IJTIMA ULAMA AKAN DIGELAR DI TEGAL

Ijtima Ulama Indonesia akan Diselanggaran di Tegal (Foto : MUI)
Ijtima Ulama Indonesia akan digelar di Tegal (Foto: MUI)

Jakarta, 14 Jumadil Akhir 1436 /3 April, 2015 (MINA) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) sedang mempersiapkan pelaksanaan temu akbar para ulama yang dikenal dengan Forum Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia.

Tim MUI awal pekan ini, telah meninjau lokasi yang bakal menjadi tempat pelaksanaan pertemuan tersebut di Tegal, Jawa Tengah.

MUI memiliki forum pembahasan, pengkajian dan penetapan masalah keagamaan strategis melalui Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia.

Pada periode ini,  Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia akan diselenggarakan pada 13-15 Juni mendatang, demikian siaran pers MUI yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Jumat.

Selain itu, Rabu (1/4) kemarin, berlangsung Sidang Komisi Fatwa MUI di Kantor LPPOM MUI Global Halal Centre (GHC), Bogor, Jawa Barat.

Tujuannya, melakukan inventarisasi dan persiapan naskah akademik masalah-masalah yang akan dibahas di forum Ijtima Ulama tersebut.

Ketua Lembaga Kajian Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dr. H. Sopa, MA. menjelaskan, dalam sidang kali ini mengemukan pendapat dan semangat agar Rumah Potong Hewan (RPH) yang dikelola dan berada dalam otoritas Pemerintah Daerah (Pemda) di seluruh Indonesia dapat disertifikasi halal.

“Sertifikasi halal bagi RPH itu sangat penting mengingat penyembelihan hewan yang sesuai dengan kaidah syariah merupakan titik krusial dan menjadi dasar utama dalam menghasilkan daging halal untuk konsumsi umat,” kata Sopa.

Pada kenyataannya, belum banyak RPH yang dikelola oleh Pemda itu melakukan proses sertifikasi dan mendapat Sertifikat Halal dari MUI. “Tentu ini merupakan kondisi yang sangat memprihatinkan bagi kita semua,” tuturnya.

Karena itu, tambahnya, Forum Ijtima Ulama yang akan diikuti oleh para pimpinan dan anggota Komisi Fatwa (KF) MUI se-Indonesia, seluruh pimpinan lembaga fatwa ormas-ormas Islam Tingkat Pusat, akan mendorong agar semua RPH disertifikasi halal.

Dan ini akan dipantau langsung oleh para ulama serta stakeholder setempat, terutama yang terlibat dalam Ijtima Ulama, sehingga hasilnya tentu dapat lebih efektif.

Selanjutnya, Sekretaris Komisi Fatwa (KF-MUI), Asrorun Niam Sholeh, MA., menjelaskan, forum Ijtima Ulama akan membahas masalah-masalah terkait pangan, obat-obatan dan kosmetika dalam lingkup masail waqi’iyah mu’ashirah (masalah fiqih kontemporer).

Di antaranya, pendalaman masalah soal istihalah, yaitu proses perubahan fisika mau pun kimia secara khusus terutama dalam produk pangan, menurut perspektif hukum Islam.

Selain itu, dalam masail qanuniyyah (masalah peraturan dan perundang-undangan), forum Ijtima Ulama akan mendorong penyegeraan penyusunan peraturan pemerintah sebagai tindak-lanjut dan implementasi dari Undang-undang (UU) No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH), yang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Juga mendorong Pemerintah Daerah untuk proaktif menginisiasi Peraturan-peraturan Daerah (Perda) untuk kepentingan dan penjaminan pangan halal, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk halal sesuai dengan kaidah syariah. (T/P002/R05)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0