Ifdal Yusuf, Imam Masjid Charlotte, AS Asli Indonesia

Tidak semua kalangan muda AS menjadikan kesuksesan duniawi menjadi tujuan hidup. Misalnya, Ifdal Yusuf, diaspora muda Indonesia yang kini tinggal di Dallas, negara bagian Texas, AS itu memilih untuk menjadi ustaz agar bisa menjadi mentor dan pembimbing rohani bagi anak-anak.

Kisah sukes Ifdal  berawal sejak tahun 1998, saat usianya baru dua tahun, dirinya sudah diboyong orangtuanya dibawa pindah ke Amerika Serikat.

“Saya lahir di Jakarta, 29 Mei 1996,” kata Ifdal kepada MINA melalui sambungan telepon langsung dari Dallas, Amerika Serikat (AS) kota domisili Ifdal.

Ifdal adalah warga Muslim kota Dallas, menurut sumber VOA, jumlah Muslim di Amerika kian terus bertambah. Rata-rata pertambahannya mencapai 100 ribu orang per tahun.

“Islam di Amerika sudah mulai kuat. Ada banyak Imam dan Syaikh di sini yang membantu para jamaah Muslim di Amerika belajar tentang Islam,” katanya.

Ifdal sendiri belajar menghafal Al Quran di usianya yang masih dini, 14 tahun memalui beberapa Syaikh di kota itu.

Dallas adalah salah satu kota besar di AS, di negara bagian Texas. Ini adalah kota terpadat di metroplex Dallas-Fort Worth, wilayah metropolitan keempat di Amerika Serikat. Populasi kota menempati urutan kesembilan di AS dan yang ketiga di Texas setelah Houston dan San Antonio.

Keunggulan kota muncul dari kepentingan bersejarahnya sebagai pusat industri minyak dan kapas, dan posisinya di sepanjang banyak jalur kereta api. Sebagian besar kota ini berada di County Dallas.

Menurut Sensus Amerika Serikat 2010, kota ini memiliki populasi sebanyak 1,3 juta jiwa.

Menurut sebuah studi dari Journal of Race, Ethnicity, dan Religion on Muslim Latinos di AS, banyak orang Amerika Latin masuk Islam karena keinginan untuk memiliki pengalaman lebih langsung dan pribadi dengan Tuhan.

Kaum Muslim di Amerika Serikat terdiri atas imigran keturunan Afrika (Afro-Amerika), penduduk Eropa yang masuk Islam, dan para pendatang sementara (mahasiswa, diplomat, dan lainnya). Komposisi asal-usul mereka adalah Afrika (42 persen) Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh (24,4 persen), Turki (2,4 persen) Asia Tenggara (2 persen), kulit putih Amerika (1,6 persen) dan lain-lain (6,4 persen) termasuk sekitar 5000 muslim keturunan Spanyol (Hispanik).

Sebagian besar mereka, sekitar 70 persen, tinggal di sepuluh negara bagian, yaitu California, New York, Illions, New Jersey, Indiana, Michigan, Virginia, Texas, Ohio, dan Maryland. Para imigran muslim datang ke Amerika Serikat dengan alasan-alasan yang beragam.

Setelah tragedi 9/11, menjadi era pertumbuhan Islam paling cepat yang tidak pernah ada sebelumnya dalam sejarah Amerika. Hingga kini, jumlah umat muslim di Amerika diperkirakan mencapai 8 juta orang lebih dan 20 ribu orang Amerika masuk Islam setiap tahun.

Giat Ifdal di Masjid Charlotte

Di usianya yang masih remaja, 12 tahun, Ifdal sudah hafiz Quran. Sejak itu hingga kini, sudah 12 tahun ia mendapat amanah sebagai Imam Masjid Charlote, Nort Carolina.  Dalam beberapa kesempatan, Ifdal juga diberi kesempatan untuk menjadi imam di masjid-masjid sekitar North Carolina.

