabi dan rasul juga menjadi saksi atas keingkaran orang-orang yang tidak beriman. Allah  berfirman dalam surah Al-Muzzammil Ayat 15:

Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul (Muhammad) kepada kamu, yang menjadi saksi terhadapmu, Sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada Fir’aun.”

  1. Menyampaikan Risalah

Seluruh nabi dan juga rasul bertugas untuk memberitakan kabar baik kepada manusia terkait wahyu yang telah diberikan oleh Allah. Selain itu, Allah  juga menjamin keselamatan nabi dari gangguan orang kafir dalam menjalani tugas mulia ini.

  1. Menyerukan Kebenaran

Tugas nabi serta rasul berikutnya, yakni mengajak manusia untuk bertaubat dari segala dosa. Nabi dan rasul juga berupaya membimbing dan membantu umat manusia untuk kembali ke jalan yang benar.

  1. Membacakan Ayat Suci

Semua nabi serta rasul bertugas untuk membacakan ayat-ayat suci yang telah diwahyukan Allah . Sebagai contoh, Nabi Daud  membacakan kitab Zabur, Nabi Isa  membacakan kitab Injil pada Bani Israil, dan Nabi Musa  membacakan kitab Taurat pada Bani Israil.

Kasih Sayang Rasulullah kepada Umatnya

Setiap nabi dan rasul mempunyai kesamaan sifat, yakni mencintai umatnya dan Rasulullah Muhammad ﷺ adalah utusan yang paling mencintai umatnya dibandingkan rasul lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berkenan umatnya mendapatkan azab, sekalipun mereka menolak seruannya. Tapi Rasulullah ﷺ justru mendoakan agar suatu saat Allah  memberi-kan hidayah kepada mereka.

Prof. Quraisy Syihab mengatakan, kecintaan kepada umat inilah yang menjadi syarat utama seseorang untuk memimpin, baik dalam level terkecil yakni keluarga, hingga memimpin masyarakat dan bangsa.

Satu-satunya sifat rahim yang diberikan kepada manusia hanya pada Nabi Muhammad. Hal ini bisa dilihat dalam Al-Quran, kata rahim terulang sebanyak 114 kali, 113 nya menunjuk kepada Allah  dan satu menunjuk kepada Nabi Muhammad ﷺ. Karena kasihnya itulah, maka nabi tidak pernah memiliki sifat dendam.

Salah satu bukti kasih sayang Rasulullah ﷺ pada umat-nya dapat disimak dalam sirah perjalanan Nabi di Thaif. Rasulullah ﷺ harus menempuh perjalanan sejauh 110 kilo-meter dari Makkah ke Thaif dengan berjalan kaki dengan segala halang rintangan dalam perjalanan dalam rangka menyelamatkan risalah Islam untuk membimbing umatnya.

Sesampainya di Thaif, orang-orang di sana justru menolak keberadaan Nabi dan mengusirnya. Mereka bahkan melempari Rasulullah ﷺ dengan batu. Kala itu, beliau didampingi Zaid bin Tsabit.

Karena peristiwa itu, malaikat menawarkan kepada Rasulullah ﷺ untuk menimpakan gunung kepada pendu-duk Thaif bila Rasulullah ﷺ menghendakinya. Akan tetapi Rasulullah ﷺ tidak berkenan dan justru mendoakan agar mereka dan anak keturunannya kelak mendapatkan hida-yah.

Warisan Para Rasul

Para nabi dan rasul tidak mewariskan harta benda kepada umatnya, tetapi lebih penting dan lebih mulia dari pada itu, mereka mewariskan ri’ayah (kepemimpinan) dan ilmu. Rasulullah ﷺ bukanlah sosok raja atau penguasa suatu negeri, tetapi tugas menggembala umat harus tetap dilanjutkan oleh para umat terpilih.

Estafet kepemimpinan Islami, murni karena mengharap ridha Allah  pernah dicontohkan oleh Khulafa’ur Rasyidin Al-Mahdiyyin (Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib ) dengan ciri khas non-politik (tidak berorientasi kepada kekuasaan politik).

