Imaam Yakhsyallah Terima Penghargaan Muhyiddin Hamidy 1443H/2021M

Foto: Abdullah/MINA

Jakarta, MINA – Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur menerima Penghargaan Muhyiddin Hamidy 1443M/2021M untuk kategori Penulis Paling Produktif dan Inspiratif pada Sabtu (28/8).

Imaam Yakhsyallah pun bersyukur atas penghargaan tersebut serta berharap dapat memotivasi dirinya dan lainnya untuk terus menulis.

“Mudah-mudahan apa yang diberikan kepada saya, mendorong saya untuk lebih giat menulis, setiap hari untuk menulis,” ujarnya dalam sambutannya saat menerima penghargaan di acara Festival Muharram 1443M/2021M di Hotel Sofyan Cut Meutia Jakarta.

Imaam juga mengatakan, penghargaan tersebut sebetulnya bukan hanya untuk dirinya, tetapi almarhum Imaam Muhyiddin Hamidy dan keluarga.

“Semoga tulisan saya dapat menjadi amal jariyah untuk almarhum Imaam Muhyiddin Hamidy dan keluarga,” ujarnya.

Sementara itu, Pemimpin Umum Kantor Berita MINA Arief Rahman mengatakan, penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi dan pengakuan terhadap karya-karya terbaik dan menginspirasi Imaam Yakhsyallah yang diterbitkan di website MINA, Minanews.net selama kurun waktu setahun ini.

Penghargaan Muhyiddin Hamidy juga sebagai ajang untuk memotivasi wartawan/tokoh/penulis/kolumnis agar lebih banyak lagi berkarya dengan tulisan.

Dalam rangka Bulan Muharram yang mulia, Kantor Berita MINA (MINA News Agency) untuk pertama kalinya menggelar program Penghargaan Muhyiddin Hamidy 1443 H/2021 M untuk Penulis Paling Produktif dan Inspiratif.

Baca Juga:  Ketua MUI: Ijtima’ Ulama se-Indonesia Akan Bahas Isu Penting

Kegiatan tersebut digelar secara hybird luring dan daring melalui aplikasi Zoom dan disiarkan langsung dari kanal youtube MinanewsTV, Al-Jama’ah TV, dan Aplikasi Komunitas Muslim Umma.

Festival Muharram MINA 1443H disponsori PT Cinquer Argo Nusantara (CAN), BCA Syariah, Bank Syariah Bukopin, Euro Management, dan Kopi Raja.

Selain itu, didukung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), Rumah Zakat, LAZ Yatim Mandiri, Lazismu Kebayoran Baru, STAI Al Fatah, Sekolah Tinggi Shuffah Al-Quran Abdullah bin Mas’ud, Lembaga Penyantunan Anak Yatim dan Dhuafa, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) , Aqsa Working Group (AWG), Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR), Jaringan Pondok Pesantren Al Fatah Indonesia, dan Lembaga Bimbingan Ibadah dan Penyuluhan Islam (LBIPI).

Nama Penghargaan Muhyiddin Hamidy sendiri diambil dari nama salah seorang pendiri, pemimpin umum/pemimpin redaksi pertama Kantor Berita MINA, H. Muhyiddin Hamidy (1933-2014).

Muhyiddin Hamidy lahir pada tanggal 21 Desember 1935 Masehi atau bertepatan 16 Ramadhan 1354 Hijriyah di Padang Sibusuk, Kecamatan Kupitan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Baca Juga:  LPS Serahkan Bantuan untuk Korban Banjir dan Longsor Luwu

Ia merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara yang lahir dari pasangan Hamid dan Siti Hadijah binti Sulaiman.

Berkiprah menjadi seorang wartawan sejak belia, menjadikan Muhyiddin Hamidy dikenal sebagai tokoh pers.

Pada tahun 1951, di umurnya yang masih belia, Hamidy dipercaya menjadi pemimpin redaksi buletin keluarga di Bukit Tinggi.

Kepindahannya ke Jakarta, tidak membuat semangatnya sebagai wartawan luntur, ia justru kembali masuk ke dunia kewartawanan pada tahun 1954.

Mulai dari majalah Merah Putih, Harian Pemuda, Kantor Berita Arabian Press Broad (APB),memimpin harian Aman Makmur di Padang, kemudian ditugaskan di Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA selama 40 tahun.

Jabatan paling lama yang dipercayakan kepadanya adalah sebagai Sekretaris Lembaga, orang kedua di kantor berita nasional itu.

Pada tahun 1970-1973 Muhyiddin Hamidy dipercaya menjadi Ketua PWI Pusat, tahun selanjutnya 1973-1978 menjadi wakil ketua dewan pelaksana Bidang Organisasi dan Kesejahteraan PWI Pusat, hingga seterusnya, ia mendapat jabatan penting dalam dewan pers dan SPS.

Baca Juga:  Sebanyak 812 Jiwa Terdampak Banjir di Luwu Utara, Sulsel

Sejak awal karirnya sebagai wartawan, Hamidy telah menjadikan profesi wartawan dan media massa sebagai tempat jihad. Di hari-hari sepuh, semangat jihad itu tetap dilaksanakannya.

Pada tahun 2000. ia mendirikan STAI Al-Fatah yang memiliki Jurusan pertama Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Selanjutnya untuk memperkuat dakwah Islam, Muhyiddin Hamidy mendirikan Kantor Berita dengan tiga bahasa (Arab, Inggris, Indonesia) yakni Kantor Berita MINA didirikan sebagai media jihad, terkhusus untuk perjuangan pembebasan Masjid Al-Aqsa.

Kehadiran MINA sebagai tindak lanjut yang nyata dari hasil-hasil konferensi internasional Pembebasan Masjid Al Aqsa dan Kemerdekaan Palestina di Bandung pada Juli 2012.

MINA didirikan atas kerja sama Jaringan Pesantren Al-Fatah seluruh Indonesia dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan Aqsa Working Group (AWG) serta Radio Silaturahim (Rasil).

Muhyiddin berharap MINA menjadi ‘juru bicara’ kaum muslimin dalam menyampaikan amar ma’ruf dan nahi mungkar, terutama dengan mendukung pembebasan Masjid Al Aqsa dan kemerdekaan Palestina. (L/RE1/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: sajadi

Editor: Rana Setiawan