HIKMAH UJIAN SAKIT

oleh Bahron Ansori*

Setiap manusia yang tercipta dan terlahir ke dunia fana ini pasti pernah mengalami sakit dan musibah walau hanya sekali selama hidupnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Baqaroh : 155-157).

Sakit dan musibah yang menimpa seorang mukmin mengandung hikmah dan merupakan rahmat dari Allah Ta’ala. Imam Ibnul Qayyim berkata, “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia dibawah sinar matahari. Dan inipun hanya kira-kira, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini.” (Syifa-ul Alil fi Masail Qadha wal Qadar wa Hikmah wa Ta’lil hal 452).

Seorang Muslim, tentu tak pernah lepas dari ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sakit, adalah salah satu bentuk ujian dari Allah Subhanawu Wa Ta’ala sebagai bukti cinta-Nya kepada seorang Muslim.

Dalam menyikapi sakit dan musibah tersebut, ada beberapa prinsip yang mesti menjadi pedoman seorang Muslim, antara lain:

Pertama, sakit dan musibah adalah takdir Allah Azza wa Jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. Al-Hadid : 22).

Dalam ayat lain Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya, “Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang melainkan dengan izin Allah. (Qs. At-Taghaabun : 11).

Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam bersabda, “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan semua takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653).

Kedua, sakit dan musibah adalah penghapus dosa. Ini adalah hikmah terpenting dari diturunkannya sakit dan musibah. Namun, sedikit sekali manusia yang bisa mengambil hikmah dibalik sakit dan musibah termasuk bagi si penerima sakit dan musibah itu sendiri. Ada sebagian orang saat menderita sakit dan menerima musibah justeru dengan mencaci maki, berkeluh kesah, dan putus asa hingga tak sedikit yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, na’uzubillah.

Sebagai Muslim yang lurus imannya, tentu hanya kepada Allah saja kita berlindung dari perbuatan buruk di atas. Sebenarnya, jika mereka mengetahui hikmah dibalik sakit dan musibah yang menimpa, maka semuanya akan terasa ringan dibanding banyaknya rahmat dan kasih sayang Allah dibalik sakit dan musibah yang diderita itu.

Ketika seorang Muslim mau dan menyadari, ternyata betapa banyak hikmah dibalik sakit dan musibah yang sudah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam berbagai sabdanya, antara lain;

Pertama, “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).

Masya Allah, betapa besar kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hambaNya yang diuji dengan sakit. Selama seorang hamba itu bisa menerima sakitnya dengan ikhlas dan sabar menerimanya, maka janji Allah dalam hadis di atas akan menjadi pelipur hati yang lara.

Kedua,“Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, gundah-gulana hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5641).

Itulah janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-Nya yang ditimpa keletihan karena bekerja, penyakit, kesusahan hidup, kesedihan akibat ujian yang mendera, gangguan, dan gundah gulana hingga duri yang menusuknya pun akan menjadi wasilah untuk menghapuskannya dari berbagai kesalahan.

Ketiga, “Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus-menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya.” (HR. Muslim no. 2573).

Keempat, “Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2399, Ahmad II/450, Al-Hakim I/346 dan IV/314, Ibnu Hibban no. 697, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Mawaaridizh Zham-aan no. 576).

Masya Allah, betapa hadis di atas jika dihayati sungguh membuktikan betapa besar kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada setiap hamba-Nya yang mengalami ujian sakit, baik itu pada harta maupun anaknya. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam mengatakan seorang mukmin tidak akan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala hingga ia kembali kepada-Nya benar-benar dalam keadaan tak memiliki kesalahan sedikitpun.

Kelima, “Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya”. (HR. Al-Hakim I/348, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Shohih Jami’is Shoghirno. 1870). Hadis ini pun menjadi penegas hadis-hadis lainnya yang menerangkan betapa besar rasa kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada setiap hamba-Nya yang diuji dengan sakit.

Masih banyak hadis lain yang menjelaskan betapa ujian sakit dan musibah yang diterima seorang Muslim hakikatnya adalah bukti cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala  kepada setiap hamba-Nya. Jangankan sakit yang berat, musibah yang besar, sekedar tertusuk duri dan sakit demam saja, yang menimpa seorang Muslim, maka akan menjadi penyebab dosa-dosanya terhapus.

Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya.” (HR. Muslim no. 2572).

Dalam hadis lain disebutkan, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka.” (HR. Al-Bazzar, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Silsilah al Hadiits ash Shohihah no. 1821). Orang yang menderita demam, akhlak yang terbaik adalah tidak mencaci maki penyakit demam itu, sebab Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam sendiri sudah mengingatkan melalui sabdanya, “Janganlah kamu mencaci-maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi.” (HR. Muslim no. 2575).

