Hidup Berjamaah Adalah Keutamaan

Oleh : Mustofa Kamal, Pendakwah Medsos, Alumni Tarbiyah Wustho Lampung 

Kata keutamaan berasal dari kata dasar utama. Arti keutamaan menurut KBBI adalah : keunggulan; keistimewaan; hal yang penting (terbaik, unggul, dan sebagainya). Arti lainnya, kebaikan budi pekerti.

Maka bila kita katakan amalan utama berarti amalan yang paling unggul,  paling istimewa atau juga bisa di sebut paling utama.

Kehidupan berjamaah, adanya seorang Imaam dan makmum, merupakan perintah utama dari Allah dan Rasul-Nya.

Di dalam sebuah hadits disebutkan :

أَنَا أّمُرُكْم بِخَمْسٍ أَللهُ أَمَرَنِى بِهِنَّ : بِاْلجَمَاعَةِوَالسَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ وَ الْهِجْرَةِ وَ اْلجِهَادِ فِى سَبِيْلِ اللهِ ،فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ اْلجَمَاعَةِ قِيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَاْلإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ إِلَى اَنْ يَرْجِعَ وَمَنْ دَعَا بِدَعْوَىاْلجَاهِلِيَّةِ فَهُوَ مِنْ جُثَاءِ جَهَنَّمَ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ اِنْصَامَ وَصَلَّى ، قَالَ وَاِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌفَادْعُوا اْلمُسْلِمِيْنَ بِمَا سَمَّاهُمُ اْلمُسْلِمِيْنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ عِبَادَاللهِ عَزَّ وَ جَلَّ

Artinya: “Aku perintahkan kepada kamu sekalian (Muslimin) lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu; ber-Jama’ah, mendengar, thaat, hijrah dan jihad fie sabilillah. Barangsiapa yang keluar dari Al-Jama’ah sekedar sejengkal, maka sungguh terlepas ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali bertaubat. Dan barang siapa yang menyeru dengan seruan Jahiliyyah, maka ia termasuk golongan orang yang bertekuk lutut dalam Jahannam.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, jika ia shaum dan shalat?” Rasul bersabda: “Sekalipun ia shaum dan shalat dan mengaku dirinya seorang muslim, maka panggillah oleh orang-orang muslim itu dengan nama yang Allah telah berikan kepada mereka; “Al-Muslimin, Al Mukminin, hamba-hamba Allah ‘Azza wa jalla.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Hadits ini menyebutkan, poin pertama dalam hidup orang-orang yang beriman adalah hidup berjamaah, maka hidup berjamaah merupakan keutamaan.

Ada rangkaian amalan yang telah diperintah Allah dan Rasul-Nya, yakni pertama hidup berjamaah, kemudian mendengar,  thaat, hijrah dan jihad. Tidak bisa kita balik dari jihad dulu kemudian jamaah kita tempatkan pada urutan terakhir.

Hidup berjamaah merupakan perintah Allah dalam Al-Qur’an dan juga perintah Nabi Muhammad Shalalahu ‘Alaihi Wasallam.

Selain Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 103, ada ayat-ayat lain dari Al-Quran yang menerangkan tentang lafadz kalimat berjamaah yang diartikan dengan bersatu padu atau bersama-sama. Yaitu pada surat An-Nisa ayat 71, surat An Nur ayat 61 dan surat Al-Hasyr ayat 14.

Ayat-ayat tersebut berbunyi :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُباتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعاً

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kalian, dan majulah (ke medan perang) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama.” (QS An-Nisa [4]: 71).

Ayat ini berisi perintah dari Allah agar orang-orang beriman bersiap-siaga dan jangan lengah, untuk maju ke medan perang dengan berkelompok-kelompok kesatuan pasukan atau menggempur secara bersama-sama.

Berkaitan dengan ayat ini, Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan firman-Nya: majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok. Yaitu sekumpulan demi sekumpulan. Dengan kata lain, berpencar menjadi beberapa satuan pasukan atau majulah bersama-sama. Maksudnya, kalian semuanya maju menjadi satu dalam medan pertempuran.

Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, As-Saddi, Qata-dah, Ad-Dahhak, Ata Al-Khurrasani/Muqatil ibnu Hayyan, dan Al-Khasif Al-Jazari. (Tafsir Ibnu katsir).

Pada ayat lain, surah Al-Hasyr ayat 14 Allah berfirman :

 لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

Artinya: “Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedangkan hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.”

Ayat ini menerangkan, sejatinya orang-orang kafir itu tidak bisa bersatu padu, mereka itu tercerai berai. Bila kita lihat mereka sepertinya bersatu, padahal hati mereka berpecah-belah.

Itulah sifat ahlu kitab dan orang-orang munafik, seakan mereka bersatu tetapi hakikatnya tidak.

Sangat berbeda dengan kesatuan Muslimin dalam wujud berjamaah, maka muslimin ketika hidup berjamaah dengan dipimpin oleh seorang Imaam,  mereka bersatu padu secara lahir dan batin karena Allah.

Keadaan demikian sudah dicontohkan oleh Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Saling bersatu, saling berkasih sayang, saling melindungi,  saling menolong, dan saling rnenguatkan, seperti mekanisme tubuh yang saling menguatkan,  seperti bangunan yang saling menopang. Antara kaum Muhajirin dan Anshar, suku Aush dan khajrat, mereka semua hidup berjamaah bersatu padu karena Allah.

Begitulah, hidup berjamaah adalah solusi yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Ini senada dengan sabda Rasul, “Talzamu jama’atal muslimina wa imaamahum”, tetapilah kembali olehmu jamaah kaum Muslimin dan Imaam mereka.

Semoga kita dapat mengamalkan dan istiqamah dalam kehidupan berjama’ah yang dipimpin oleh seorang Imaam. Aamiin. (A/mus/RS2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)