Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hijrah Nabi Ibrahim dari Irak ke Palestina

Ali Farkhan Tsani Editor : Zaenal Muttaqin - Sabtu, 6 Juli 2024 - 07:03 WIB

Sabtu, 6 Juli 2024 - 07:03 WIB

23 Views

Masjid Ibrahimi di Kota Al-Khalil (Hebron), Palestina. (Petra)

Oleh Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَنَجَّيْنَٰهُ وَلُوطًا إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلَّتِى بَٰرَكْنَا فِيهَا لِلْعَٰلَمِينَ

Artinya: “Dan Kami seIamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia”. (Q.S. Al-Anbiya [21]: 71).

Baca Juga: Perlindungan Anak dalam Perspektif Agama Islam

Ayat ini menjelaskan peristiwa hijrah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dan Nabi Luth ‘Alaihis Salam dari wilayah Ur, Babilonia (kawasan Irak selatan sekarang) ke Ardhu Kan’an (Palestina sekarang).

Di dalam Kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, menjelaskan, bahwa Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dan Nabi Luth ‘Alaihis Salam dari negeri Irak, yang saat itu dikuasai Raja Namrud yang menindas, ke sebuah negeri yang Allah telah memberkahinya untuk sekalian manusia.

Negeri yang diberkahi itu yakni negeri Ardhu Kan’an, suatu negeri yang diberkahi karena sangat subur dan terdapat banyak buah-buahan dan sungai-sungai, serta menjadi tempat diutusnya sebagian besar nabi-nabi dan menjadi tempat awal tersebarnya agama Islam dan keimanan kepada Allah.

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam (1997-1882 SM) menjadi Nabi sekitar tahun 1900 SM atau saat berumur 97 tahun. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam awalnya diutus untuk kaum Kaldan di wilayah Ur, Babilonia, yang saat itu dikuasai Raja Namrud.

Baca Juga: Islam Mengatur Peperangan, Membangun Perdamaian

Menurut pakar sejarah, Raja Namrud adalah Raja Babilonia Lama yang masih satu keturunan dengan Nabi Ibrahim dari jalur Arfakhsyadz bin Sem bin Nuh.

Kata “Ibrahim” disebut dalam Al-Quran sebanyak 69 kali pada 25 surat. Kata Ibrahim adalah isim `ajam (bukan Arab) yaitu bahasa Suryaniyah dan dalam bahasa Arabnya adalah Abun Rohim (اب رحيم) artinya bapak yang penyayang. Dinamakan demikian karena Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hati, penyayang dan penyantun.

Di dalam Al-Quran disebutkan:

 إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٌ

Baca Juga: Pengaruh Amal Saleh

Artinya: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (Q.S. At-Tabah [9]: 114).

Menurut teks kuno dan legenda, penguasa wilayah Babilonia tempat Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam lahir dan tinggal adalah Raja Namrud yang memerintah bersama Ratu Semiramis. Raja Namrud digambarkan sebagai tiran perkasa yang dzalim dan mengaku dirinya sebagai dewa penguasa alam, dan menentang dakwah tauhid yang disampaikan Nabi Ibrahim .

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam bersama isterinya, Sarah yang masih saudara sepupunya, dan kerabat dekatnya Nabi Luth ‘Alaihis Salam, berhijrah atas perintah Allah ‘Alaihis Salam, dari Babilonia ke Ardhu Kan’an.

Nabi Luth ‘Alaihis Salam kemudian berpisah, melanjutkan dakwahnya ke kawasan Sadum (Sodom), Yordania, tetangga Palestina.

Baca Juga: Itrek, Organisasi yang Membiayai Perjalanan Oknum Nahdliyin ke Israel

Disambut Raja Melkisedek

Saat itu, kedatangan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam disambut dengan baik oleh Raja Yebus Arab Kan’an yang menguasai wilayah Yebus (kemudian disebut Al-Quds atau Yerusalem), bernama Melkisedek atau Melik Sadek (ملكي صادق), sekitar tahun 1800 SM.

Raja Melkisedek terkenal shalih dan berpegang pada ajaran tauhid kepada Allah yang dibawa oleh nenek moyangnya, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam.

Tamer Al-Zaghari dalam Kitab Muluk Filistin (2021) menyebutkan ada 64 raja yang pernah berkuasa di wilayah Ardhu Kan’an (Palestina) selama 5.000 tahun. Di antara raja yang paling menonjol, menurut Al-Zaghari, adalah Sem bin Nuh, yang merupakan raja pertama Ardhu Kan’an pada 5.000 SM, dan Raja Melkisedek, yang berkontribusi dalam pembangunan kembali dan perluasan Kota Yebus (Yerusalem).

