Hikmah Haji dan Qurban

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِلُزُمِ الْجَمَاعَةِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍالَّذِىْ اَرْسَلَهُ اللهُ

إِلَى جَمِيْعِ الْأُمَّةِ, وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَانِ لْأُ مًّةِ.

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَاللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

فَـإِنّ  أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَـابُ اللهِ , وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّالْأُمُوْرِ مُحْدَثاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِى لنَّارِ

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Pada kesempatan yang berbahagia ini khotib berwasiat kepada dirinya dan kaum muslimin yang hadir pada majelis ini, dengan wasiat taqwa, sebagaimana  firman Allah di atas yang artinya:  “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah kalian mati melainkan  dalam keadaan muslim”.

Bulan Dzulhijjah umat Islam bersama-sama akan merayakan hari besar Iedul Adha 1441H, dengan amalan khusus di dalamnya yaitu ibadah haji dan menyembelih qurban. Ibadah haji dan qurban sekali lagi mengingatkan kita terhadap kehidupan keluarga Nabi Ibrahim, bagaimana mereka berjuang dan berqurban untuk mendapatkan ridla Allah. Ibadah tersebut juga mengokohkan semangat kita untuk merenungkan apa arti qurban dan ibadah haji pada masa kini. Haji dan qurban adalah syariat untuk pensucian jiwa, membersihkan kotoran yang ada pada hati kita, sifat-sifat ananiyah atau egoisme dibersihkan melalui ibadah haji dan menyembelih qurban.  Kita tebar kepedulian sosial kita kepada sesama umat manusia melalui penyebarluasan daging qurban. Dengan visi rahmatal lil ‘alamin, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagaimana tahun sebelumnya, juga mempersiapkan Global Qurban, mengirimkan hewan qurban ke berbagai muslimin di dunia, seperti Filipina, Myanmar, Sudan, Nigeria, Thailand dan Gaza Palestina. Karena kita bersaudara, karena kita peduli sesama muslimin di manapun mereka berada, maka kita rekatkan tali ukhuwwah umat ini, kita berjama’ah. Demikian pula persahabatan hakiki kita jalin antar sesama muslim se dunia melalui ibadah haji dan global qurban.

Berkaitan dengan hari Idul Adha, setidaknya ada dua hal penting yang dapat kita teladani sebagai evaluasi diri kita sebagai hamba Allah:

Pertama: Ketaatan hamba kepada Allah

Nabiyullah Ibrahim ‘alaihis salam beserta keluarganya tercatat dalam sejarah kemanusiaan yang diabadikan Allah dalam firman-Nya, menjadi teladan umat bagaimana beliau melakukan ketaatan mutlak kepada Allah. Salah satu wujud ketaatan beliau adalah ketika beliau melalui mimpi diperintah Allah agar menyembelih putra satu-satunya, Ismail ‘alaihis salam. Sementara itu Nabi Ismail, sang putra, juga taat dan ikhlas menerima perintah Allah yang diterima ayahnya. Peristiwa sejarah tersebut diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. – Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya)”.  (QS.ash-Shoffat: 102-103).

Di hari raya Iedul qurban hingga hari-hari tasyriq, sebuah amalan khusus yang patut diperhatikan segenap kaum muslimin yaitu melakukan penyembelihan hewan qurban sebagai realisasi ketaatan terhadap perintah Allah.  Kata qurban secara etimologi berasal dari kata bahasa Arab, yang memiliki arti “dekat”. Jadi, qurban berarti mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya. Perintah berqurban bahkan disandingkan dengan perintah sholat: Maka laksanakan shalat karena Tuhan-mu dan berqurbanlah”  (QS. al Kautsar: 2).

Dalam arti yang lebih luas semangat berqurban mestinya mewarnai segenap amal-amal shalih atau setiap usaha pengorbanan hamba Allah dalam memperjuangkan tegaknya syariah Islam dalam segala bidang.  Amar ma’ruf nahi munkar, membangun ekonomi bebas riba, membantu muslimin yang tertindas di berbagai belahan dunia, seperti muslimin Palestina, Rohingya dan muslimin tertindas lainnya hendaknya terus berkobar dimanapun muslimin berada, mengingat gangguan dan ancaman musuh-musuh Islam dan muslimin yang tidak pernah berhenti.  Ingatlah firman Allah:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”  (QS.al-Baqarah: 120).

Ayat tersebut mengingatkan umat Islam agar:

  1. Umat Islam hendaknya waspada terhadap serangan pemadaman akidah Islam yang dilakukan secara sistematis, merasuki secara bertahap tapi pasti, dari aspek sosial-ekonomi-budaya hingga politik.
  2. Umat Islam jangan berpaling (tidak taat) dari pedoman syariah Islam, agar selamat serta mendapatkan perlindungan dan pertolongan Allah.

Buah dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kelak dikumpulkannya mereka bersama para Nabi, para syuhada dan orang-orang shalih umumnya. Allah berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”  (QS. an_Nisa: 69).

