Hidup Ini Singkat

Oleh Bahron Ansori, jurnalis MINA

Cobalah hayati, apa yang gratis di muka bumi ini. Rumah, kendaraan, air, barang-barang berharga yang kita miliki, bahkan anak dan istri kita sekalipun hakikatnya semua itu bukan milik kita, tapi milik Allah. Sebagai manusia, kita hanya diberikan-Nya hak pakai, tapi tidak ada hak milik. Allah Ta’ala menjadikan apa yang kita miliki hari ini sebagai ujian dari-Nya. Karena Dia akan melihat sejauh mana makhluk bernama manusia ini mampu mensyukuri nikmat titipan-Nya itu.

Jangankan harta benda, anak dan istri yang dimiliki, seluruh tubuh ini pun hakikatnya milik Allah. Dia titipkan tubuh ini kepada ruh kita agar bisa  memaksimalkan pemanfaatannya dengan menjalankan ketaatan dan pengabdian secara totalitas hanya kepada-Nya (tadaburi Qs. Adz Zariyat ayat 56). Kita hanya diberi hak pakai untuk tubuh ini, jika sewaktu-waktu Dia akan mengambilnya, maka tak satupun dari kita mampu menahannya.

Inilah hidup. Seberat apa pun beban yang kita pikul hari ini. Sebesar apa pun ujian yang kita terima. Sekuat apa pun godaan yang menghadang. Sebesar apa pun kegagalan yang kita alami, semua itu harus kita jalani dan terima dengan ikhlas seraya menyandarkan hanya kepada Dia. Dia-lah satu-satu Tuhan yang tahu tentang siapa kita. Dia uji kita, karena Dia cinta kita, Dia sayang pada kita. Dia lebih tahu kenapa ujian ini dipikulkan kepada kita. Allah tidak zalim kepada hamba-Nya, dan tidak pernah membebani seseorang di luar kemampuannya (tadabburi Qs. Al Baqarah ayat 286).

La tahzan, jangan bersedih bila beban yang dipikul ini rasanya seberat gunung, seluas samudra, sebesar bumi. Tugas kita bukan untuk menyesali ujian, tapi bagaimana menyandarkan segala sesuatunya kepada Sang Pemilik segala ujian; Allah. Jangan pernah berhenti berharap pada pertolongan Ilahi. Jangan pernah berhenti berdoa kepada Rabbi. Karena harapan adalah masa depan. Karena harapan adalah sumber kekuatan. Karena doa adalah pintu kebaikan. Karena doa adalah senjata orang beriman.

Berdoalah atas setiap masalah yang diterima. Doa yang dipanjatkan hanya kepada Allah, penuh harap dan tangis, “Allahumma yatsir wa laa tu’atsirr”  Ya Allah, mudahkan semua urusan ini, dan janganlah dipersulit. Allah memang tidak pernah menjanjikan langit itu selamanya biru dan cerah. Allah juga tak selalu menjadikan bunga itu mekar dan indah. Bahkan Allah tidak menjanjikan matahari itu terus bersinar. Tapi Allah berjanji akan selalu mengabulkan doa setiap Mukmin yang dipanjatkan hanya kepada-Nya (tadabburi Qs. Al Mukmin ayat 60).

Hidup Hanya Sekali

Karena hidup ini hanya sekali, maka terlalu sayang jika kita memanfaatkan waktu yang dimiliki untuk sesuatu yang sia-sia, senda gurau dan main-main. Allah menciptakan kita untuk sesuatu yang penuh arti. Allah tidak pernah main-main menciptakan manusia di muka bumi ini (tadabburi Qs. Al Qiyamah ayat 36, Qs. Al Mukminun ayat 115).

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat 36 dalam Quran surat Al Qiyamah dengan berkata, “Maksudnya (mereka mengira) tidak diperintah dan tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Ini merupakan persangkaan yang batil dan menyangka bahwa Allah tidak (mencipta) sesuai dengan hikmah. (Taisir Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah).

Sementara, Syaikh Abu Bakar Al Jazaairy rahimahullah menjelaskan, “Maksudnya  (mereka mengira) dibiarkan begitu saja sia-sia tanpa diberi beban syariat di dunia dan tidak dihisab dan diberi balasan di akherat. (Aysarut Tafasir, Syaikh Abu Bakar Al Jazaairy rahimahullah).