Ketika Ramadhan tiba, Ifdal bersama rekan-rekan remaja Muslim di Masjid Charlote mengadakan program  Pesantren Kilat. Program itu berisi kajian-kajian keislaman untuk anak-anak, orang tua, termasuk untuk membangun hubungan baik dengan warga sekitar masjid yang non-Muslim.

Setelah menyelesaikan studinya di fakultas Psychology dari University of Texas, kini Ifdal di usianya  yang ke- 24 tahun mengakhiri masa lajangnya, mempersunting gadis pujaannya, putri dari seorang ayah Kebumen, Jawa Tengah dan ibunya Sumatra Barat, yang lahir di Houston, Texas.

Akad pernikahan pun dilangsungkan di di Dallas pada Ahad, tanggal 1 Maret 2020 lalu.

Hadir dalam acara itu sekaligus membari nasihat pernikahan, Ustaz Syamsi Ali, ulama muda asal Indonesia yang sudah malang melintang di negeri Paman Sam itu dan terbilang sukses memperkenalkan Islam rahmatan lil alamin kepada segenap warga dan pemangku kebijakan di AS.

Hadir juga Ustaz Farid Joban yang pernah menyampaikan ceramah perkembangan Islam di AS pada Tabligh Akbar di Masjid At-tin, TMII Jakata beberapa tahun tahun lalu yang dilaksanakan oleh Radio Silatyrahim (Rasil).

Makanan Halal di AS

Dian Widiasih, salah satu kerabat Ifdal kepada MINA juga menyampaikan bahwa di AS geliat masyarakat untuk mengonsumsi makanan halal cukup menggembirakan. Terlebih saat ini masyarakat internasional mengalami trauma akibat virus Corona.

“Udah banyak para pedagang kaki lima di New York yang menjajakan makanan halal. Logo khas yang mereka gunakan adalah] Halal Food, ” tulisnya seraya mengeshare foto dirinya dan suaminya berdiri di depan sebuah warung halal food di New York.

Sejak adanya isu virus Corona yang diakibatkan manusia mengonsumsi makanan yang tidak halal, hal itu menjadi berkah tersendiri bagi pada pedagang makanan halal. Setiap hari mereka kebanjiran pesanan, baik dari komunita Muslim maupun non-Muslim.

Mereka mulai menyadari pentingnya mengonsumsi makanan yang halal. Bagi mereka, halal merupakan jaminan tersendiri bagi mereka yang ingin mengonsumsi makanan sehat, bergizi dan higienis.

Tidak hanya kalangan Muslim saja yang meyakini akan pentingnya makanan halal. Komunitas Yahudi juga sebenarnya meyakini hal itu. Mereka percaya bahwa kitabnya mengajarkan untuk menyantap makanan dari daging yang disembelih, menjauhi babi, minuman alcohol dan segenap aturan lainnya yang menjamin kebersihan dan kualitas terbaik.

Masjid di Amerika Serikat

Di Negeri Paman Sam, perkembangan Islam diimbangi dengan semakin bertambahnya tempat ibadah. Saat ini, masjid semakin banyak dijumpai. Jumlah Masjid di Amerika Serikat naik 74 persen dari 1.209 buah pada tahun 2000 menjadi 2.106 tahun 2010. Kebanyakan masjid terletak di beberapa kota seperti New York, yang memiliki 257 masjid (sebelum tragedy 9/11 hanya 25 buah), California (246), Texas (166) dan Florida (118).

Menurut catatan resmi, masjid pertama dan salah satu yang terbesar di Amerika Serikat adalah Masjid Islamic Center Washington DC. Masjid ini terletak di kompleks Islamic Center, Massachusetts Avenue, Washington DC. Pembangunan masjid ini dimulai pada 1949 dan diresmikan pada 1957. Masjid ini sebagai wujud persatuan kaum muslim di Amerika. (A/RS5/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)