Hikmah Pengorbanan di Hari Raya Kurban

ilustrasi seekor sapi yang akan dikurbankan di hari raya Idul Adha (foto: dok MINA)

Oleh Bahron Ansori, wartawan Kantor Berita MINA

Ada banyak hikmah dibalik pengorbanan di Hari Raya Kurban. Itulah mengapa setiap tahun kisah tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang menyembelih putranya Ismail selalu diingatkan terus kepada setiap manusia terutama kaum muslimin. Tentu saja ada pelajaran penting dibalik pengorbanan Nabi Ibrahim yang mengorbankan anaknya.

Pelajaran tentang korban di hari kurban dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail sejatinya menjadi motivasi bagi setiap muslim agar bisa meneladaninya dengan menyembelih kurban? Apa tujuan seorang muslim menyembelih kurban?

Di dalam kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini terdapat banyak pelajaran-pelajaran yang agung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآنَ

Kami Menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Quran ini kepadamu.” [Qs. Yusuf: 3]

Susungguhnya Allah mengisahkan berita-berita para Nabi dan rasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tujuan untuk mengokohkan hatinya dan memberikan kepadanya kisah-kisah yang benar juga nasehat dan peringatan untuk orang-orang beriman.

Allah Ta’ala menyebutkan kisah-kisah dalam al-Quran agar seorang muslim  merenungkan maknanya, menyingkap kandungan mutiara hikmah di dalamnya sehingga ia bisa mengambil hukum-hukum dan pelajaran dari kisah tersebut.

Namun semua itu hanya bisa dilakukan jika ia termasuk golongan ulul Al-albab. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. [Qs. Yusuf: 111]

Baca Juga:  Hamas: Perlawanan Berhasil Bubarkan Dewan Perang Zionis

Dr.jasim Al-Muthawwi’, seorang ulama Kuwait yang pernah menjadi Hakim di sana, menyebutkan sejumlah pelajaran dan hikmah di balik kurban sebagai berikut.

  1. Sikap mendengar dan taat yang sempurna. Ismail telah tunduk secara penuh kepada permintaan ayahnya betapa pun beratnya permintaan tersebut. Allah Ta’ala berfirman menggambarkan kepasrahan total ini dengan firman-Nya:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah).” [Qs. Ash-Shafat: 103]. Maksudnya adalah pasrah kepada perintah Allah ketika dia diberitahu mengenai hal tersebut.

2. Ganti yang cepat bagi kebaikan dan ketaatan. Ketika seseorang itu menaati Tuhannya atau seorang anak menaati ayah ibunya dalam hal perbuatan yang tidak disukai maka Allah akan mengganti untuk mereka berdua dengan yang lebih baik. Allah Ta’ala berfirman,

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ . قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ . إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ . وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Lalu Kami Panggil dia, “Wahai Ibrahim!Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami Memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami Tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [Qs. Ash-Shaffat: 104-107]

Ibrahim ‘alaihis salam mendapatkan penghargaan dengan segera sebagai hasil dari kesuksesannya dalam ujian keluarga tersebut. Demikian pula dengan anaknya, Ismail ‘alaihis salam dia mendapatkan penghargaan segera lainnya dengan turunnya domba besar sebagai hasil dari kebaktiannya kepada orang tuanya.

3. Amal shalih itu akan meninggalkan pengaruh. Amal shalih itu umurnya panjang dan pengaruhnya besar. Oleh karenanya, kisah penyembelihan ini menjadi sejarah bagi manusia dan menjadi agama bagi kemanusiaan. Pengaruh Ibrahim dan anaknya ‘alaihimas salam terus berlanjut sampai terjadinya kiamat.

Baca Juga:  Jaga Toleransi Masjid Al-Aqsa Menara Kudus Tak Sembelih Sapi Kurban

4. Sabar terhadap perintah yang berat. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan ucapan Ismail ‘alaihis salam:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ -١٠٢-

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Isma‘il) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang Diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”  [Qs. Ash-Shaffat: 102]

Ismail ‘alaihis salam kala itu baru berusia 15 tahun. Meskipun demikian, dia mengetahui makna sabar dan menjalankannya dalam kehidupan secara nyata. Dia memohon kepada Allah agar menolongnya untuk bersabar.

Ini merupakan indikator keberhasilan pendidikan dalam rumah tangga Ibrahim ‘alahis salam betapa pun berat dan sulitnya tugas dan tanggung jawab tersebut. Ibrahim ‘alaihis salam telah menanamkan dua nilai pada Ismail; pertama adalah sabar dan kedua adalah memohon kepada Allah agar bisa terus bersabar.

5. Selalu ada jalan keluar setelah kesulitan yang berat. Allah Ta’ala berfirman,

كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

” Demikianlah kami memberikan balasan bagi orang-orang yang berbuat ihsan (muhsinin).”  [Qs. Ash-Shaffat: 110]

Ini merupakan hukum kehidupan. Hasil akhir selalu bagi orang bertakwa, kemenangan itu datang bersama dengan kesabaran, jalan keluar itu setelah adanya kesulitan yang berat dan bahwa bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan. Ada banyak nilai yang kita pelajari dari kisah Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salam.

Baca Juga:  ICAN: Israel Punya 90 Hulu Ledak Nuklir

6. Kemurahan Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ . وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya dia (Ibrahim) termasuk hamba kami yang beriman. Dan Kami beri kabar gembira dia dengan (kelahiran) Ishaq, seorang Nabi yang termasuk orang-orang yang shalih.”  [Qs. Ash-Shaffat: 111-112]

Siapa saja yang bersabar atas perintah-perintah Allah yang sulit, maka Allah pasti akan melimpahinya dengan kemurahan-Nya jauh lebih banyak dari apa yang diminta oleh manusia.

7. Turunnya keberkahan dengan sebab ketaatan. Allah Ta’ala berfirman,

وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

Dan Kami Limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishaq. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. [Qs. Ash-Shaffat: 113]

Allah memberkahi Ibrahim ‘alaihis salam dan keturunannya dengan sebab ketaatannya dan keberhasilannya dalam ujian keluarga. Allah memberkahi keturunan Ismail, di antaranya adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Demikian pula, Allah memberkahi keturunan Ishaq, di antaranya adalah Nabi  Ya’qub dan Yusuf ‘alaihis salam. Semua ini merupakan balasan dari keberhasilan dalam ujian pengorbanan tersebut.

Jadi untuk setiap Muslim yang Allah mudahkan untuk berkorban di hari kurban tahun ini hendaklah yakin semua itu pasti akan dibalas oleh Allah dengan pahala berlipat, aamiin.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Wartawan: Bahron Ansori

Editor: Widi Kusnadi