Pewaris ri’ayah ini adalah para umara yang dalam redaksi Al-Quran disebut sebagai ulil amri seperti tersurat dalam Q.S. An-Nisa ayat 59. Mereka bertugas meneruskan dakwah Islam kepada segenap umat manusia, membela kaum yang terdzalimi, berdiri di tengah-tengah kelompok dan golongan (umatan wasathan) dan menegakkan keadi-lan.

Adapun warisan para nabi dan rasul yang kedua adalah ilmu. Pewaris ilmu ini adalah mereka para ulama, sebagai-mana Rasulullah ﷺ bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

Ulama adalah pewaris para nabi.” (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda ).

Para ulama tidak menggantikan posisi sebagai nabi, tetapi mereka berperan untuk berdakwah di jalan Allah  dan mengajarkan agama-Nya seperti para nabi. Ulama adalah rujukan bagi umat sebagai tempat belajar dan bertanya tentang masalah kehidupan, khususnya perso-alan agama.

Allah  telah menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama sehingga ilmu syariat terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya. Kematian salah seorang dari mereka mengakibatkan terbukanya ujian besar bagi muslimin.

Mengingat pentingnya keberadaan ulama di tengah-tengah umat, maka menumbuhkan kader-kader ulama dan umara menjadi hal yang vital untuk diperhatikan oleh masyarakat. Mempersiapkan kader-kader ulama dan umara juga merupakan bukti umat mencintai dan meng-hormati mereka. Penghormatan dan pemuliaan Allah  kepada kita, salah satunya tergantung kepada bagaimana penghormatan dan pemuliaan kita pada ulama dan umara.

Islam Mendahulukan Kewajiban daripada Hak

Dalam Islam, kewajiban lebih banyak dibicarakan daripada hak. Hak timbul setelah ditunaikannya kewajiban. Umat Islam didorong untuk mersikap dinamis dan kreatif dalam melaksanakan kewajibannya sehingga ia layak dan pantas memperoleh hak.

Seorang akademisi Universitas Islam Jakarta, Dr. Abdoerraoef dalam disertasinya berjudul “Al-Quran dan Ilmu Hukum” mengatakan, ilmu hukum non-Islam meletakkan pemberian hak sebagai fungsi utama hukum. Sikap ilmu hukum yang lebih mementingkan hak daripada kewajiban tersebut memiliki dampak psikologis yang amat dalam dan membahayakan umat manusia. Masyarakat dari lapisan paling bawah hingga orang-orang yang duduk di Majelis Tinggi PBB selalu berbicara hak-hak dan jarang membicarakan kewajiban.

Sedangkan menurut disiplin ilmu hukum Islam, kewaji-banlah yang didahulukan sebelum menuntut hak. Inilah yang menjadi perbedaan mendasar antara ilmu hukum Islam dan non-Islam. Dalam Al-Quran, Allah  berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ (النحل [١٦]: ٩٧)

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl [16]: 97)

Firman Allah  di atas menggambarkan secara jelas bahwa Islam adalah ajaran yang mengutamakan dan mendahulukan pelaksanaan dan pemenuhan kewajiban. Baru-lah kemudian menerima dan mendapatkan haknya sebagai balasan dari amal perbuatannya tersebut.

Tentang pentingnya mendahulukan kewajiban ini disebutkan dalam sebuah hadits;

كَانَتْ بَنُو إسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ، اْلأَنْبِيَاء، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيْ خَلَفَهُ نَبِي، وَإِنَّهٗ لاَ نَبِيَ بَعْدِي، وَسَيَكْونُ بَعْدِي خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُوْنَ»، قَالْوْا: يَا رَسْولَ الله، فَمَا تَأْمْرْنَا؟ قاَلَ: «أَوْفُوْا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلُ فَاْلأَوَّلْ، ثْمَّ أَعْطَوهُمْ حَقَّهُمْ، وَاسْأَلْوا الله الَّذِي لَكُمْ، فَإِنَّ اللهَ سَائَلَهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُم (متفق عليه)

“Dahulu Bani Isra’il dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi (lain). Namun sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku, dan sepe-ninggalku akan ada para khalifah lalu jumlah mereka akan banyak.” (Para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu apa yang engkau perintahkan untuk kami?” Beliau menja-wab, “Tunaikanlah baiat kepada (khalifah) yang pertama kemudian kepada yang berikutnya, lalu penuhilah hak mereka, dan mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian, karena sesungguhnya Allah akan menanyai mereka tentang apa yang mereka pimpin.” (Muttafaq ‘alaih)

Kalimat, ”…lalu penuhilah hak mereka, dan mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian,…” merupakan isyarat agar manusia mendahulukan kewajiban dari pada meminta/menuntut haknya.

