Imaam Yakhsyallah: Momentum Idul Adha Ingatkan Keagungan Nabi Ibrahim 

Bogor, MINA – Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur menegaskan, momentum Idul Adha mengingatkan kita kepada pribadi agung Nabi Ibrahim Alahi Salam  dan keluarganya sebagai teladan bagi manusia setelahnya.

Hal itu disampaikan oleh Imaam Yakhsyallah dalam Khutbah Idul Adha 1441 di Masjid At-Taqwa Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jumat (31/7).

“Keluarga yang taat, bersyukur dan sabar. Keluarga yang harmonis dan rukun. Keluarga yang melahirkan generasi yang saleh. Keluarga yang mampu membangun peradaban manusia berbasis tauhid dan syariah yang agung,” ucapnya.

Para Rasul memiliki kelebihan yang berbeda-beda, sebagaimana Nabi Ibarahim, Allah telah mengangkat derajatnya sebagai kekasih Allah sekaligus menjadi teladan yang baik (uswah) bagi umat manusia sesuai dengan firman Allah QS. Al-Mumtahanah ayat: 4.

Adapun contoh keteladanan Nabi Ibrahim setidaknya ada empat: Pertama. Keteladan Nabi Ibrahim dalam Tauhid.

Kisah agung Nabi Ibrahim  adalah bukti peneguhan nyata akan tauhid, perjalanan hidupnya selalu berpijak pada kebenaran dan tidak pernah berpaling dari kebenaran. Beliau selalu patuh kepada Allah  dengan tulus dan ikhlas, juga selalu bersyukur atas nikmat yang diperolehnya.

Kedua. Keteladana Nabi Ibrahim dalam Berkurban. Syariat qurban pertama kali dilakukan oleh Nabi Ibrahim , berdasarkan firman Allah As-Shafat: 107. Pengorbanan besar Nabi Ibrahim  menyembelih putranya beserta pengorbanan keluarganya tercatat dalam sejarah kemanusiaan yang diabadikan Allah  dalam firman-Nya. Nabi Ibrahim  memberikan teladan tentang ketaatan mutlak kepada Allah . Beliau melalui mimpi diperintah Allah  agar menyembelih putra satu-satunya, putra yang digadang-gadang menjadi penerus perjuangan, pelanjut silsilah keturunan dan penyambung tongkat estafet kenabian. Demikian pula Nabi Ismail, sang putra, taat dan ikhlas menerima perintah Allah  yang diterima ayahnya.

Ketiga. Keteladanan Nabi Ibrahim dalam menjaga Masjidil Aqsa.

Nabi Ibrahim  adalah Nabi yang secara khusus Allah  perintahkan untuk berhijrah membangun, mendiami, memelihara dan menjaga kesucian Masjidil Aqsa. Hal itu terjadi setelah beliau menghadapi tantangan penolakan dakwah yang besar di negeri Babilonia dengan Raja Namrud dan pengikutnya.

Keteladan Nabi Ibrahim dalam Dakwah Kesatuan.

Nabi Ibrahim adalah manusia yang menemukan Tuhan dalam arti yang sebenarnya, yaitu Tuhan Yang Satu, yaitu Allah, Tuhan semesta alam, Tuhan pencipta manusia, Tuhan yang satu dengan prinsip tauhid, La Illaha Ilallah.

Karena Tuhan itu satu, maka mereka adalah umat yang satu, agama yang satu, kebenaran yang tunggal, yang datang hanya dari Allah . Jika manusia berpegang teguh kepada kebenaran agama Allah itu, maka akan menjadi dasar terwujudnya kesatuan umat dalam Al Jama’ah yang tidak dapat dipecah belah oleh situasi dan kondisi apapun. (L/R8/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)