Ikhtiar

Walaupun demikian, apabila seorang mukmin ditimpa suatu penyakit tidaklah meniadakan usaha (ikhtiar) untuk berobat. Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak menurunkan penyakit melainkan pasti menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari no. 5678). Dan yang perlu diperhatikan dalam berobat ini adalah menghindarkan dari cara-cara yang dilarang agama seperti mendatangi dukun, paranormal, ‘orang pintar’, dan sebangsanya yang acapkali dikemas dengan label ‘pengobatan alternatif’. Selain itu dalam berobat juga tidak diperbolehkan memakai benda-benda yang haram seperti darah, khamr, bangkai dan sebagainya karena telah ada larangannya dari Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallamyang bersabda :

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan janganlah berobat dengan yang haram”. (HR. Ad Daulabi dalam al-Kuna, dihasankan oleh Syeikh Albani dalam kitab Silsilah al Hadiits ash- Shohihah no. 1633).

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian pada apa-apa yang haram”. (HR. Abu Ya’la dan Ibnu Hibban no. 1397. Dihasankan oleh Syeikh Albani dalam kitabMawaaridizh Zham-aan no. 1172).

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan penyakit kalian pada apa-apa yang diharamkan atas kalian”. (HR. Bukhari, di-maushulkan ath-Thabrani dalam Mu’jam al Kabiir, berkata Ibnu Hajar : ‘sanadnya shohih’, Fathul Baari : X/78-79).

Ketiga, wajib bersabar dan ikhlas bila ditimpa sakit dan musibah. Apabila sakit dan musibah telah menimpa, maka seorang mukmin haruslah sabar dan ridho terhadap takdir Allah Azza wa Jalla, dan harapkanlah pahala serta dihapuskannya dosa-dosanya sebagai ganjaran dari musibah yang menimpanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. Al-Baqaroh : 155-157).

Dalam beberapa hadis Qudsi Allah Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, jika engkau sabar dan mencari keridhoan pada saat musibah yang pertama, maka Aku tidak meridhoi pahalamu melainkan surge. (HR. Ibnu Majah no.1597, dihasankan oleh Syeikh Albani dalam Shohih Ibnu Majah : I/266).

Maksud hadis diatas yakni apabila seorang hamba ridho dengan musibah yang menimpanya maka Allah ridho memberikan pahala kepadanya dengan surga.

“Jika anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah akan berkata kepada malaikat-Nya, ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?. Para Malaikat menjawab, ‘Ya, benar’. Lalu Dia bertanya lagi, ‘Apakah kalian mengambil buah hatinya?’. Malaikat menjawab, ‘Ya’. Kemudian Dia berkata, ‘Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku itu?’. Malaikat menjawab, ‘Ia memanjatkan pujian kepada-Mu dan mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’un). Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Bangunkan untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga dan namai dengan (nama) Baitul Hamd (rumah pujian)’.” (HR Tirmidzi no.1021, dihasankan Syeikh Albani dalam Shohih Sunan Tirmidzi no. 814)

“Tidaklah ada suatu balasan (yang lebih pantas) di sisi-Ku bagi hamba-Ku yang beriman jika Aku telah mencabut nyawa kesayangannya dari penduduk dunia kemudian ia bersabar atas kehilangan orang kesayangannya itu melainkan surge. (HR. Bukhari).

“Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung berfirman : ‘Jika Aku menguji hamba-Ku dengan dua hal yang dicintainya (yakni menjadikan seorang hamba kehilangan dua penglihatannya/buta) lalu ia bersabar maka Aku akan menggantikan keduanya dengan surge. (HR. Bukhari).

Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah menyukai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridho maka baginya keridhoan, dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan. (HR. Tirmidzi no. 2396, Ibnu Majah no. 4031, dihasankan Syeikh Albani dalam Shohih Sunan Tirmidzi II/286).

Hikmah lainnya dari sakit dan musibah adalah menyadarkan seorang hamba yang tadinya lalai dan jauh dari mengingat Allah -karena tertipu oleh kesehatan badan dan sibuk mengurus harta- untuk kembali mengingat Rabb-nya. Karena jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah barulah ia merasakan kehinaan, kelemahan, teringat akan dosa-dosa, dan ketidakmampuannya di hadapan Allah Ta’ala, sehingga ia kembali kepada Allah dengan penyesalan, kepasrahan, memohon ampunan dan berdoa kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (Qs. Al-An’aam : 42).

Sakit dan musibah merupakan pintu yang akan membukakan kesadaran seorang hamba bahwasanya ia sangat membutuhkan Allah Azza wa Jalla. Tidak sesaatpun melainkan ia butuh kepada-Nya, sehingga ia akan selalu tergantung kepada Robb-nya. Dan pada akhirnya ia akan senantiasa mengikhlaskan dan menyerahkan segala bentuk ibadah, doa, hidup dan matinya, hanyalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.(T/R2/E1).

*Redaktur Miraj News Agency (MINA)

 

Miraj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0