Ibarat sebuah paku yang akan menghadapi kesulitan pada batang tubuhnya bila tidak tepat menempatkan diri. Bila paku itu jatuh di tanah, lalu terendam dalam air dalam waktu yang panjang, maka bisa dipastikan paku itu akan berkarat, tak bermanfaat sedikit pun, bahkan akan bisa jadi membahayakan jika terinjak kaki manusia. Tapi, bila paku itu bisa kita tempatkan pada tempatnya yang benar dan tepat, kita tancapkan ia pada sebuah dinding misalnya, walau pun paku itu berkarat, maka ia tetap punya manfaat bagi manusia, sebagai penopang tempat gantungan baju atau sebagai perekat aneka benda.

Begitu juga kehidupan manusia, bila ia tak pandai menempatkan diri, tidak sadar dan menyadari eksistensi dirinya, tidak mengerti tujuan dan arah hidupnya di dunia, maka ia tak ubahnya seperti seonggok jasad hidup yang terkatung-katung. Hidupnya kosong dari petunjuk, jauh dari kebahagiaan dan dekat dengan kehancuran. Hanya ada dua pilihan bagi setiap manusia; memilih hidup dalam bingkai syariat Ilahi yang akan menuntunnya pada kebahagiaan dunia akhirat (mukmin). Atau memilih sistem lain di luar syariat Allah sehingga kesengsaraan dunia akhirat menimpanya (kafir) (tadabburi Qs. Al Kahfi ayat 29).

Saudaraku,

Perjalanan hidup ini begitu singkat. Lihatlah orang-orang disekitar kita; satu per satu mereka telah meninggalkan kita pergi ke alam lain (barzah) yang kita tidak pernah tahu apakah mereka di sana termasuk orang-orang yang beruntung atau tidak. Bila saatnya tiba, kereta kematian (maut) itu pun akan datang menjemput, tanpa melihat apakah kita sudah siap atau belum. Ia datang tanpa kompromi. Ia datang tanpa diminta dan dinanti-nanti.

Tanyakan pada diri kita, berapa lama lagikah waktu tersisa yang kita miliki di dunia ini. Jaga waktu luang dan sehat kita agar senantiasa terisi dengan sesuatu yang bermanfaat. Sebab banyak manusia yang lalai saat diberi nikmat sehat dan waktu luang. Ingatlah, Nabi SAW pernah bersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas).

Ibnu Baththol mengatakan, “Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Siapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Siapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”

Ibnul Jauzi mengatakan, “Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, tapi ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, tapi ia dalam kondisi tidak sehat. Bila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”

Inilah hidup. Karena hidup hanya sekali, sejatinya ada waktu bagi orang beriman untuk mengisinya dengan suatu amal ibadah yang bermanfaat. Karena hidup ini hanya sekali, jangan biarkan waktu luang dan nikmat sehat itu tergadai oleh sesuatu yang tak bernilai pahala di sisi Allah Azza wa Jalla.

“Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan Islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman, akhirilah hidup kami dengan husnul khatimah.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau se­nantiasa memandangku, hadir di dekatku, sangat berkuasa terhadap diriku. Engkau meliputi diriku dengan pengetahuan, pen­dengaran, dan penglihatan-Mu.”

“Berikan­lah kepadaku kedekatan dengan-Mu dan perasaan takut kepada-Mu, maka kuat­kanlah keyakinanku kepada-Mu. Dan kepada-Mu aku bergantung, maka perbaiki­lah urusan agamaku.”

“Dan kepada-Mu aku berserah diri, maka berikanlah aku rizqi yang dapat mencukupiku. Dan kepada-Mu aku berlindung, maka peliharalah aku dari apa-apa yang menyakitiku. Engkau cukup bagiku dan Engkau sebaik-baik yang mengurus.”

“Ya Allah, jadikanlah aku ridha dengan ketentuan-Mu dan buatlah aku qana’ah (merasa puas) dengan pemberian-Mu, berikanlah aku petunjuk untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Mu, dan jadikanlah aku termasuk di antara para kekasih-Mu. Eng­kaulah Yang Maha Menolong lagi Maha Terpuji.” Aamiin. (RS3/P1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)