HIZBULLAH BAYAR MAHAL UNTUK SELAMATKAN REZIM ASSAD

(Gambar: Anadolu Agency)
(Gambar: Anadolu Agency)

Beirut, 16 Rabi’ul Awwal 1437/27 Desember 2015 (MINA) – Hingga perang saudara di Suriah akan memasuki tahun keenam, kelompok Hizbullah Lebanon membayar mahal pembelaannya untuk menyelamatkan pemerintahan rezim Presiden Bashar Al-Assad.

Hizbullah pertama kali muncul pada 1980-an sebagai milisi berpaham Syiah, setelah Israel menginvasi Lebanon selama 15 tahun perang saudara di negara itu.

Kelompok ini kemudian terlibat perang gerilya melawan pasukan Israel di selatan Lebanon yang akhirnya menyebabkan penarikan penuh Israel dari Lebanon Selatan pada 2000.

Pada 2006, Israel melakukan serangan besar-besaran terhadap Hizbullah dengan kampanye serangan udara yang intens, menyebabkan kerusakan luas di seluruh negeri, termasuk di ibukota Beirut dan menewaskan sedikitnya 1.300 warga Lebanon.

Menurut sumber intelijen Amerika Serikat, Hizbullah dilaporkan memiliki hampir 6.000 personel di Suriah, demikian Anadolu Agency memberitakannya yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Organisasi pemantau Observatorium Suriah untuk HAM mengatakan, lebih dari 1.000 pejuang Hizbullah telah tewas di Suriah sejauh ini, tetapi sulit untuk memverifikasi angka tersebut karena Hizbullah sangat merahasiakan jumlah milisinya di Suriah.

Pada 2012, Hizbullah membantah laporan media internasional yang menyebutkan milisinya telah berperang di Suriah.

Kelompok ini kemudian mengatakan pejuangnya berada di Suriah untuk melindungi daerah-daerah strategis di mana komunitas Syiah tinggal.

Ketika beberapa pejuangnya tewas di Suriah, Hizbullah berkilah bahwa pejuangnya berada di negara itu untuk memberikan pelatihan dan membantah laporan bahwa anggotanya telah berjuang di garis depan.

Namun pada 2013, pemimpin kelompok itu, Hassan Nasrallah mengatakan, Hizbullah sedang berjuang melawan “kelompok-kelompok ekstremis” di Suriah.

“Kami akan menang. Kami tidak akan membiarkan Suriah jatuh,” katanya.

Pada Mei 2013, Hizbullah masuk dengan kekuatan penuh dan merebut kota strategis Al-Qusayr dari oposisi Suriah di dekat perbatasan dengan Lebanon.

Namun di tahun itu pula Hizbullah kehilangan lebih dari 100 pejuangnya dan hampir 300 militan yang terluka dalam pertempuran.

Pada 2014, pasukan Hizbullah bertempur melawan pasukan oposisi Suriah di Lembah Bekaa, Idlib, Latakia dan Aleppo.

Pada 2015, Hizbullah terus menjadi pendukung penting rezim Suriah, tetapi mereka kehilangan banyak komandan senior dalam perjuangannya. (T/P001/R05)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)