Hidup Tenang dengan Mengurangi Interaksi Medsos

(Renungan batin saat melaksanakan I’tikaf Ramadhan)

Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Allah Subhanahu wa Ta’la berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا (الاسراء [17]: ٣٦)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya.” (QS Al. Isra [17]: 36)

Dalam tafsir “Li Yaddabbaru Ayatih”, Prof. Umar bin Abdullah Al-Muqbil memberi penjelasan ayat di atas, bahwa sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawaban. Anggota badan itu bagaikan aliran sungai yang membawa sesuatu sampai ke hati, apakah itu sesuatu yang bersih ataupun kotor, barangsiapa yang sering berbuat ketaatan, maka akan mengalir kebersihan dalam hatinya. Namun barangsiapa yang melakukan kemaksiatan, maka sungguh ia telah membawa hatinya kepada kegelapan.

Tiga anggota badan itu merupakan anggota badan yang paling mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan penyebutannya untuk dimintai pertanggungjawaban, menunjukkan bahwa kebahagiaan manusia tergantung sehatnya ketiga anggota badan itu, sebaliknya celakanya hidup seseorang tergantung rusaknya ketiga anggota badan itu pula.

Salah satu kebutuhan manusia dalam hidup adalah ketenangan. Jika di hotel berbintang menawarkan kemewahan, restoran yang mewah menawarkan kelezatan makanan, media menawarkan hiburan, dan obyek-obyek wisata menawarkan eksotisme dan keindahan, akan tetapi, itu semua tidak ada yang bisa menjamin adanya ketenangan.

Ketenangan merupakan akibat dari sebuah perbuatan. Ketenangan adalah pemberian (given) dari Allah, sebagai Tuhan Yang mengatur segala sesuatu. Ketenangan menyangkut urusan jiwa (state of mind).

Maka, ketenangan bukan hanya milik orang kaya saja, tetapi orang miskin pun dapat merasakannya. Ia bukan pula milik para pejabat saja, tetapi juga bisa dirasakan oleh rakyat jelata. Bukan hanya dirasakan orang cerdik pandai saja, tetapi yang awam pun juga berkesempatan menikmatinya.

Inspirasi Ketenangan Batin dalam I’tikaf

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita selalu berzikir mengingat-Nya agar hati menjadi tenang.

اَلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوۡبُهُمۡ بِذِكۡرِ اللّٰهِ‌ ؕ اَلَا بِذِكۡرِ اللّٰهِ تَطۡمَٮِٕنُّ الۡقُلُوۡبُ (الرعد [١٣]: ٢٨)

 “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 28).

Ibadah menempa seseorang agar mampu memiliki kesalehan individual dan kesalehan sosial. Kesalehan individual teraktualisasi melalui shalat, zikir, doa dan sebagainya yang dapat membersihkan hati dan menenangkan jiwa. Ibadah juga dapat menyelamatkan manusia dari kegalauan dan kecemasan yang sering menguras energi dan pikiran. Syariat shalat membebaskan kita dari derita penyakit dunia, yakni hidup terasa hampa dan kehilangan makna. Shalat mencegah kita dari berbagai perilaku maksiat dan dosa.

Pakar psikologi Harvard University, AS, Daniel Golleman, dalam sebuah penelitiannya menyatakan, orang yang berjiwa tenang, tubuhnya mampu memproduksi antibody sehingga tubuhnya menjadi semakin kuat, energinya berlipat dan pikiran menjadi cemerlang dan tajam. Sebaliknya, ketakutan, kesedihan, kecemasan menjadikan antibody tubuh menjadi lemah, kesehatan daya pikir menurun, menimbulkan kekacauan dalam memutuskan persoalan strategis bagi masa depan, dan sering ceroboh serta panik dalam menghadapi keadaan genting.

Penulis sendiri merasakan, selama melakukan i’tikaf di masjid dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini, ibadah lebih fokus, pikiran lebih tenang dan lebih banyak referensi, khususnya dalam menghadapi berbagai persoalan umat. Tidak ada penderitaan dalam hidup ini, kecuali dirinya sendiri yang membuat menderita. Tidak ada kesulitan sebesar dan seberat apa pun di dunia ini, kecuali hasil dari buah pikiran dan perbuatan sendiri.

Dalam meneyelesaikan persoalan, bukan hanya ilmu dan keterampilan saja yang dibutuhkan, tetapi suasana hati juga mempengaruhi penyelesaian. Maka ketika hati ini mulai tergelincir ke dalam perasaan kecemasan dan kekhawatiran, segera kendalikan dan alihkan suasana hati dengan cara mengenang nikmat-nikmat Allah dan segala kebaikan yang Dia berikan.

