Hidup Berjamaah Merupakan Hidayah

Oleh Mustofa Kamal, Pendakwah Medsos, Alumni Tarbiyah Wustho Lampung

 

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang sempurna. Karena itu, manusia dibekali dengan persediaan, bakat, tenaga dan ilmu. Kemudian Allah memberikan hidayah kepada manusia.

Hidayah merupakan petunjuk atau bimbingan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bimbingan Allah tersebut  sumbernya adalah Al-Qur’an.

Sebagaimana Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًۭى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)….” (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Pada Kalimat :

هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَان

“Sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan dari petunjuk dan pembeda antara yang hak dan batil.” Bermakna bahwa manusia mendapatkan petunjuk atau bimbingan kepada kebenaran (haq) dan agar manusia mengetahui mana yang batil, mana yang halal dan mana yang haram dengan perantara Al-Qur’an.

Al-Quran diturunkan oleh Allah malalui Malaikat Jibril pada bulan Ramadhan. Tidak hanya Al-Quran, kitab-kitab Allah Sebelum Al-Quran yang menjadi  petunjuk bagi manusia juga diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana dalam hadits diterangkan :

عَنْ وَاثِلَةَ -يَعْنِي ابْنَ الْأَسْقَعِ-أَنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “أُنْزِلَتْ صُحُف إِبْرَاهِيمَ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ. وَأَنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لسِتٍّ مَضَين مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشَرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ  وَأَنْزَلَ اللَّهُ الْقُرْآنَ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ”

Artinya: Dari Wasilah (Ibnul Asqa), bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: Lembaran-lembaran Nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadan dan kitab Taurat diturunkan pada tanggal enam Ramadan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadan, sedangkan Al-Qur’an diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadan.” (HR Ahmad).

Diriwayatkan pula melalui hadis Jabir ibnu Abdullah yang di dalamnya disebutkan:

أَنَّ الزَّبُورَ أُنْزِلَ لثنتَي عَشْرَةَ [لَيْلَةً] َلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَمَانِي عَشْرَةَ،

Artinya: “Bahwa kitab Zabur diturunkan pada tanggal dua belas Ramadan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal delapan belasnya.”

Adapun lembaran-lembaran atau suhuf, kitab Taurat, Zabur, dan Injil itu di turunkan secara langsung Berbeda dengan Al-Qur’an Yang di turunkan secara beransur.

Berjamaah

Ketika manusia menerima hidayah dari Allah,  maka dalam Al-Quran disebut sebagai Muttaqin, Mukmin juga Muslim.

Hidayah tentunya kepada jalan yang lurus sebagaimana Allah berfirman :

قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ دِينًۭا قِيَمًۭا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Artinya: Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”. (QS Al-An’am [6]: 161).

Maka Allah memberikan petunjuk dan bimbingan kepada Mukmin, Muttaqin, Muslim kepada jalan yang lurus, jalanya orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah yakni jalan kesatuan Umat dalam perwujudan Jamaah Muslimin dan Imaam mereka.

Sebagaimana telah Allah firmankan dalam Al-Quran Surat Ali-Imran [3] ayat 103 :

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءًۭ فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًۭا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍۢ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dengan berjamaah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Maka dalam ayat 103 Surat Ali Imran Allah telah menunjukan, membimbing mukmin agar berjamaah (bersatu padu) dalam rajutan ukhuwah. Bukan hanya bersatu lahiriyahnya namun hatinyapun harus bersatu.

Sudah menjadi kepastian bila keadaan Mukmin bersatu padu akan selalu mendapatkan kemenangan. Seperti peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada bulan Ramadhanpun, Rasul dan para sahabatnya selalu mendapat kemenangan yang gemilang karena mereka juga bersatu padu (berjamaah).

Maka kita bangsa Indonesia dalam hal meraih kemenangan atau kemerdekaan juga mempunyai pepatah kesatuan “Bersatu Kita teguh bercarai kita runtuh.”

Dengan kesatuan bangsa yang besar ini, kemerdekaanpun dapat diraih juga bertepatan pada bulan Ramadhan.

Maka sekali lagi saya katakan bahwa Jamaah Muslimin merupakan hidayah dari Allah.

Hidayah

Hidayah atau petunjuk tentang kebenaran (haq) itu mutlak dari Allah bukan dari manusia. Bahkan manusia ada yang menyembunyikan kebenaran.  Sebagaimana dijelaskan oleh Allah melalui Firman -Firman-Nya :

وَلَا تُؤْمِنُوٓا۟ إِلَّا لِمَن تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ ٱلْهُدَىٰ هُدَى ٱللَّهِ أَن يُؤْتَىٰٓ أَحَدٌۭ مِّثْلَ مَآ أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَآجُّوكُمْ عِندَ رَبِّكُمْ ۗ قُلْ إِنَّ ٱلْفَضْلَ بِيَدِ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

Artinya: Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu”. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS Ali-Imran [3]: 73).

Firman Allah pada ayat lain:

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ ٱلْيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَـٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُم بَعْدَ ٱلَّذِى جَآءَكَ مِنَ ٱلْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّۢ وَلَا نَصِيرٍ

Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]: 120).

Firman Allah pada ayat lainnya menyebutkan:

وَقَالُوا۟ كُونُوا۟ هُودًا أَوْ نَصَـٰرَىٰ تَهْتَدُوا۟ ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَٰهِـۧمَ حَنِيفًۭا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Artinya: Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”. (QS Al-Baqarah [2]: 135).

Pada ayat-ayat lain disebutkan :

وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَـٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 42).

يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ لِمَ تَلْبِسُونَ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَـٰطِلِ وَتَكْتُمُونَ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?” (QS Ali-Imran [3]: 71).

Semoga kita selalu mendapat hidayah dari Allah dan Muslim di manapun saja berada dapat mengambil pelajaran berharga dari hidayah kesatuan serta dapat mengamalkanya, Aamiin. (A/mus/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)