Ibunda Relawan Indonesia di Gaza Ir. Edi Wahyudi Wafat, “Insyaallah Surga Menunggumu”

Direktur RS Indonesia di Gaza dr. Sauqi Salim dan staf mengunjungi Wisma Indonesia mengucapkan rasa duka dan doa untuk ibu Ir. Edi Wahyudi yang wafat di Indonesia, Senin, 13 Januari 2020. (Foto: MER-C)

Gaza, Mina – Ibunda dari Ir. Edy Wahyudi, relawan yang diamanahkan sebagai Site Manager Pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina, Kusrini binti As’ari wafat dalam usia 83 tahun, Ahad, 12 Januari 2020 sekitar pukul 08.00 pagi di rumah kediaman putrinya yang ketiga, Nurjaenah, di Jalan Cempaka 6 No 121 Perumnas 1 Bekasi.

“Hidup adalah perjuangan, dan perjuangan memerlukan pengorbanan,” kata Edi di Jalur Gaza pada Senin (13/1), saat MINA menghubunginya melalui sambungan telepon terkait dengan wafatnya ibunda tercinta yang tidak sempat merawat jenazah almarhumah karena sedang berada di Jalur Gaza.

Menurutnya, tidak ada perjuangan apapun tanpa adanya pengorbanan. Perjuangan membangun Rumah Sakit Indonesia yang diinisiasi MER-C di Gaza adalah perjuangan untuk membangun tali batin rakyat Indonesia, yang selalu akan mendukung kemerdekaan Palestina.

“Meninggalkan orangtua yang sedang dalam keadaan sakit-sakitan terasa berat, tetapi mengingat ini adalah amanah dari Imaam Yakhsyallah Mansur untuk berangkat ke Gaza, tidak ada kata lain selain jawaban sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taati),” kata Edi.

Ia mengenang saat akan berangkat ke Gaza, menitipkan seluruh keluarganya hanya kepada Allah.

“Saat Ibu dalam keadaan sakit berat, hanya bisa menyuarakan lewat video call dan Ibu kelihatan berlinangan air mata karena beliau sudah tidak bisa mengeluarkan suara. Saya tidak sempat merawat jenazah ibu karena sedang bertugas. Hanya bisa memandang lewat video detik-detik ibu dikuburkan. Perjuangan berbakti kepada kedua orangtua saya teruskan dan wujudkan dalam amal saleh kami membangun Rumah Sakit Indonesia Tahap Kedua ini. Maafkan saya ibu. InsyaAllah surga menunggumu,” kenang Edi.

Almarhumah Kusrini binti As’ari semasa hidupnya pernah bertugas sebagai pegawai negeri jururawat kesehatan di RS Hasan Sadikin Bandung. Namun sebelum pensiun almarhumah mengundurkan diri karena amanah dari suaminya almarhum Abu Darta, ayah Edi yang seorang pelaut, berpindah ke Jakarta.

Almarhum Abu Darta yang meninggal lebih dahulu semasa hidupnya pernah menjadi tenaga teknis alat-alat berat yang disubkan ke PT Waskita Karya, mempunyai pengalaman las bawah laut (penyelam) dan terakhir sebagai Kepala Kamar Mesin PT Sriwijaya Raya Lines Jakarta.

Berbagai kalangan Palestina mendoakan almarhumah, mulai dari kelompok pejuang Hamas, Jihad Islam dan juga Fatah, serta masyarakat Gaza pada umumnya. Ada yang datang langsung dan ada melalui pesan di telepon. Mereka ikut merasa kehilangan dan rasa duka yang mendalam atas kepergian ibunda relawan Indonesia itu.

“Semoga Allah memaafkan dosa dan khilafnya, dan memasukannya ke dalam surga-Nya. Semoga keluarganya diberikan kesabaran ” kata Edi menirukan doa para pentakziah.

Sementara itu, Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Yakhsyallah Mansur hadir takziah di rumah kediaman putri almarhumah yang ketiga.

Dalam tausiyahnya, Imaam menyampaikan pesannya agar anak-anak almarhumah senantiasa berbakti kepada kedua orangtuanya meskipun keduanya telah meninggal, dengan mengamalkan empat hal, pertama mendoakan keduanya, kedua memohonkan istighfar, menyambung silaturahim, dan keempat melanjutkan kebiasaan baik kedua orangtua semasa hidupnya. (L/RS5/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)