Setiap orang yang melaksanakan kewajiban, cepat atau lambat, baik langsung maupun tidak langsung, pasti akan mendapatkan haknya. Tetapi, tidak setiap orang yang menuntut hak dapat melaksanakan kewajibannya dengan baik.

Kisah kepemimpinan Khulafa’ur Rasyidin Al-Mahdiyyin menjadi cermin ideal dalam sejarah Islam, bagaimana seorang pemimpin yang melaksanakan kewajiban secara maksimal. Mereka sama sekali tidak pernah menuntut haknya sehingga rakyatnya sangat tunduk dan patuh serta merasa bahagia dengan kepemimpinannya.

Ancaman dari Allah  kepada Pemimpin Dzalim

Seorang pemimpin adalah pelayan bagi yang dipimpin-nya, baik pemimpin keluarga, perusahaan, maupun masyarakat. Dalam sebuah ungkapan, dikatakan, ”Sayyid al-Qawm khaadimuhu.” (Pemimpin sebuah kaum adalah pelayan bagi kaumnya). Karena itu, mereka tidak boleh melakukan kedzaliman pada orang-orang yang dipimpinnya. Semua kebijakan yang dibuatnya harus mengacu pada kepentingan masyarakat yang dipimpinnya.

Allah  berfirman,

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan.” (Q.S. Al An’am [6]: 129)

Tentang makna ‘nuwalli‘ yang ada dalam ayat di atas ada empat pendapat ahli tafsir:

Pertama, Kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai kekasih bagi sebagian yang lain. Pendapat ini diriwayatkan oleh Said dari Qatadah.

Kedua, Sebagian orang yang zalim itu kami jadikan mengiringi yang lain di neraka disebabkan amal yang mereka lakukan. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ma’mar dari Qatadah.

Ketiga, Kami jadikan orang yang zalim sebagai penguasa bagi yang lain. Pendapat ini diungkapkan oleh Ibnu Zaid.

Keempat, Kami pasrahkan sebagian orang yang zalim kepada yang lain dalam artian tidak kami tolong. Pendapat ini disebutkan oleh al Mawardi.

Ibnu ‘Asyur mengatakan, ayat tersebut bisa dipahami mencakup seluruh orang yang zalim. Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah  akan menjadikan seorang yang dzalim akan dikuasai dan dizalimi oleh orang selain-nya. Inilah penafsiran yang diberikan oleh Abdullah bin Zubair.

Fakhruddin Ar Razi mengatakan, jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim, maka hendaklah mereka meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan.

Ar Razi juga menegaskan, ayat di atas adalah dalil yang menunjukkan jika rakyat suatu negara itu dzalim (gemar maksiat, curang, korupsi dan lainnya) maka Allah  akan memberi untuk mereka penguasa yang zalim semisal mereka. Jika mereka ingin terbebas dari kezaliman pengu-asa yang zalim maka hendaknya mereka juga mening-galkan kemaksiatan yang mereka lakukan.

Jika seorang pemimpin mengkhianati amanah yang telah diberikan, maka ancaman Allah  berupa dosa besar dan azab yang pedih akan ditimpakan kepadanya. Dalam kitab al-Kaba`ir, Adz-Dzahabi menyebutkan dosa besar bagi hakim/pemimpin yang zalim. Yakni, memutuskan suatu perkara tanpa memenuhi rasa keadilan sebagaimana ditetapkan Al-Quran. ”Allah tidak akan menerima shalat seorang pemimpin yang tidak berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah.”

Begitu juga mereka yang senantiasa melakukan sogok (suap-menyuap) dan korupsi. ”Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerimanya dalam memutuskan suatu perkara.” (HR Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim).

Keutamaan Pemimpin yang Adil

Seorang pemimpin yang berani menegakkan keadilan akan lebih membersihkan bumi dibandingkan dengan hujan selama empat puluh hari. Mengapa demikian? Kare-na, keadilan akan membersihkan segala bentuk kejahatan, kecurangan yang dilakukan manusia dzalim.

