Imaam Yakhsyallah Mansur: Sambut Ramadhan, Sucikan Hati dari Iri dan Dengki

Imaam Yakhsyallah Mansur pada Tabligh Akbar Festival Sya’ban 1445 Jama’ah Muslimin (Hizbullah) di Masjid At-Takwa Podok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Ahad (3/3/2024). (Dok MINA/Abdullah)

Bogor, MINA – Imaam Yakhsyallah Mansur menyampaikan Tausiyah Jelang Ramadhan agar umat Islam mensucikan hati dari sifat iri, dengki dan dengki antarsesama Muslim.

“Sifat-sifat iri, dengki dan dendam tersebut dapat menghapus pahala ibadah seseorang. Rugilah seseorang apabila ia berada di bulan Ramadhan, tetapi masih ada sifat dengki dan dendam dalam hatinya,” ujarnya pada Tabligh Akbar Festival Sya’ban 1445 Jama’ah Muslimin (Hizbullah) di Masjid At-Takwa Podok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Ahad (3/3).

“Jagalah dirimu dari sifat iri dengki, karena sesungguhnya iri dengki itu merusak kebaikan, sebagaimana api yang memakan kayu bakar,” ujarnya mengutip hadits riwayat Abu Daud.

“Marilah kita sambut bulan suci Ramadhan dengan menghilangkan sifat iri, dengki dan dendam. Tidak ada satu pun dari para sahabat yang berani menyambut bulan suci Ramadhan, sementara dalam hatinya masih ada secuil rasa dengki atau benci kepada saudaranya,” lanjutnya, di hadapan lebih dari 10 ribu jamaah yang hadir pada Tabligh Akbar tersebut.

Imaam Yakhsyallah menambahkan, rasa iri, dengki dan dendam dapat menghancurkan diri, lingkungan, dan peradaban. Sifat-sifat tersebut merupakan bentuk kejahatan tersembunyi, energi negatif yang menjadi penyebab terjadinya kejahatan dan kriminalitas.

Sifat dendam dan dengki menjadikan seseorang tidak mampu mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepadanya.  Ia senantiasa merasa susah, sedih, gundah dan gelisah karena tidak suka melihat orang lain mendapat kenikmatan, ujarnya.

Dia menyebutkan pandangan Ibnul Qayyim Al-Jauzi yang menjelaskan, iri, dengki, dan dendam menyebabkan seseorang tidak rela atas qadha’ dan qadar Allah, dan merupakan bagian dari sikap menentang Allah.

“Orang itu benci kepada nikmat Allah atas hamba-Nya, padahal Allah menginginkan nikmat tersebut untuk hamba-Nya. Iri dengki juga membuatnya senang dengan hilangnya nikmat tersebut dari saudaranya, padahal Allah benci jika nikmat itu hilang dari saudaranya. Jadi, iri, dengki hakikatnya menentang qadha’ dan qadar,” lanjutnya.

Selanjutnya Imaam Yakhsyallah Mansur juga menekankan pentingya terus meningkatkan penghorbanan jiwa dan harta untuk pembebasan Al-Aqsa.

“Kita harus terus meningkatkan pengorbanan jiwa dan harta dalam rangka pembebasan Masjidil Aqsa dan Palestina,” imbuhnya.

Tampil sebagai pembicara lain dalam Tabligh Akbar : Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim,MA (Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional), KH Abul Hidayat Saerodi (Pembina Ponpes Al-Fatah), Dr. Ahmed Abdul Malik,Lc.,MA (Ulama Nigeria), Syaikh Watteu Ibrahim (Ulama Filipina), KH Arif Hizbullah,Lc.,MA (Walyul Imaam Banyumas Raya, Amir Lajnah Tetap Istinbath dan Fatwa), Ir. Nur Ikhwan Abadi (Ketua Presidium Aqsa Working Group) dan Dr. Makmun Sholeh Hafidz,MA (Mudir Shuffah Al-Fatah Sarolangun, Jambi).

Sehari sebelumnya, Sabtu (2/3) hadir sebagai pembicara Tabligh Akbar : KH Umar Rasyid Hasan,Lc. (Alumni Mulazamah Darul IFTA’ Saudi Arabia), Dr Fakruddin Syah (Ulama Thaliand), Ust Amin Nuroni, S.Sos. (Waliyul Imaam Lampung), Rifa Berliana, Lc. MA. (Kepala Bidang Litbang AWG, Dosen UIN Syarif Hidayattullah), dan Fakhri Iqomul Haq, Lc.,MA. (Mudir Ma’had Tahfidz Al-Balad Bekasi, Mudir Ma’had Tahfidz An-Nizomiyah, Bogor). (L/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Ali Farkhan Tsani

Editor: Ismet Rauf

Ikuti saluran WhatsApp Kantor Berita MINA untuk dapatkan berita terbaru seputar Palestina dan dunia Islam. Klik disini.