Imaam Yakhsyallah Mansur : Genosida Tak Membuat Pejuang Palestina Menyerah

Jakarta, MINA – Imaam Yakhsyallah Mansur menegaskan,  walaupun pendudukan Zionis telah melakukan aksi genòsida di Gaza, tetapi tak membuat para pejuang menyerah.

“Sudah puluhan kali sejak pendudukan tanah Palestina 75 tahun silam, melakukan aksi genosida, Namun, semua itu tidak menjadikan para pejuang Palestina lemah, apalagi menyerah,” ujar Imaam Yakhsyallah Mansur pada Tausiyah secara tertulis yang dibacakan Presidium Aqsa Working Group (AWG), Rustam Efendi, pada Penutupan Bulan Solidaritas Palestina (BSP) di Jakarta, Ahad (3/12),

Imaam Yakhsyallah Mansur menguraikan, beberapa aksi genosida yang telah dilakukan pendudukan Zionis, selain tragedi Nakba dan Naksa, peristiwa mutakhir dan masih fresh dalam berbagai pemberitaan adalah pembantaian tahun 2002, 2005, 2008, 2012, 2014, 2020, 2021, hingga tragedi bulan Oktober-November 2023 ini.

“Namun para pejuang dan rakyat Palestina justru semakin kuat secara mental dan tekad dalam perjuangan. Banyaknya korban yang gugur dan terluka, justru menambah semangat mereka untuk terus melakukan perlawanan,” imbuhnya.

Menurutnya, secara global, selama dunia dikendalikan oleh Zionis Yahudi, maka rasanya perdamaian akan sulit terwujud.

“Mereka adalah bangsa yang haus perang. Zionis tidak boleh dibiarkan menguasai dunia. Demikian pula para sekutu-sekutunya,” tegasnya.

Imaam Yakhsyallah Mansur mengingatkan firman Allah, yang terdapat di dalam Surat Al-Maidah ayat 92, yang artinya, “Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik’”

Maka solusinya, tidak lain adalah dikembalikan kepada kaum Muslimin, dan hendaknya setiap Muslimin senantiasa aktif sebagai penyeru perdamaian, penengah konflik, pemberi solusi dalam konflik (problem solver), dan menjadi bagian dari unsur pemersatu umat.

“Umat Islam bukanlah pembuat konflik (problem maker), bukan penyulut api permusuhan, bukan pula pengadu domba antar kelompok. Itu sama sekali bukan dari ajaran Islam yang cinta perdamaian,” tegasnya.

Ajaran Islam juga melarang umatnya menggunakan cara-cara kekerasan dalam dakwah. Islam bukanlah agama yang mengajarkan ekstremisme, radikalisme, apalagi terorisme. Perang hanya diperintahkan jika umat Islam diperangi terlebih dahulu, diusir dari kampung halamannya, dan dirampas hak-haknya.

“Untuk mewujudkan perdamaian dan rahmat, maka umat Islam harus melaksanakan syariat Al-Jama’ah, bersatu padu dalam satu Al-Jama’ah.  Dengan ditegakkannya syariat Al-Jama’ah, maka akan terwujudlah perdamaian dalam kehidupan masyarakat. Sektor-sektor kehidupan akan dapat berjalan dengan baik, seperti ekonomi, pembangunan, pengembangan sumber daya manusia, termasuk juga ketenangan dalam melaksanakan ibadah,” lanjutnya.

“Perdamaian merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai Islam yang harus terus kita pertahankan. Semoga kita mampu terus mewujudkan perdamaian di negeri kita, juga negeri-negeri lainnya, terutama Palestina, negeri para anbiya. Dan, semoga Al-Aqsa segera kembali ke pangkuan umat Islam sebagai pemilik sahnya,” ujarnya. (L/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)