Imaam Yakhsyallah : Puasa, Satu-satunya Ibadah Yang Dikaitkan Dengan Taqwa

Bandar Lampung, 4 Ramadhan 1437 H/ 9 Juni 2016 (MINA) – “Puasa merupakan ibadah yang istimewa. Sebab hanya ibadah Puasa yang dihubungkan dengan ungkapan La’allakum Tattaqun (agar kamu bertaqwa-red),” demikian Imaamul Muslimin, Yakhsyallah Mansur pada Safari Ramadhan di Perwakilan Jama’ah Muslimin Niyabah Natar, di Musholla Al Furqon, Natar, Lampung Selatan, Kamis, (9/6) sore.

“Hanya shaum yang dihubungkan dengan La’allkum Tattaqun. Sholat, zakat, haji tidak dihubungkan dengan kalimat La’alakum Tattaqun,” ujarnya.

Menurutnya, minimal ada dua hal yang menghubungkan puasa dengan taqwa, yang pertama kerahasiaan.

“Pertama, taqwa sama dengan puasa, tidak ada yang tahu kecuali dirinya dan Allah. Maka Allah katakan taqwa dan shaum sama, tidak ada yang tahu kecuali Allah. Mari kita meningkatkan taqwa dan amal, perbanyak amal dengan tanpa harus dipertontonkan,” katanya.

Lebih lanjut Yakhsyallah memaparkan alasan ke-dua kenapa hanya ibadah puasa yang dikaitkan dengan kalimat agar kamu bertaqwa.

“Kedua terkait Imsak atau pengendalian diri. Orang taqwa yang mampu mengendalikan diri, mampu untuk tidak mengumbar hawa nafsu, Allah sangat tahu tiga hal yang jika dikendalikan maka yang lain bisa dikendalikan yakni makan, minum, dan nafsu sex,” katanya.

Yakhsyallah juga mengajak kaum Muslimin untuk mengendalikan hawa nafsu sebagaimana perintah untuk bertaqwa.

“Jangan sampai tidak ada pengaruh, ini tidak mudah. Sudahkah kita hayati amal puasa kita. Hasilnya kita bisa mengendalikan diri atau mengumbar nafsu¬†setelah Ramadhan,” katanya.

Yakhsyallah juga mengingatkan jama’ah untuk bersyukur telah mendapatkan kemuliaan ketika hadir di Majelis ilmu.

“Kemuliaan bisa memakmurkan masjid dianggap sebagai keluarga Allah. Lalu kemuliaan dapat meredam amarah Allah. Allah ingin mengazab tapi masih melihat orang yang memakmurkan masjid. Kemuliaan dapat berkumpul membaca, mentadarusi Al-Qur’an, dinaungi Allah, dikerumuni malaikat, turun ketenangan di tengah,” ujarnya.

Selain itu bisa silaturahim, berjabatan tangan. Sebab ketika dua orang bertemu kemudian berjabat tangan, turun seratus rahmat, juga meruntuhkan kesalahan seperti runtuhnya daun kering di musim kemarau.

Yakhsyallah juga menekankan mulianya perkumpulan Majelis Taklim dibanding majelis yang lain.

“Rasulullah pernah masuk Madinah, lantas melihat ada dua kelompok. Kelompok pertama Majelis Dzikir, satunya lagi Majelis Taalum, dua majelis ini bagus kata Rasulullah. Kemudian Rasulullah masuk ke Majelis Taalum lalu berkata, karena inilah saya diutus oleh Allah,” katanya.(L/K08/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)