Imaam Yakhsyallah Mansur: Empat Jenis Jihad Selain di Medan Perang

Al-Muhajirun, Lampung Selatan, MINA – Imaamul Muslimin, KH. Yakhsyallah Mansur menjelaskan, yang namanya jihad Fie Sabilillah itu tidak mesti di medan perang, oleh karenanya ada empat jenis jihad yang bisa dilakukan di masa sekarang.

Hal itu dijelaskan Imaam saat menjadi pembicara utama pada Tabligh Akbar Muharram 1444 H Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Lampung di Masjid An-Nubuwwah, Komplek Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Al-Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan, Ahad (14/8).

Jenis jihad yang pertama adalah jihad melawan hawa nafsu. Manusia harus mampu melawan nafsunya, jangan sampai dirinya terlena karena dibawa-bawa oleh kemauan nafsu sehingga terjerumus pada jalan yang tidak diridhai Allah Subhanahu Wata’ala.

“Kita ikut taklim, nafsunya untuk belajar, mendengarkan taklim atau tidur? Tentu nafsunya untuk mendengarkan taklim, jadi menyesuaikan niat dengan kondisinya juga termasuk kepada jihad. Ketika dengar azan Shubuh, pengennya sholat apa lanjut tidur?,” tanya Imaam kepada ratusan Jama’ah yang hadir pada Tabligh Akbar tersebut.

Imaam melanjutkan, jihad melawan hawa nafsu adalah persoalan umum yang sangat sering dihadapi setiap manusia, maka nafsu perlu dikendalikan dengan baik sehingga bisa terarah pada sesuatu hal yang sesuai dengan syariat Islam.

Lantas, jenis jihad yang kedua adalah jihad melawan setan. Imaam menjelaskan, yang dimaksud di sini adalah bagaimana kita sebagai manusia berperilaku sebagaimana mestinya manusia, jangan sampai perilaku kita menyerupai perilaku setan yang menjerumuskan pada kesesatan.

“Contoh sederhananya, dalam Jihad melawan setan adalah seumpama kita adalah seorang guru, tetapi kita tidak maksimal dalam mengajarkan ilmu, bahkan saat mengajar, tidur misalnya, ini tidak patut karena menghambat kebaikan, kebaikan apa? Muridnya ingin belajar tapi gurunya tidak serius mengajar sehingga guru menjadi penghambat kebaikan dari murid-muridnya,” ujarnya.

Jenis jihad ketiga yang tidak kalah penting adalah jihad melawan kemaksiatan. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa siapa yang melihat kemungkaran, kemudian dia melarang kemungkaran tersebut dengan lisannya, atau jika tidak sanggup,maka ia melarang kemungkaran tersebut dengan hatinya, hal inilah yang merupakan selemah-lemahnya iman.

“Ibu-ibu misalnya, melihat suaminya pulang kerja, kemudian tidak sholat, suruh sholat, jangan sampai kita membiarkannya, sehingga kita telah gagal berjihad melawan kemaksiatan, baik pada diri kita maupun pada diri orang lain,” tuturnya.

Jihad ke empat adalah jihad melawan orang kafir. Imaam mengungkapkan, umat Islam kalau melawan orang kafir akan berdosa, tetapi ketika orang-orang kafir melawan kita, maka sudah tentu sebagai umat Islam punya kewajiban melawan sebagai tindakan jihad.

“Maka mari kita pertahankan Republik Indonesia dengan iman, hijrah, dan jihad fie sabilillah,” tutup Imaam dilanjutkan doa bersama.

Tabligh Akbar Muharram 1444 H ini memiliki rangkaian kegiatan, selain Agenda Utama Tabligh Akbar, juga akan dilanjutkan dengan Aksi Damai Bela Palestina pasca acara, sebagai bentuk protes terhadap serangkaian serangan yang dilakukan Pasukan Zionis Israel beberapa waktu lalu di Wilayah Gaza yang menyebabkan puluhan korban jiwa bahkan anak-anak turut menjadi korban. (L/R12/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)