Baca Juga: Perhatian Terhadap Yatim Piatu di Lingkup Nasional dan Internasional

Raja Melkisedek merupakan orang pertama yang meninggikan fondasi Masjid Al-Aqsa, membangun Tembok Yebus, dan menimba air melalui terowongan batu. Ia juga biasa beribadah di kawasan Masjid Al-Aqsa.

Di samping itu Raja Melkisedek juga menyembelih kurban di atas batu di kawasan Al-Aqsa, dan membagikan dagingnya kepada orang-orang miskin sekitarnya, orang-orang yang membutuhkan, dan orang-orang yang lewat. Sehingga batu ini menjadi suci dan penting bagi kaumnya.

Raja Melkisedek ini terkenal karena kebenarannya, kebajikannya, dan kejujurannya, dan disebut sebagai Raja Segala Raja dan Raja Perdamaian.

Pada masa pemerintahannya Kota Yabus berkembang pesat, terutama antara tahun 1840 SM dan 1790 SM, dan menjadi lokasi komersial kaa itu. Pada masa kekuasaannya pula, ia menerima kehadiran Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, yang membawa risalah tauhid, pelanjut risalah Nabi sebelumnya, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam.

Baca Juga: Memahami Makna Hidup Berjama’ah

Perjalanan berikutnya, Raja Melkisedek memberikan keleluasaan kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam untuk ikut serta mengelola kawasan itu, dan kelak anak keturunannya pun demikian, dengan syarat tidak berbuat dzalim, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.

Dengan kepercayaannya itu pula Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam selanjutnya merenovasi bangunan Masjid Al-Aqsa yang pondasinya sudah ada sejak Nabi Adam ‘Alaihis Salam, dan meninggikannya seperti yang beliau lakukan terhadap Ka’bah di Makkah.

Nama Melkisedik memang masih asing didengar oleh cendekiawan Muslim khususnya dan umat Islam umumnya. Untuk menghangkat kembali nama Raja Mulkisedik, pada tahun 2009 Yerusalem yang dikenal sebagai ibu kota kebudayaan Arab menggelar “King Melchizedek Prize”, yang dikhususkan untuk penelitian yang berhubungan dengan sejarah Yerusalem.

Ketua Forum Intelektual Yerusalem, Talal Abu Afifa mengatakan, pemilihan nama King Melkisedek untuk penghargaan ini menunjukkan bahwa Yerusalem adalah wilayah Arab, sama seperti Melkisedek dulu dan akan tetap demikian, dan ini merupakan respons terhadap narasi Zionis. tentang Yahudi di kota itu.

Baca Juga: Larangan Memberikan Loyalitas dan Pertemanan dengan Yahudi

Dengan penghargaan ini, kata Abu Afifa, forum tersebut berupaya melibatkan para peneliti, khususnya generasi muda, dalam membuktikan identitas Yerusalem dan Arabismenya melalui penelitian ilmiah dan sejarah. Demikian dilaporkan Al Jazeera.

Menteri Kebudayaan Otoritas Palestina, Siham Barghouthi, mengatakan bahwa King Melchizedek Prize membawa implikasi penting dalam mendokumentasikan narasi sejarah Palestina tentang Yerusalem pada era tertentu sebagai pusat kebudayaan dan ibu kota bangsa Palestina sejak jaman kuno.

“Ini sangat berarti bahwa kami mendaftarkan hak alami kami dalam menghadapi upaya Israel untuk menghapus identitas Kota Yerusalem,” ujarnya.

Isteri-Isteri Nabi Ibrahim

Baca Juga: Perang Digital Membela Palestina

Selain Sarah isteri yang dibawa dari Babilonia, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam memiliki isteri kedua bernama Hajar, pemberian Raja Mesir kala itu.

Hajar adalah puteri seorang Raja Maghreb (kini meliputi Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mauritania dan Sahara Barat). Raja Maghreb masih keturunan Nabi Shaleh ‘Alaihis Salam.

Raja Maghreb kalah dalam peperangan melawan Raja Mesir, dan raja yang menang perang mengambil Sarah di kemudian hari sebagai salah satu tawanan dan pelayan di istana Raja Mesir. Namun karena Hajar memiliki darah raja, maka Hajar menjadi kepala dari semua budak perempuan di istana dan memiliki jalan ke semua harta Raja Mesir.

