Imaam Yakhsyallah Mansur Kunjungi Sudan

Khartoum, MINA – Imaam Yakhsyallah Mansur, pembina Pesantren Al-Fatah se-Indonesia bersama rombongan, mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Khartoum Sudan dalam rangka kunjungan ke negara itu di mana banyak anak-anak Al-Fatah sedang melanjutkan pendidikan di tujuh perguruan tinggi setempat.

Imaam tidak bertemu dengan Duta Besar  Indonesia untuk Sudan, Rosallis Rusnan Adnan karena sedang melaksanakan tugas dari Dewan Keamanan PBB mengawasi referendum di Abye (perbatasan Sudan dengan Sudan Selatan).

Dalam pertemuan Ahad (31/3) ini Dubes diwakili oleh Djumara Supriyadi sebagai Sekretaris Pertama di KBRI Khartoum.

Imaam mengungkapkan banyak terima kasih atas bantuan KBRI, hingga beberapa MoU Al-Fatah dengan perguruan-perguruan tinggi setempat berjalan lancar sejak beberapa tahun lalu sampai saat ini. Hingga kini Al-Fatah sudah bekerja sama dengan tujuh perguruan tinggi di Sudan.

Baca Juga:  PBB Selidiki Perbudakan Seksual di Tempat Penahanan Sudan

“Kami berterima kasih atas peran KBRI dalam membina mahasiswa dari berbagai golongan di Indonesia, terkhusus para alumni Al-Fatah yang memiliki 39 mahasiswa dan mahasiswi yang sedang berstudi di sini,” katanya.

“Kami berharap agar KBRI dan para mahasiswa mengembangkan budaya Islam Indonesia di negeri ini, dan mempelajari bekerja sama dengan pihak pendidikan dan budaya di Sudan. agar budaya Islam antara Indonesia dan negara Sudan ini lebih berkembang,” ujarnya.

Dia juga mengatakan  agar mahasiswa bisa berkembang dan menjadi dai yang menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin, menjaga keutuhan NKRI dari ajaran ekstrim. Karena Indonesia adalah Negara multikultural.

Agar rakyat hidup aman antara muslim dan non-Muslim dan menjadi acuan negara negara lain dalam melihat kerukunan Indonesia. Karena di Indonesia tidak ada perang antaragama secara skala besar. “Dan kita tahu, khususnya Islam masuk ke Indonesia tanpa peperangan,” lanjutnya.

Baca Juga:  UEA Alokasikan $70 Juta untuk Aksi Kemanusiaan PBB di Sudan

“Para mahasiswa agar menjadi corong untuk Islam yang rahmatan lil alamin. Harapan kami juga agar KBRI dapat terus menjaga warga RI untuk tidak terpengaruh paham ekstrimis. Ini karena akan mengalami kerugian sendiri, bagi pihak Al-Fatah, oraganisasi lainnya, begitu pala NKRI,” ujarnya.

Djumara Supriyadi menanggapi, bahwa  pembinaan mahasiswa sudah menjadi tugas kedutaan. “Prioritas utama adalah pembinaan masyarakat, dan prioritas kedua adalah ekonomi antara Indonesia dan Sudan. Sedangkan masalah politik antara Sudan dan Indonesia sudah baik,” ujarnya.

Apapun organisasinya, selama benderanya Indonesia, pihak KBRI selalu peduli dan melindunginya. Oleh karenanya, KBRI dan jajaran selalu memperhatikan mahasiswa. Ini seiring grafik jumlah mahasiswa yang dulu sangat sedikit, kini membludak banyak akhir-akhir ini.

Baca Juga:  Ketua Muhammadiyah: Transaksi Judi Online Tahun 2024 Capai Rp.100 Triliun

Program pembinaan tetap terprogram dalam agenda pengajian di Wisma Nusantara, yang dihadiri dari berbagai organisasi Indonesia di Sudan. “Tiada lain adalah untuk mempersatukan ukhuwah Islamiah di negeri Sudan,” imbuhnya.

Pihak KBRI berterimakasih kepada Al-Fatah atas kunjungan dan silaturahimnya. Juga berterimakasih sebesar-besarnya karena Al-Fatah sudah membantu kedutaan dalam menjabarkan kerjasama pendidikan antara Indonesia dan Sudan.

“Semoga bisa meningkat ke pertukaran antara mahasiswa Indonesia dan mahasiwa Sudan,” ujarnya. (L/R03/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: kurnia

Editor: Rana Setiawan