Imaam Yakhsyallah: Perbedaan Jangan Jadi Permusuhan

Tasikmalaya, MINA – Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) KH Yakhsyallah Mansur menekankan, perbedaan yang ada di kalangan kaum Muslimin jangan sampai menjadi permusuhan.

“Ada perbedaan yang diperbolehkan atau ikhtilaf, dan ada pula perbedaan yang dilarang atau iftiraq,” ujar Imaam Yakhsyallah pada Tabligh Akbar 1441 Islamic Festival Nashrul Haq bertema “Indahnya Hidup Berjamaah di Bawah Naungan Al-Quran dan As-Sunnah” di Pondok Pesantren Nashrul Haq Al-Islamy Jl Sukasari, Sukarinfik, Bungursari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Ahad (23/2).

Perbedaan biasanya pada masalah fur’iyah (cabang) fiqih ibadah, seperti bacaan basmallah dengan keras atau pelan saat shalat, membaca usholli sebelum salat, qunut Subuh atau tidak, itu sejak dahulu memang ada dan masing-masing punya dasar. “Jadi tidak perlu kemudian menjadi permusuhan,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah.

Ia menjelaskan, justru yang harus dikedepankan oleh kaum Muslimin adalah persamaannya, persaudaraannya, persatuannya, karena hakikatnya umat Islam ini adalah umat yang satu.

Terlebih, lanjutnya, ajaran Islam mengajarkan umatnya agar membawa misi rahmatan lil ‘alamin, kedamaian dan kasih sayang ke seluruh penjuru alam. “Bukan hanya ke sesama Muslimin, tetapi juga menebar kebaikan kepada umat beragama lain, bahkan seluruh makhluk Allah,” imbuhnya.

Imam Yakhsyallah menguraikan, ada empat ukhuwah atau persaudaraan yang harus diwujudkan oleh kaum Muslimin, yaitu ukhuwwah kholqiyyah (sesama makhluk Allah), ukhuwwah sya’biyah (satu bangsa), ukhuwwah insaniyah (sesama manusia), dan ukhuwah imaniyyah atau ukhuwwah Islamiyyah (sesama orang-orang beriman).

Ia juga mengingatkan adanya empat faktor utama yang dapat memicu retaknya ukhuwwah, yaitu persoalan politik, perbedaan mazhab, ashobiyah atau kesukuan, dan kebanggaan pada pendapat sendiri.

“Padahal sesama orang beriman itu bersaudara, maka wajib mempertahankan persaudaraan itu dengan berjamaah,” ujarnya, mengutip Surat Al-Hujurat ayat 10 dan Surat Ali Imran ayat 103.

Karena itu, dalam perjuangan global pembebasan Masjid Al-Aqha Palestina, akan dapat tercapai dengan adanya persatuan dan kesatuan umat Islam.

Ia juga meyakini umat Islam dapat bersatu, sebab memiliki kesamaan dalam logika agama, akar sejarah, letak geografis, dan realita di lapangan.

“Maka mengapa kita ikut memperjuangkan pembebasan Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina, memperhatikan nasih umat Islam di Rohingya dan Uighur, karena menunjukkan kesamaan solidaritas yang satau,” ujarnya. (L/RS2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)