Apabila keadilan ditegakkan dalam suatu kepemimpi-nan, maka akan memberikan dampak kepada banyak orang, bukan hanya pribadi dan sebagian kelompok saja. Air hujan, betapapun banyaknya hanya mampu member-sihkan kotoran atau najis saja, sedangkan keadilan mem-bersihkan kecurangan, kemaksiatan, dan kemunkaran.

Keutamaan pemimpin yang adil banyak diungkapkan di dalam hadits Rasulullah ﷺ, di antaranya:

  1. Mendapat naungan di hari Kiamat

Dari Abu Hurairah , dari Rasulullah ﷺ bersabda:

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَدْلٌ، وَشَابٌّ نَشَأ فِي عِبَادَةِ الله، وَرَجُلٌ قَلبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ، وَرَجُلانِ تَحَابَّا فِي الله، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقال: إِنِّي أخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ، فَأخْفَاهَا حَتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ». متفق عليه.

“Ada tujuh orang yang akan Allah naungi di naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Seorang pemimpin yang adil; Seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Agung; Seorang pria yang hatinya melekat pada masjid; Dua orang yang saling mencintai karena Allah bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah; Seseorang yang diajak berzina oleh wanita cantik dan berposisi tinggi tetapi dia menolak dan mengatakan: ‘Saya takut kepada Allah’; Seseorang yang bershadaqah dan menyembunyi-kannya, hingga tangan kirinya pun tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya dalam amal; dan seseorang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian hingga meneteskan air mata.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dalam hadits lainnya, dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash , Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ الله عَلَى مَنَابِرِ مِنْ نُوْرِ عَنْ يَمِيْنِ الرَّحْمٰنِ عَزَّ وَجَلَّ وكلتا يَدَيْهِ يَمِينِ، الَّذِيْنَ يَعْدِلُوْنَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيْهِمْ وَمَا وَلُوا (رواه مسلم)

“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil, kelak disisi Allah ditempatkan di atas mimbar dari cahaya, ialah mereka yang adil dalam hukum terhadap keluarga, dan apa saja yang dikuasakan kepadanya.” (H.R. Muslim)

  1. Mendapat pahala sebanyak orang yang mengikutinya

Dari Abi Hurairah , sesungguhnya Rasulullah ﷺ ber-sabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ ذٰلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرً مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ ذٰلِكَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيئًا (رواه مسلم)

“Barangsiapa yang mengajak kepada suatu petunjuk, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia memperoleh dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka.” (H.R. Muslim)

  1. Doanya mudah dikabulkan Allah

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurai-rah , ada tiga doa yang tidak akan ditolak oleh Allah , yakni:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ (رواه الترمذي)

“Ada tiga kelompok yang tidak akan tertolak doanya, yaitu doa orang yang berpuasa hingga ia berbuka, doa pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi (hak-haknya).” (H.R. Tirmidzi)

Mengapa doa pemimpin yang adil itu sangat mudah dikabulkan? Karena di pundaknya terletak berbagai peng-harapan hajat hidup orang banyak.

  1. Menjadi orang yang dekat kedudukannya di sisi Allah di hari Kiamat

Sebuah hadits diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri , Nabi ﷺ bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلىَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَأَبْعَدُهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ  (رواه الترمذي)

“Sesungguhnya orang yang paling dicintai oleh Allah di hari kemudian, dan paling dekat kedudukannya dari-Nya adalah seorang pemimpin yang adil. Dan sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah di hari kemudian, dan yang paling jauh kedudukannya dari-Nya adalah pemimpin yang curang.” (H.R. Tirmidzi).

 

  1. Sehari memimpin dengan adil lebih baik dari ibadah 60 tahun

Karena pentingnya pemimpin yang adil, Nabi Muham-mad ﷺ pernah berpesan sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas :

يَوْم مِنْ إِمَامٍ عَادِلٍ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً وَحَدٌ يُقَامُ فِي الْأَرْضِ بحقه أَزْكَى فِيْهَا مِنْ مَطَرِ أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا (رواه الطبرانى، ضعيف)

“Sehari seorang pemimpin yang adil lebih utama dari-pada beribadah 60 tahun, dan satu hukum ditegakkan di bumi akan dijumpainya lebih bersih daripada hujan 40 hari” (H.R. At-Thabrani, Dhaif).

