Imaam Yakhsyallah: Hikmah Berpuasa, Mau Menempuh Jalan yang Sukar

Bogor, MINA – Imaam Yakhsyallah Mansur dalam tausiyahnya mengatakan, hikmah berpuasa adalah umat Islam harus mau menempuh jalan yang sukar jika ingin mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan.

“Ibadah itu memiliki dua unsur, hissi (yang tampak) dan maknawi (hikmah). Contohnya shalat, hissinya adalah serangkaian perbuatan dimulai dari takbir dan diakhiri salam. Maknawinya mencegah perbuatan keji dan munkar. Puasa, hissinya adalah menahan makan, minum dan berhubungan suami-istri dari terbit fajar hingga terbenam matahari, makwawinya, salah satunya adalah jika mau sukses dan berhasil maka harus mau menempuh jalan yang sukar, baru ia mendapat kesenangan dan kebahagiaan,” paparnya dalam kuliah subuh di Masjid At-Taqwa, Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Senin (4/6).

Imaam Yakhsyallah merujuk kepada surah Al-Balad ayat 11-18 yang menjelaskan bagaimana seseorang dapat mencapai kesuksesan dengan terlebih dulu menempuh jalan yang terjal, sempit lagi susah.

“Ketika kita berpuasa, kita lapar, haus, dan menahan nafsu, Jika sudah tiba Magrib, kita senang dan bahagia karena penderitaan telah kita lalui dan tiba saatnya berbuka. Begitulan kehidupan ini, kalau kita mau susah maka kita akan menemui kesenangan, jika kita mau menderita maka kita mendapatkan kebahagiaan,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sebagian orang tua menginginkan anaknya sukses dan berhasil, tetapi tidak ingin anaknya susah seperti yang apa yang ia lakukan dalam meraih keberhasilan. Hal itu yang tidak mungkin terjadi.

“Sulit rasanya kita ingin anak-anak kita sukses, tapi kita tidak menginginkan anak kita susah, padahal susah dan sulit itu syarat seseorang meraih sukses. Oleh karenanya, kirim anak ke pesantren agar ia bisa belajar mandiri, biarkan anak kita bekerja keras meniti kariernya biar ia tahu perih dan sulitnya merintis usaha,” jelasnya.

Dalam ayat 17 surah Al-Balad disebutkan suatu keadaan masyarakat yang beriman dan saling memberi nasihat dalam kesabaran dan kasih-sayang. “Maka yang seperti itu bisa diwujudkan dalam wadah kehidupan masyarakat berjamaah dengan dipimpin oleh seorang Imaam yang ditaati,” lanjutnya.

Adanya jamaah imaamah bagi umat Islam merupakan sebuah kewajiban yang harus diwujudkan secara Bersama-sama sebagai wujud pengamalan surah Ali-Imran ayat 103 dan 104.

“Dengan kehidupan berjamaah, persoalan-persoalan khilafiyah bisa teratasi, jika ada perselisihan antar sesama muslim, bisa diselesaikan karena mereka memiliki pemimpin yang bertugas memutus perselisihan itu dengan kebijaksanaannya,”tutupnya. (L/P2/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments: 0