Kedua:  Kesatuan umat

Pada saat pelaksanaan ibadah haji di Mekah, umat Islam dari penjuru dunia, dari beraneka warna kulit, suku bangsa dan bahasa – mereka membaur dengan pakaian yang sama, dengan niat yang sama, mencari ridho Allah. Mereka membawa rasa cinta yang sama, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Keutuhan sebagai satu komunitas umat Islam ini mestinya berlanjut hingga selesai ibadah hajji ketika mereka kembali ke daerahnya masing-masing, sehingga wujud kesatuan umat tersebut bukan sebatas di saat melaksanakan ibadah haji. Kesatuan umat perwujudan ummatan waahidah yang indah adalah warisan Rasulullah dan para sahabat beliau wajib kita rangkai kembali karena kewajiban syariah. Pada masa itu kesatuan umat secara syar’iy memang menjadi pakaian umat, mewarnai gerak langkah sosial-ekonomi umat yang terpimpin sehari-hari. Perselisihan (ikhtilaf) hingga perpecahan (iftiraq) pada periode berikutnya hingga saat ini adalah “korban sejarah”. Sejarah munculnya kembali dendam kelompok, munculnya berbagai aliran pemikiran serta pengaruh eksternal musuh-musuh Islam dan muslimin yang tiada hentinya, bahkan secara sistematis berusaha memadamkan cahaya Islam di muka bumi.

Allah berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpegang-eratlah kamu semuanya dengan tali (agama) Allah seraya ber-Jama’ah, dan janganlah kamu berfirqoh-firqoh (tafarruq). Dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS.Ali Imran 103).

Fakta sejarah membuktikan, kini perpecahan umat terulang kembali di pentas sejarah peradaban milenial.  Selain disebabkan perselisihan internal akibat retaknya ukhuwwah ummat, juga rongrongan musuh-musuh Islam yang terus menghadang dan berusaha memadamkan cahaya Islam.  Populasi umat Islam 1,8 milyar saat ini tidak berdaya menghadapi gangguan dan penindasan musuh-musuh Islam.

Dari Tsauban r.a. berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda; “Hampir tiba suatu zaman di mana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni talam hidangan mereka”. Maka salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena kami sedikit pada hari itu?” Nabi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam menjawab, “Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa gentar terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan melemparkan ke dalam hati kamu penyakit ‘wahan’. Seorang sahabat bertanya: “Apakah ‘wahan’ itu, hai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab: “Cinta dunia dan takut mati”. (HR. Abu Daud).

Sejarah mencatat sepeninggal Khulafaur Rrasyidin al-Mahdiyyin, umat Islam di dunia ini terkotak-kotak dalam perbedaan aliran-aliran pemikiran, madzhab hingga ashobiyah antar bangsa antar wilayah. Akibatnya, umat 1,8 milyar (24% populasi penduduk dunia) dalam kondisi lemah tidak berdaya menghadapi fitnah dan serbuan musuh.  Lihatlah, muslimin Palestina tertindas oleh arogansi dan kedholiman Zionis Yahudi Israel dan Amerika Serikat. Waspadalah bagian wilayah Palestina kini sedang terancam dirampas Israel.  Saatnya muslimin sedunia bersatu menghadapi serbuan Israel di wilayah Palestina. Allah mengingatkan:

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfâl: 46)

Imam Al-Qurtuby menjelaskan maksud dari “watadzhabu rîhukum” pada ayat di atas adalah, “hilang kekuatanmu”. Sementara Imam Ath-Thabarî menjelaskan maksud dari “walâ tanâza’û fatafsyalû” adalah janganlah kamu berbeda kemudian kamu terpecahbelah yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan gentar. Sering kita dengar peribahasa yang mengatakan: “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”.

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam juga mengingatkan agar umat Islam menjaga kesatuan umat, hidup berjama’ah, tidak saling berselisih dan berpecah-belah, beliau bersabda :

“Hendaklah kalian berjamaah dan jangan bercerai-berai, karena syetan bersama yang sendiri dari pada dengan dua orang lebih. Barangsiapa ingin masuk ke dalam surga maka hendaklah komitmen dalam jama’ah” (HR At-Tirmidzi).

Kesatuan umat dalam membina dinamika kehidupan, akan melahirkan kebersamaan serta perwujudan hidup ber-Jama’ah. Dengan berjama’ah, muslimin akan saling kuat menguatkan, saling tolong menolong dalam kebaikan, karena tidak ada satupun manusia yang sempurna tanpa dukungan dan kerjasama dengan sesama. Bahkan orang-orang kafirpun saling kerjasama, sebagaimana firman Allah:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Dan orang-orang kafir itu sebagian mereka melindungi sebagian yang lain, maka jika kalian tidak berbuat begitu maka akan terjadi fitnah dimuka bumi dan kerusakan yang besar”

(QS. al-Anfal 73).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah            

Di Era globalisasi adalah peluang yang Allah berikan kepada kita, agar terus membina ummatan waahidah yang semakin luas di muka bumi ini. Kemudahan ilmu dan teknologi menjadi berkah jika dimanfaatkan secara positif dalam membina kesatuan umat, untuk menegakkan syariah Islam yang kaaffah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (S. al-Hajj: 40-41).

Kebalikannya, jika muslimin tidak terpimpin sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya, maka kehancuranlah yang akan terjadi.  Allah berfirman:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. “(QS. Al-Israa 17: 16).

DOA AKHIR KHUTBAH

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah          

Mengakhiri khutbah ini, marilah kita memanjatkan doa kepada Allah. Memohon tetapnya iman dan islam dalam diri kita hingga khusnul khotimah serta diselamatkan dari penyakit dan fitnah.

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِىْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ وَلَك الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

اللّهُم اغْفِرْلِلْمُؤْمِنِيْن وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّف بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَان وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُم عَلَى مِلَّةِرَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْابِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ

إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَامِنْهُمْ

اللّهمّ حَبِّبْ إلَيْنَاالإيمَان وَزَيِّنْه فِي قُلُوْبِنَاوَكَرِّهْ إلَيْنَاالْكُفْرَوَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَامِنَ الرَّاشِدِيْنَ

(A/P2/P1)

Mi’raj News A