Raja Mesir merasa bersalah telah berbuat tidak baik terhadap Sarah, isteri Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, maka Raja Mesir menghadiahkan Hajar kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam Atas saran Sarah, Ibrahim kemudian menikahi Hajar.

Baca Juga: Diplomasi Publik Israel

Setelah melahirkan Nabi Ismail ‘Alaihis Salam, Hajar diantar hijrah atas perintah Allah, ke Bakah (Makkah), Arab Saudi, dan kemudian bermukim di sana bersama Nabi Ismail ‘Alaihis Salam.

Adapun kemudian dari Sarah, lahir Nabi Ishaq ‘Alaihis Salam. Setelah Sarah wafat, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam  menikah dengan Qanturah atau Qathura, warga Ardhu Kan’an (Palestina). Dari Qanturah, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam  memiliki enam anak, yaitu : Madyan, Zimran, Suraj, Yuqsan, Nusyaq dan anak keenam tidak dikenali namanya.

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam  juga menikah dengan istri keempat bernama Hajun binti Amin, penduduk Ardhu Kan’an (Palestina). Dari Hajun melahirkan lima anak, yaitu : Kaisan, Sauran, Amim, Luthan, Nafis.

Ajaran agama yang disampaikan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam  adalah tauhid kepada Allah, berlaku sebagai Muslim, orang yang berserah diri kepada Allah.

Baca Juga: Sinyal-Sinyal Kehancuran Zionis Israel Semakin Nyata

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam  bukan dan tidak mengajarkan agama Yahudi, bukan pula Nasrani. Dari sejarah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam  ini saja tercatat bahwa belum ada atau tidak ada jejak agama Yahudi sedikitpun. Terlebih agama Yahudi dan agama Nasrani itu muncul setelah masa Nabi Musa ‘Alaihis Salam, sekitar 1.500 tahun setelah masa Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam.

Allah menegaskan di dalam firman-Nya :

مَا كَانَ إِبْرَٰهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Artinya: “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Q.S. Ali Imran [3] : 67).

Menjelaskan ayat ini, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, di dalam Tafsir Al-Wajiz menjelaskan, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam  bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani. Sebab Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam  lebih dulu ada daripada dua agama yang berbeda ini.

Lebih dari itu, ajaran yang disampaikan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah mengesakan Allah  (tauhidullah) dan menjunjung kebenaran. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam juga adalah orang yang taat kepada Allah dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik, yang menyembah Tuhan lain selain Allah.

Bukti arkeologi adalah adanya kuburan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam di Kompleks Masjid Ibrahimi di Kota Al-Khalil (Hebron), Palestina. Al-Khalil merupakan salah satu kota terbesar di Tepi Barat, sekitar 30 km di selatan Yerusalem.

Di kompleks makam Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam  inilah kemudian dibangun Masjid Ibrahimi. Selain makam Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, di dalamnya terdapat pula makam Nabi Ishaq ‘Alaihis Salam (putera Nabi Ibrahim), dan makam Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam (cucu Nabi Ibrahim). Di kompleks itu terdapat juga makam Sarah (istri Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam), makam Ribka (istri Nabi Ishaq ‘Alaihis Salam), dan makam Leah (istri Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam).

Semua Nabi-Nabi itu adalah keturunan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, karena itu Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam bergelar Abul Anbiya, artinya Bapaknya Para Nabi.

Sejak tahun 1994, Masjid Ibrahimi di Kota Al-Khalil (Hebron) telah dibagi menjadi dua bagian, satu bagian untuk Muslim dan satu lagi untuk Yahudi. Ini menyusul pembunuhan 29 Muslim oleh pemukim ekstrim Yahudi Baruch Goldstein saat kaum Muslimin sedang melaksanakan shalat subuh pada tanggal 14 Ramadhan 1414 H. (25 Februari 1994 M).

Baruch Goldstein merupakan seorang dokter dan ekstremis agama Yahudi berkebangsaan Israel-Amerika Serikat, yang melakukan pembantaian massal di Masjid Ibrahimi yang menewaskan 29 Muslim Palestina dan melukai 125 orang lainnya. Goldstein kemudian dihajar sampai mati oleh para korban selamat dari pembantaian tersebut.

Begitulah, hijrah Nabi Ibrahim dari Irak ke Palestina membawa keberkahan dan kebaikan bagi masyarakat sekitarnya, dan hingga kini kita sebagai orang-orang beriman.

Nama Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam pula yang menjadi pendamping nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam bacaan shalawat pada duduk tasyahud di dalam shalat. Dalam bacaan, “Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollayta ‘alaa Ibraahim….”. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda