Imaam Yakhsyallah: Tuntunan Islam Bangun Sikap Positif terhadap Bencana

Pontianak, MINA – Imaamul Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur mengatakan, Islam adalah agama yang dengan detail memberikan tuntunan untuk membangun sikap positif terhadap kebencanaan.

“Bencana alam adalah musibah yang merupakan kepastian dan keniscayaan dalam hidup manusia,” kata Imaam Yakhsyallah saat memberikan Stadium General di acara Silaturrahim Relawan SAR se-Kalbar dan Pelantikan Pengurus Korwil UAR Kalbar di Pontianak, pada Jumat (17/1).

Menurutnya, tidak ada seorang manusia pun yang terlepas dari musibah sepanjang kehidupannya.

“Musibah didefinisikan oleh para ulama sebagai suatu cobaan yang tidak enak atau tidak diterima dengan senang hati oleh manusia. Musibah sering berupa rasa sakit, kehilangan ataupun kesulitan,” katanya.

Lebih lanjut Imaam mengatakan, musibah juga mendera manusia seiring dengan tingkat keimanannya, semakin tinggi iman seseorang maka semakin tinggi dan kompleks musibah yang mengenainya.

“Namun semua itu sesuai dengan batas kemampuan seseorang dalam menghadapi musibah. Tidak ada musibah yang melebihi batas kemampuan seseorang,” ujar Imaam Yakhsyallah.

Imaam menilai, dalam menghadapi musibah, Islam menuntun setiap muslim memberikan bantuan kepada korban bencana agar membangun empat sikap positif.

“Pertama, hendaknya para korban bencana digembirakan atau dihibur hatinya bukan ditakut-takuti. Termasuk dalam kaitan ini adalah para relawan saat memberikan bantuan agar tidak merepotkan korban yang dibantu, sebelum terjun ke lokasi bencana relawan harus memperlengkapi diri dengan kompetensi dan perlengkapan yang diperlukan,” katanya.

Selanjutnya, Imaam mengatakan, hendaknya para relawan bersikap sabar dan memberikan motivasi kesabaran kepada para korban.

“Sesuai yang difirmankan di dalam Al-Quran surah Al Baqarah ayat 155–157 bahwa sikap utama dalam menghadapi musibah adalah dengan kesabaran. Sabar itu mulai sejak pukulan musibah pertama dengan tidak menyalahkan siapapun dan menerima cobaan dengan lapang dada dan sikap ridho,” ujar Imaam.

Ketiga, Imaam mengatakan, hendaknya para relawan mengembangkan sikap sebagai pemecah masalah atau problem solver bukan sebaliknya problem maker.

“Relawan dan potensi SAR dari semua unsur hendaknya menyadari bahwa setiap bencana yang terjadi di negeri ini bukan saja kewajiban Pemerintah (BNPB/BPBD dan BASARNAS) melainkan semua harus ikut terpanggil saling membantu,” kata Imaam.

“Indonesia adalah milik kita bersama maka kita harus ikut bertanggung jawab dalam mengantisipasi persoalan-persoalan yang ada sesuai kemampuan kita,” tambahnya.

Terakhir, menurut Imaam, sukses dalam penanganan bencana dan juga berbagai tugas di tengah masyarakat, hanya akan dicapai dengan cara membangun kebersamaan.

“Dalam bahasa agama kebersamaan adalah berjama’ah. Maka hendaknya kita serius dalam membangun hidup berjama’ah, karena merupakan kunci sukses bersama dan sebab turunnya rahmat atau kasih sayang dari Allah. Sebaliknya, bila kita menjauhi hidup berjama’ah maka kita akan berada di dalam keterpurukan,” ucapnya.

Imaam Yakhsyallah berharap, agar Korwil UAR Kalbar dapat semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kalbar, tidak sekedar umat Islam saja, karena sesungguhnya Islam hadir sebagai rahmat atau kasih sayang untuk semua. (T-Gus Dar/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)