Hikmah Haji dan Amalan-amalan di Dalamnya

(Ilustrasi ibadah haji)

Oleh Bahron Ansori, wartawan Kantor Berita MINA

Sebentar lagi ibadah haji di bulan Dzulhijjah akan dilaksanakan. Sudah tentu ada begitu banyak hikmah haji dan setiap amalan yang ada di dalamnya. Di antara hikmah-hikmah haji itulah yang membuat kaum muslimin bagi yang mampu ingin rasanya melaksanakan haji berulang kali.

Hikmah haji dan sederetan amalan di dalamnya juga menjadi motivasi kuat mengapa seorang muslim harus melaksanakannya, terutama bagi yang Allah beri kemampuan. Bagi mereka yang belum mampu berhaji tentu ada kompensasi lain dari Allah yang bisa diamalkan seperti puasa hari Asyura pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiah (Ensiklopedi Fikih) ada beberapa hikmah pelaksanaan haji dan amalan yang terdapat di dalamnya antara lain sebagai berikut.

Pertama, mewujudkan kewajiban mentauhidkan Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Haj: 26-27

وَاِذْ بَوَّأْنَا لِاِبْرٰهِيْمَ مَكَانَ الْبَيْتِ اَنْ لَّا تُشْرِكْ بِيْ شَيْـًٔا وَّطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْقَاۤىِٕمِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ –

“Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud.”

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ – ٢٧

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”

Kedua, menampakkan butuhnya manusia kepada Allah. Orang yang sedang melaksanakan haji akan menjauhi kemewahan dan perhiasan dan memakai pakaian ihram terlepas dari dunia dan perhiasannya. Sehingga nampaklah kelemahannya, dan kemiskinannya.

Selama manasiknya, dia merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla, butuh kepada-Nya, bersimpuh di hadapan-Nya, tunduk mentaati perintah-perintah-Nya, menjauhi semua larangan-Nya baik dia mengetahui hikmahnya atau tidak.

Baca Juga:  Menhan Prabowo Kunjungi MBS Bahas Isu Global dan Palestina

Ketiga, mewujudkan takwa kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah: 197,

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!”  [Qs. Al-Baqarah: 197]

Keempat, melaksanakan dzikir kepada Allah Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah: 198-200,

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ ۗ فَاِذَآ اَفَضْتُمْ مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوْهُ كَمَا هَدٰىكُمْ ۚ وَاِنْ كُنْتُمْ مِّنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الضَّاۤلِّيْنَ – ١٩٨

“Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.”

ثُمَّ اَفِيْضُوْا مِنْ حَيْثُ اَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ – ١٩٩

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

فَاِذَا قَضَيْتُمْ مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَذِكْرِكُمْ اٰبَاۤءَكُمْ اَوْ اَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ –

“Bila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun.”

Kelima, mensucikan jiwa manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Baqarah: 197,

Baca Juga:  Empat Tentara Israel Tewas Tertimpa Bangunan di Rafah

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ

“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya.”

Dalam sebuah hadits, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,”Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Siapa yang berhaji karena Allah, tidak mengucapkan kata-kata kotor dan tidak melakukan kefasikan maka dia kembali sebagaimana pada saat dia dilahirkan oleh ibunya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (1521) dan Muslim (1350)]

Keenam, haji mengingatkan dengan akhirat dan berdirinya para hamba di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat.

Ketujuh, mendidik umat tentang arti dari persatuan yang benar.

Dalam ibadah haji, perbedaan -perbedaan di antara manusia seperti kaya dan miskin, kebangsaan, dan warna kulit dan yang lainnya tidak terlihat. Arah mereka terfokus kepada sang Pencipta Yang Maha Esa dengan pakaian yang sama, melakukan amalan-amalan di waktu dan tempat yang sama.

Selain itu juga terlihat adanya fenomena saling menolong di antara jamaah haji dalam  kebaikan  dan takwa serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Kedelapan, melaksanakan ibadah haji merupakan bentuk syukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat harta dan kesehatan badan. Dan masih banyak lagi hikmah ibadah haji yang lainnya.

Hikmah Setiap Amalan dalam Haji

Terkait dengan setiap amalan yang dilakukan dalam haji, sebagian ulama telah berijtihad  untuk mencari hikmahnya secara rinci. Di antaranya sebagai berikut.

1). Hikmah dari memakai pakaian yang tidak berjahit. Menurut penjelasan ulama di Komite Tetap Riset dan Fatwa Saudi Arabia hikmahnya adalah sebagai berikut:

  • Mengingatkan dengan keadaan manusia pada hari kiamat yang akan dibangkitkan dalam keadaan tanpa alas kaki dan pakaian.
  • Menundukkan jiwa manusia.
  • Menyadarkannya akan wajibnya kerendahan hati.
  • Mensucikan dari kesombongan.

Baca Juga:  MINA News, Kemlu RI Siap Bersinergi untuk Indonesia dan Palestina

2). Hikmah thawaf sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ

“Hanya saja dijadikannya thawaf di baitullah dan antara Shafa dan Marwah serta melempar jumrah adalah untuk menegakkan dzikir kepada Allah.” [HR. Abu Dawud (1888) dan At-Tirmidzi (902) dan At-Tirmidzi menyatakannya shahih.

3). Hikmah mencium Hajar Aswad bukanlah mencari berkah sebagaimana anggapan sebagian orang. Ini anggapan batil menurut Syaikh Utsaimin rahimahullah. Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, mengutip penjelasan Al-Muhallab, disyariatkannya mencium hajar aswad adalah sebagai ujian untuk mengetahui secara kasat mata ketaatan orang yang taat. Hal ini mirip dengan kisah Iblis yang diperintahkan untuk bersujud.” [Fathul Bari 3/463]

4). Hikmah sa’I, menurut Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah adalah agar manusia merasakan betapa butuhnya mereka kepada pencipta dan pemberi rezeki mereka yaitu Allah Ta’ala sebagaimana butuhnya Hajar kepada penciptanya dan pemberi rezekinya pada masa yang susah  dan penderitaan besar dahulu.

5). Hikmah bermalam di Mina, menurut Syaikh Bin Baz rahimahullah adalah memudahkan dalam melempar jumrah bila bermalam di Mina untuk menyibukkan diri dengan dzikir kepada Allah dan bersiap untuk melempar pada waktunya.

Bagi yang Allah mudahkan untuk pergi ke tanah suci, semoga Allah mudahkan semuanya, Allah jadikan hajinya mabrur dan tentu saja diharapkan bisa membawa dampak perubahan positif bagi diri, keluarga dan kehidupan sosial.[]

 

Mi’raj News Agency

 

Wartawan: Bahron Ansori

Editor: Widi Kusnadi