Imaam Yakhsyallah: Kebahagiaan Muslim Saat Dapat Melaksanakan Perintah Allah

Bogor, 22 Sya’ban 1437/30 Mei 2016 (MINA) – Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur mengatakan, kebahagiaan bagi tiap Muslim adalah saat dapat melaksanakan perintah Allah.

“Kebahagiaan kita sebagai Muslim adalah saat kita dapat melaksanakan perintah Allah, maka berbahagialah,” ujarnya dalam tausiyah Akhir Sya’ban Menyambut Ramadhan di Masjid At-Taqwa Kompleks Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Ahad (29/5).

Imaam Yakhsyallah menambahkan, kegembiraan bukan pada banyaknya teman atau harta. Namun semata karena sanggupnya menjalankan perintah-Nya.

“Apalah artinya semua itu, kalau kita tidak dapat melaksanakan perintah Allah,” tegasnya di hadapan puluhan ribu peserta tabligh akbar yang hadir dari berbagai provinsi di tanah air dan dari luar negeri Indonesia.

Termasuk, menurutnya, adalah bahagia manakala telah dapat dpersatukan oleh Allah dalam satu Jama’ah Muslimin bersama Imaamnya atau Khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah, yang mengikuti jalan kenabian,

“Inilah perwujudan kesatuan umat Islam dalam satu Jama’ah Muslimin beserta Imaamnya, yang terbukti secara aqidah dalil qathi, maupun dalam perspektif ilmiah dan sosial,” ujarnya.

Seperti saat kaum Muslimin berkumpul dalam suatu majelis ilmu, menampakkan bahwa kaum Muslimin pada hakikatnya adalah satu saudara, imbuhnya.

Untuk itulah, maka Allah berkenan memberikan derajat mulia bagi orang-orang mukmin yang berilmu, katanya, seraya menyebutkan Surat Al-Mujadalah ayat 11.

Khilafah Bukan Ormas

Imaam Yakhsyallah Mansur dalam tausiyah di hadapan tablig yang juga dihadiri para tamu dari negeri-negeri Muslim, di antaranya dari Malaysia, Filipina, Thailand, Palestina, Nigeria, hingga dari Inggris mengatakan, menyebutkan, bahwa pengamalan Khilafah berpola kenabian (Khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah) berbeda dengan pola organisasi masa yang ada.

“Kita mengamalkan syariat Khilafah atau kehidupan berjama’ah, adalah murni karena dienul Islam, karena Allah mensyariatkannya, tidak ada campuran sama sekali dengan lainnya,” ujarnya.

Tataran awam maupun ulama sekalipun memahami bahwa pengamalan al-jama’ah atau khilafah adalah karena syariat, imbuhnya.

Dapat mengamalkan syariat Khilafah atau Al-Jama’ah inilah yang juga merupakan kebahagiaan sepanjang hidup, seperti pernyataan Syaikh Dr Mahmoud Muhammad Shiyam, Imaam Besar Masjid Al-Aqsha Palestina, saat bermubaya’ah mengamalkan syari’at Jama’ah Muslimin.

Puasa dan Kasih Sayang

Menyinggung kehadiran bulan suci Ramadhan, KH Yakhsyallah Mansur,MA yang juga menjadi pembina utama dari sekitar 20 pondok pesantren Al-Fatah se-Indonesia, mengatakan Ramadhan adalah bulan kasih sayang sesama umat Muslim.

“Kita hendaknya dapat memahami hakikat utama dari syariat puasa, yakni mewujudkan kasih sayang di antara umat Islam. Inilah bulan kasih sayang di antara kita,” paparnya.

Umat Islam, menurutnya, adalah dia yang telah bersyahadat, mengakui bahwa Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai utusan-Nya. Itulah umat Islam, tidak dibeda-bedakan, urainya.

“Pembeda kekafiran dan kemusliman dibatasi dngan syahadat. Yang sudah membaca syahadat, itulah saudara kita,” tambahnya.

Itulah, maka tidak akan ada artinya jika dapat melaksanakan syariat, tapi tidak terwujud dalam kehidupan Muslim bermasyarakat.

Maka, menjadi fitnah jika dalam peperangan, di satu pihak bertakbir, yang menembak dan yang tertembak, juga sama-sama bertakbir. Padahal Rasulullah mengingatkan bahwa kedua belah pihak Muslim jika saling bunuh, maka yang dibunuh maupun yang terbunuh keduanya di neraka.

Maka, tegas imaam, menjadi sangat penting bagi kaum Muslim untuk semakin menyadari arti pentingnya persatuan, ukhuwah, menegakkan syariat Islam dengan kasih sayang. (P4/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)