Jakarta, MINA – Sebanyak 1.874 titik panas (hotspot) terdeteksi di Pulau Sumatra pada Senin (31/8). Kondisi tersebut menunjukkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai meski sejumlah wilayah mulai mengalami penurunan titik panas.
Berdasarkan pemantauan BMKG, Sumatra Selatan menjadi wilayah dengan sebaran hotspot yang masih tinggi. Sementara itu, Riau tercatat mengalami penurunan hingga tersisa 62 hotspot. Data tersebut menunjukkan kondisi karhutla di Sumatra masih dinamis dan membutuhkan pemantauan berkelanjutan.
Di sisi lain, data Kementerian Kehutanan sebelumnya menunjukkan hotspot di sejumlah provinsi prioritas mengalami penurunan. Pada 29 Agustus, Sumatera Selatan turun dari 1.036 menjadi 808 hotspot, Riau dari 265 menjadi 254 hotspot, dan Jambi dari 181 menjadi 159 hotspot berdasarkan data SiPongi dengan berbagai tingkat kepercayaan.
Meski tren di sejumlah wilayah membaik, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan karena kebakaran masih berlangsung di beberapa lokasi. Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan melakukan patroli, pengecekan lapangan, pemadaman darat, pendinginan, penyekatan penjalaran api, serta pemantauan lokasi yang berpotensi terbakar kembali.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
BMKG juga menyebut sekitar 80 persen wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau dengan sebagian besar wilayah memasuki puncaknya pada Agustus. Kondisi kering tersebut turut meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla, meskipun hujan lokal masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah.
Masyarakat di wilayah yang masih terdampak asap diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker, serta tidak melakukan pembakaran lahan. Kewaspadaan perlu dipertahankan karena memasuki September, kondisi karhutla masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Sumatra. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
















Mina Indonesia
Mina Arabic