Imaam Yakhsyallah Mansur: Peran Perguruan Tinggi Paling Strategis dalam Membangun Peradaban

Al-Muhajirun, Lampung Selatan, MINA – Perguruan tinggi mempunyai peran paling strategis dan menentukan dalam pembangunan peradaban sebuah bangsa dan bahkan peradaban Dunia.

Demikian dikatakan Dewan Penasihat Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud (STISQABM) Imaam Yakhsyallah Mansur saat menjadi pembicara utama dalam Stadium General STISQABM bagi mahasiswa baru Tahun Ajaran 2021-2022 di Masjid An-Nubuwwah, Komplek Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Al-Muhajirun,Lamsel, Ahad (12/9).

Imaam Yakhsyallah menjelaskan, mayoritas tenaga akademik yang meliputi: pengurus lembaga, penulis buku, pembuat kurikulum, bahan-bahan pelajaran formal, dan non-formal bagi semua pendidikan di level bawah hingga atas, mereka semua adalah produk perguruan tinggi.

“Melalui perguruan tinggi, Islam mengalami kemajuan dan internasionalisasi. Pada masa Bani Umayyah, Islam masuk ke Eropa melalui Spanyol. Pengaruh Islam meluas dari Afrika Utara sampai ke Eropa, juga Persia hingga India. Daerah-daerah itu mengikuti peraturan-peraturan yang dibuat oleh para pemimpin Muslim,” jelasnya.

Yakhsyallah mengatakan, para ilmuan dan penguasa Muslim di era keemasan berhasil menciptakan terobosan penting dalam sejarah dengan mendirikan universitas (Jami’ah). Universitas pertama yang didirikan adalah Universitas Al-Qarawiyyin di kota Fez, Maroko, pada 859 M oleh seorang Muslimah yang bernama Fatimah Al-Fihriyah.

“Bahkan jika mengikuti pandangan H.H. Bilgrami dan S.A. Asyraf dalam bukunya The Concept of Islamic University, Islam telah memiliki lembaga pendidikan tinggi yang bernama As-Shuffah yang didirikan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam di Masjid Nabawi, Madinah,” katanya.

Yakhsyallah mengutip pendapat Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Hamid Fahmy Zarkasyi, yang mengatakan, “Substansi peradaban Islam ibarat pohon yang akarnya tertanam kuat di bumi, sedangkan dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit dan memberi rahmat bagi alam semesta. Akar itu adalah teologi Islam (tauhid) yang berdimensi epistemologi.”

Imaam berharap, dari Shuffah Al-Qur’an muncul peradaban Islam, peradaban Al-Jamaah, yaitu orang yang ibadahnya mengikuti Rasulullah dan para sahabat, ilmunya mengikuti peradaban Baghdad dan Andalusia, kemudian kekuatannya mengikuti Bani Umayyah dan Bani Utsmaniyah di Turki.

“InsyaAllah dengan itu kita akan bisa bersaing dengan yang lain (non Muslim),” tutupnya. (L/Rid/R12/P2)

Mi’raj News Agency (MINA).