Larangan Berambisi Pada Kepemimpinan (Jabatan)

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَتْ الْمُرْضِعَةُ، وَبِئْسَتْ الْفَاطِمَةُ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Abu Hurairah  berkata, Rasulullah bersabda, “Sung-guh kalian akan berambisi mendapatkan jabatan/kepemim-pinan, dan itu akan menjadi penyesalan pada Hari Kiamat, maka betapa nikmat persusuan, betapa sengsara penyapi-han.” (H.R. Bukhari)

Maksud imarah (jabatan/kepemimpinan) dalam hadits ini ialah secara umum, mulai dari yang tertinggi (imamah), seperti khalifah, presiden atau raja, hingga yang terendah walaupun atas satu orang saja. ambisi jabatan/kepemim-pinan itu akan menyebabkan penyesalan pada hari kiamat. “Betapa nikmat persusuan” maksudnya ialah kenikmatan dunia yang diperoleh dengan menyandang jabatan/kepe-mimpinan tersebut, lalu “betapa sengsara penyapihan” berarti keadaan akan berbanding terbalik menjadi keseng-saraan setelah melepas jabatan/kepemimpinan tersebut saat di akhirat.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh At-Thabrany dan Al-Bazzar dengan sanad Shahih melalui ‘Auf bin Malik  bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

أَوَّلُهَا مَلَامَةٌ، وَثَانِيهَا نَدَامَةٌ، وَثَالِثُهَا عَذَابٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، إلَّا مَنْ عَدَلَ

Awalnya (kepemimpinan) ialah celaan, (lalu) kedua penyesalan, (lalu) ketiga siksa pada Hari Kiamat, kecuali (bagi) yang adil

Juga diriwayatkan oleh At-Thabrany secara marfu’ melalui sahabat Zaid bin Tsabit ,

نِعْمَ الشَّيْءُ الْإِمَارَةُ لِمَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَحَلَّهَا، وَبِئْسَ الشَّيْءُ الْإِمَارَةُ لِمَنْ أَخَذَهَا بِغَيْرِ حَقِّهَا تَكُونُ عَلَيْهِ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Kepemimpinan ialah suatu hal yang begitu nikmat bagi yang mengambil hak dan menempatkannya (dengan benar), (dan kepemimpinan) menjadi sesuatu yang begitu menyengsarakan bagi yang tidak menempatkan hak pada tempatnya serta akan menjadi penyesalan pada Hari Kiamat.”

Maka kedua hadits ini mengikat (muqayyad) hadits pertama yang melepas (muthlaq). Karena pada hadits pertama tidak disebutkan pegecualian, yaitu penyandang jabatan yang adil dan mengembalikan hak dengan benar, akan tetap mendapatkan kenikmatan di akhirat.

Terdapat sebuah hadits terkait yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Abi Dzar  bahwa beliau berkata,

قُلْت يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ: إنَّك ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Aku (Abi Dzar) berkata, “Hai Utusan Allah, tidakkah kau memakaiku (untuk sebuah jabatan)?” Maka Rasul-pun menjawab: “Sungguh kau itu lemah, sedangkan (jabatan) itu sungguh ialah amanah, dan sungguh akan menjadi kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi yang meng-ambil haknya (dengan benar) dan menjalankan kewajiban di dalamnya.””

Al-Imam An-Nawawi berkata: “Hadits ini merupakan dasar besar supaya menjauh dari jabatan/kepemimpinan, terlebih bagi yang dirinya lemah, lemah dalam artian tidak memiliki kredibilitas keahlian yang mumpuni, tidak mampu berbuat adil, lalu lalai dan pasti akan menjadi penyesalan dan siksaan pada hari kiamat. Sedangkan bagi yang mampu dan bisa berlaku adil, maka ia akan mendapat balasan baik yang setimpal dengan tetap mengambil resiko yang besar. Karena itulah banyak tokoh besar yang menolak menerima jabatan, seperti Imam Syafi’i yang menolak diangkat menjadi hakim di daerah Timur dan Barat pada masa kekhalifahan Al-Ma’mun, begitu pula Imam Abu Hanifah yang menolak ketika dipanggil oleh Khalifah Al-Mansur untuk jabatan yang sama hingga dipukuli dan dipenjara. Dan masih banyak lagi tokoh besar yang menolak menerima jabatan pemerintahan sebagaimana disebutkan dalam kitab An-Najm Al-Wahhaj.

