Idul Adha, Imaam Yakhsyallah Jelaskan Pengertian Ghuroba

Al-Muhajirun,  Lampung, MINA- Dalam tausiyah Hari Raya Idul Adha 1441, Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur menjelaskan mengenai pengertian dan siapa saja yang termasuk ghuroba (orang-orang asing).

Bertempat di Masjid An-Nubuwwah, Dusun Muhajirun, Lampung, Imaam Yakhsyallah menyampaikan sebuah hadits tentang pengertian Ghuroba (asing). “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145).

Lafadz ini disepakati keshohihannya, adapun beberapa riwayat lain dengan tambahan tentang siapa yang dimaksud dengan Ghuroba (asing) tersebut, diperselisihkan keshohihannya”, kata Imaam.

Orang-orang yang termasuk kategori asing adalah mereka yang senantiasa menghidupkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad. Adapun mengenai pengertian sunnah, ada empat pengertian, yakni :

Pertama. Dari sisi hadits, yang dimaksud sunnah adalah apa-apa yg disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, baik ucapan, perbuatan atau ketetapan. Ada sebagian ulama yang menambahkan: keinginan.

Kedua. Dari sisi fiqh, sunnah adalah sesuatu hal yang apablia dikerjakan akan mendapatkan pahala, bila tidak dikerjakan maka tidak mendapat dosa.

Ketiga. Dari sisi ushul fiqh, sunnah adalah sumber hukum yang kedua, setelah Al-Quran.

Keempat. Dari sisi amaliyah, sunnah adalah apa yang dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, baik yang sifatnya khusus untuk beliau sendiri (tidak boleh ditiru ummatnya), untuk beliau dan ummatnya, dan khusus untuk ummatnya.

“Kalaulah kita memandang semua sunnah dari sisi fiqh saja, maka sedikit sekali yang melaksanakan. Contoh nya : sholat sunnah fajar (qobliyah shubuh), adzan awwal (sebelum adzan shubuh), memperbanyak takbir pada Idul Adha (takbiran) dan lainnya”, kata Imaam.

Di zaman jahiliyyah, sebelum Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam diutus, banyak diadakan Hari Raya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikannya dengan dua hari raya Islam, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Yang termasuk hal asing adalah meramaikan keduanya dengan memperbanyak takbir (takbiran).

“Untuk meramaikan ‘Idul Fitri di Indonesia, takbiran sudah tidak asing lagi, tapi lain halnya dengan Idul Adha, yang biasanya terasa sepi. Padahal semestinya Idul Adha lebih meriah dari pada Idul Fitri.

Untuk Hari Raya Idul Adha 1441 H ini, mari kita ramaikan lebih dari Idul Fitri, setidaknya dalam sisi pengeluaran finansial (qurban),  semangat  Idul Adha lebih besar dan lebih semarak dari pada Idul Fitri.” harapnya. (R/SH/P2)

Mi’raj News Agancy (MINA)