Ibn Battuta dan Sunan Gresik, Bukti Kedekatan Indonesia dan Maroko Sejak Masa Lalu

(Foto: Kemlu)

​​Jakarta, MINA – Indonesia dan Maroko ternyata memiliki kedekatan corak keIslaman yang telah terjalin sejak masa lampau dan berlangsung hingga kini.

Seminar daring “Khazanah Interaksi Keilmuan Islam Indonesia dan Maroko” yang diselenggarakan oleh Kemlu dan KBRI Rabat bekerja sama dengan Kedutaan Besar Maroko di Jakarta, Kamis (15/10), mengungkap fakta-fakta sejarah yang menarik mengenai interaksi Islam antar kedua negara.

“Di abad ke-13, Ibn Battuta, seorang ilmuwan dan penjelajah asal Maroko, telah berlayar sampai ke Aceh di tahun 1345,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Hasrul Azwar dalam sambutannya, sebagaimana keterangan resmi yang dikutip MINA.

Para narasumber yang merupakan para civitas akademia dari Indonesia dan Maroko yaitu Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A., Dr. Eka Putra Wirman, Dr. Mohammed Rougi dan Dr. Khalid Zahry juga menjelaskan interaksi keilmuan yang telah terjalin antara Indonesia dan Maroko baik di masa lalu hingga sekarang.

Syaikh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik dari Maroko sebagai penyebar agama Islam pada abad ke-16, juga adanya penggunaan kitab-kitab karangan ulama Maroko di pesantren-pesantren Indonesia dan tersebarnya tarekat Tijaniyah asal Maroko di Indonesia, menegaskan interaksi budaya Islam di Indonesia dan Maroko di masa lampau.

Pada masa sekarang, salah satu titik tautnya adalah mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di berbagai universitas di Maroko serta partisipasi ulama Indonesia sebagai pembicara pada acara durus hasaniyyah.

Interaksi ini perlu terus ditingkatkan dan dioptimalkan untuk kepentingan kedua negara.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A. menyatakan, saat ini UIN Syarif Hidayatullah dalam proses merealisasikan rencana pendirian Pusat Studi Indonesia di Universitas Ibn Tufail, Quneitra, Maroko.

“Hal ini juga akan berakibat pada peningkatan people-to-people connection yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong peningkatan hubungan ekonomi, terutama di sektor perdagangan antar kedua negara,” pungkasnya.

Seminar daring ini merupakan rangkaian kegiatan peringatan hubungan diplomati Indonesia dan Maroko. Selanjutnya akan diselenggarakan seminar daring kerja sama antar Pemerintah Daerah di kedua negara pada 22 Oktober 2020, virtual business meeting, penayangan film nasional hingga pameran kebudayaan kedua negara.(R/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)