Sabda Nabi سَتَحْرِصُوْنَ pada hadits pertama yang berarti “kalian akan berambisi” menunjukkan tabiat asli manusia yang menyukai jabatan/kepemimpinan, karena dengan posisi itu ia memperoleh keuntungan duniawi, kelezatan-nya serta ucapan yang dipatuhi (oleh orang lain). Karena itu datanglah sebuah larangan dalam hadits yang diriwa-yatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda kepada Abdurrahman ,

لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِّلْتَ إلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

Janganlah kamu meminta jabatan, karena jika kau mendapatkannya setelah meminta, ia akan dibebankan kepada-mu, tetapi jika kau mendapatkannya tanpa meminta, kamu akan dibantu (mengembannya)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Tirmidzi bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَنْ طَلَبَ الْقَضَاءَ وَاسْتَعَانَ عَلَيْهِ بِالشُّفَعَاءِ وُكِلَ إلَيْهِ، وَمَنْ لَمْ يَطْلُبْهُ وَلَمْ يَسْتَعِنْ عَلَيْهِ أَنْزَلَ اللَّهُ مَلَكًا يُسَدِّدُهُ

Siapa yang meminta jabatan hukum dan meminta bantuan para perantara, maka (jabatan itu sepenuhnya) akan dibebankan kepadanya, dan siapa yang belum memintanya dan belum meminta bantuan para perantara, maka akan Allah  turunkan baginya malaikat yang mendukung/ mengarahkannya.”

Dalam Shahih Muslim bahwasanya Nabi ﷺ bersumpah,

وَاَللَّهِ إنَّا لَا نُوَلِّي هَذَا الْأَمْرَ أَحَدًا سَأَلَهُ، وَلَا أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ

Demi Allah, sungguh kami tidak mengangkat dan mempercayakan perkara ini kepada siapapun yang memintanya, tidak pula bagi siapapun yang berambisi mendapatkannya.”

Pemimpin wajib mencari manusia calon pemimpin yang terbaik menurut tuntunan syariat kemudian memilih dan mengangkatnya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqy bahwa Nabi Muhammad ﷺ ber-sabda,

مَنْ اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى عِصَابَةٍ وَفِي تِلْكَ الْعِصَابَةِ مَنْ هُوَ أَرْضَى لِلَّهِ تَعَالَى مِنْهُ فَقَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَجَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ

Siapa yang mengangkat seorang lelaki karena faktor golongan (sendiri) padahal ada yang lebih diridhai untuk Allah darinya, maka dia telah mengkhianati Allah, RasulNya serta kaum muslimin.”

Yang dilarang ialah meminta jabatan/kepemimpinan, karena jabatan itu akan memberikan seseorang kekuatan setelah dirinya lemah, menganugerahkan kemampuan setelah dirinya tidak berdaya. Sedangkan manusia memiliki sifat naluri alami jahat, yang berpotensi menyalahgunakan jabatan dan kepemimpinan untuk membalas dendam kepada musuhnya di masa lalu, memperhatikan kesejahteraan golongan sendiri, atau mencari-cari tujuan non produktif yang tidak jelas hasil akhirnya, dan tidak bisa diprediksi kebaikan apakah nanti yang ada dengan menempelnya jabatan pada dirinya.

Karena itu, sebisa mungkin janganlah meminta jabatan/ kepemimpinan. Meskipun terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad Hasan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَنْ طَلَبَ قَضَاءَ الْمُسْلِمِينَ حَتَّى يَنَالَهُ. فَغَلَبَ عَدْلُهُ جَوْرَهُ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَمَنْ غَلَبَ جَوْرُهُ عَدْلَهُ فَلَهُ النَّارُ

Siapa yang meminta jabatan hukum bagi kaum muslimin hingga ia mendapatkannya, lalu keadilannya mengalahkan kelalimannya, maka dia akan mendapatkan surga, dan siapa yang kelalimannya mengalahkan keadilannya, dia akan mendapatkan neraka.”

Wallahu a’lam bishawab (A/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)