Hujan Itu Rasul Utusan Allah, Sikapilah dengan Kesyukuran

 

Oleh: Sakuri, Waliyul Imam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Jabodetabek

Saat musim kemarau panjang beberapa bulan yang lalu, peristiwa turunnya hujan adalah momen yang sangat dinanti-nantikan. Berbagai cara pun dilakukan untuk mengundang datangnya hujan seperti shalat Istisqa. Bahkan rekayasa hujan buatan pun dibuat dengan menyemai awan dengan menaburi garam yang digalakkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mengurangi titik panas akibat pembakaran hutan.

Namun ketika hujan mulai turun dari mulai rintik-rintik ringan, sedang, lebat bahkan sampai banjir dan longsor, lalu kita kecewa, sedih, marah, kita lupa bahwa kita pernah berdoa meminta hujan beberapa bulan yang lalu saat kemarau panjang.

Padahal saat turunnya hujan adalah momen memanen keberkahan, kalau kita pandai mensyukuri, memaknai, memanfaatkan dan memberdayakan hujan yang merupakan rahmat, anugerah dari Allah.

Belanda misalnya, negeri yang mengalami banjir bertahun-tahun, bahkan negeri ini dikepung lautan, tetapi kemudian mereka mengubah musibah menjadi tantangan untuk memaknai, memanfaatkan dan memberdayakan hujan dengan cara mempelajari hujan, banjir dan air. Akhirnya mereka justru maju.

Hujan dalam Al-Quran merupakan rasul utusan Allah

Dalam Al-Quran hujan merupakan rasul utusan Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surat Nuh ayat 11,
يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا

“Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.”

«يرسل السماء» المطر وكانوا قد منعوه «عليكم مدرارا» كثير الدرور.

(Niscaya Dia akan mengirimkan hujan) pada saat itu mereka sedang mengalami kekeringan karena terlalu lama tidak ada hujan (kepada kalian dengan lebat) dengan deras. (Tafsir Al-Jalalain, Nuh 71:11)

Berikutnya dalam Ayat 12, Allah berfirman,

وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَٰلٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّٰتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَٰرًا

“Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”

«ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنات» بساتين «ويجعل لكم أنهارا» جارية.

(Dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun) ladang-ladang (dan mengadakan pula bagi kalian sungai-sungai yang mengalir di dalamnya. (Tafsir Al-Jalalain, Nuh 71:12).

Hujan untuk menjaga kelangsungan hidup umat manusia

Air hujan yang Alah turunkan berfungsi untuk menumbuhkan kebun-kebun yang berpemandangan indah sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran Surat An-Naml ayat 60:

أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ

“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran)”.

Air hujan menumbuhkan pepohonan dan pepohonan menghasilkan oksigen yang sangat diperlukan untuk kelangsungan kehidupan manusia di muka bumi.

Al-Quran juga menjelaskan bagaimana oksigen bisa terbentuk. Ilmu pengetahuan modern mengatakan, oksigen dihasilkan oleh fotosintesis tumbuh-tumbuhan. Sekiranya tidak ada tanaman yang berfotosintesis maka oksigen akan lenyap dari bumi lalu kehidupan di muka bumi akan mati.

Subhanallah, Allah turunkan hujan dan menjadikan hutan-hutan di bumi berfotosintesis menghasilkan oksigen (O2) untuk dihirup manusia sehingga pada gilirannya akan menjaga kelangsungan kehidupan umat manusia.

Allah berfirman, yang artinya, “Tidakkah kamu perhatikan api yang kamu nyalakan. Kamukah yang menjadikan pohon itu atau Kami yang menjadikannya?” (QS. Al-Waaqi’ah ayat 71-72).

Mengapa Allah menyebutkan kata “pohon” (syajarah) bukan disebut kayu (khusyub)? Karena biasanya orang menyalakan api dari kayu, bukan pohon. Lalu, apa pula kaitannya antara menyalakan api dan pohon?

Al-Quran menjelaskan, terbentuknya oksigen berasal dari sinar matahari, karbon dioksida, dan klorofil yang berasal dari pohon untuk melakukan fotosintesis. Salah satu unsur terbentuknya oksigen diperlukan kehadiran pohon yang hidup.

Tahapan selanjutnya, bisakah api menyala tanpa adanya oksigen? Jawabannya tentu saja tidak. Inilah dimaksudkan dalam ayat ini. “Tidakkah kamu perhatikan api yang kamu nyalakan?” (QS al-Waaqi’ah 71).

Ayat ini langsung bersambung dengan pertanyaan Allah, “Kamukah yang menjadikan pohon itu atau Kami yang menjadikannya?” (QS al-Waaqi’ah 71-72).

Allah ingin menyampaikan bahwa oksigen sebagai unsur yang menjadikan terbentuknya api tersebut berasal dari pohon. Tanpa adanya fotosintesis dari pohon-pohonan, tak akan ada zat yang bernama oksigen.

Siapakah yang menumbuhkan pohon tersebut?

Allah menjawab dalam An-Naml Ayat 60 yang artinya, “Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)?

Hujan untuk meghidupkan bumi setelah matinya

Air hujan yang Alah turunkan berfungsi juga untuk menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran Surat Ar-Ruum ayat 24.

وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.”

Dalam Al-Quran Surat Al-Ankabut ayat 63 Allah juga berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?’ Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah.’ Tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).”

Hujan dapat menjadi alat diagnosa keimanan dan ketakwaan

Hujan dapat dijadikan alat ukur diagnosa keimanan dan ketakwaan seseorang. Hujan yang turun adalah berkat karunia Allah dan rahmat-Nya, bukan selainnya. Dalam hadits qudsi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

هَلْ تَدرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوْا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: قَالَ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

“Tahukah kamu, apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau pun bersabda, “Dia berfirman, ‘Pagi ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang mengatakan: Hujan turun kepada kita berkat karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Sedangkan orang-orang yang mengatakan: Hujan turun kepada kita karena bintang ini atau bintang itu, maka dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Bukhari, no. 1038).

Di musim hujan seperti ini, pada suatu malam di kota Madinah, saat peristiwa Hudaibiyyah, tepatnya di Hudaibiyyah, para sahabat ketika itu mengalami hujan turun sangat lebat. Pada pagi harinya setelah selesai shalat subuh Rasulullah menghadap jamaah lalu bertanya, “Tahukah kamu, apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu terkait hujan yang turun tadi malam?”

Pertanyaan Rasulullah “Tahukah kamu, apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu” menunjukkan apa yang akan disampaikan Rasulullah sangat penting.

Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”

Lalu Rasulullah sampaikan pesan Allah sebagaimana disebutkan dalam hadits qudtsi di atas.

“Orang yang mengatakan, ‘Hujan turun kepada kita berkat karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang.
Sedangkan orang-orang yang mengatakan, ‘Hujan turun kepada kita karena bintang ini atau bintang itu, maka dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang’.”

Maka waspadalah di saat-saat perubahan cuaca, iklim, situasi dan kondisi seperti sekarang ini, jangan sampai menggerus ketakwaan kita kepada Allah, dengan senantiasa mensyukuri hujan yang merupakan rasul utusan Allah, memaknainya, memanfaatkannya dan memberdayakan hujan yang merupakan rahmat, anugerah dari Allah. (A/RS5/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)