Cendikiawan Muslim, Dr. Daud Rasyid mengatakan, manfaat I’tikaf setidaknya ada dua. Pertama, tercipta ketenangan jiwa dan batin. Para Mu’takifin (orang yang I’tikaf) akan lebih tenang dalam bersikap dan menghadapi berbagai persoalan sebab ketenangan dan kepasrahan (tawakkal) kepada Tuhan Yang Menciptakan dan mengurusi segala urusannya.

Kedua, dengan ketenangan dari para jamaah (anggota masyarakat), maka akan tercipta tatanan sosial yang damai dan sejuk, karena kearifan, kebijaksanaan dan ketenangan itu menyejukkan sikap hidup bermasyarakat.

Jika i’tikaf telah menjadi budaya di sebagian besar masyarakat, maka mereka tidak mudah terpancing emosinya, terjaga tutur kata, sikap dan perilakunya, sehingga menjadi masyarakat yang beradab. Mungkin hal ini agak sulit dipahami oleh mereka yang belum pernah merasakan manfaat i’tikaf lantaran belum pernah melakukannya.

I’tikaf Mengurangi Interaksi dengan Media Sosial

Penulis merasakan selama melaksanakan I’tikaf, aktifitas dan interaksi di dengan media sosial berkurang cukup signifikan. Hanya hal-hal penting saja yang dibaca dan direspon, selebihnya dengan fokus kepada ibadah, seperti shalat, baca Al-Quran, memberi tausiyah, baca buku-buku dan ibadah lainnya.

Mengurangi interakasi dengan media sosial, menurut beberapa penelitian juga menimbulkan dampak posistif bagi kesehatan seseorang. Jordyn Young dari Universitas Pennsylvania, AS mengemukakan hasil studinya, bahwa seseorang yang lebih jarang menggunakan media sosial umumnya cenderung tidak depresi dan tidak kesepian. Ia juga menambahkan, mengurangi penggunaan media sosial dapat menyebabkan terjadinya perbaikan, utamanya dalam hal kualitas kesejahteraan hidup seseorang.

Young menyimpulkan, seseorang yang melihat gambar/video makanan di restoran mewah, dokumentasi kebahagiaan liburan keluarga, romantisme pasangan, meriahnya pesta, atau konten lain membuat ia akan membandingkan hidupnya dengan konten yang ia lihat. Adanya perbandingan inilah yang memicu seseorang mengalami depresi.

Di akhir penelitiannya, ia menulis “Ingat, kebersamaan di dunia nyata, jauh lebih membahagiakan ketimbang sibuk melihat berbagai konten unggahan di media sosial.”

Pada peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia (World Suicide Prevention Day/WSPD) 10 September 2021 lalu, lembaga kesehatan PBB, WHO menyatakan, setiap 40 detik, satu orang di dunia meninggal karena bunuh diri. Jika melihat angkanya, lebih dari 800 ribu hingga satu juta orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun. Bunuh diri juga menjadi penyebab utama kematian pada anak yang masih berusia 15-19 tahun.

Lithuania dan Rusia menjadi negara yang paling tinggi angka bunuh diri warganya, yakni 30 orang per 100 ribu jiwa. Penyebab utamanya adalah depresi karena terpengaruh media seperti televisi dan medsos. Faktor lainnya seperti masalah ekonomi, kesenjangan sosial, kriminalitas, dan lainnya.

Sementara di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental di negeri kita masih dinilai rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari angka yang dapat menangani kasus kesehatan mental yang hanya berkisar pada 9 persen saja dari total jumlah penderita yang melakukan konsultasi.

Dokter spesialis kesehatan jiwa Indonesia, Teddy Hidayat mengatakan, penderita depresi di Indonesia terbilang tinggi. Hal ini berpotensi menjadi beban negara terbesar kedua pada hingga 2030 mendatang.

Dalam laman konsultasi klikdokter.com, beberapa dokter menjelaskan, terlalu sibuk dengan urusan duniawi juga menjadi faktor utama terjadinya depresi. Dalam beberapa kasus, terlalu terpaku pada urusan duniawi, sehingga sedikit sekali waktu untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, menjadi penyebab seseorang depresi.

Pendekatan spiritual sendiri telah banyak diadopsi oleh para psikiater Amerika Serikat yang dikenal dengan pendekatan bio psiko sosial dan spiritual, dalam upaya melakukan terapi terhadap pasien depresi. Caranya adalah dengan  meneguhkan keyakinan kepada Tuhan yang menguasai segala sesuatu,  memohon pertolongan-Nya melalui peribadatan yang dicontohkan dan selalu berdoa kepada-Nya terapi untuk pemulihan kesehatan.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

(A/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)