Imaamul Muslimin: Dahsyatnya Sumpah Allah dalam Surah An-Najm

Cileungsi, Kabupaten Bogor, MINA – Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur dalam kajian rutin bakda Shalat Subuh di pondok pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Bogor, Ahad (15/9), menyampaikan tentang dahsyatnya sumpah Allah dalam Al-Quran pada surah An-Najm.

“Tidaklah Allah mengambil sumpah dalam beberapa ayat dan surah dalam Al-Quran, kecuali di dalamnya ada hal dahsyat yang ingin disampaikan kepada manusia,” paparnya.

Ketika menjelaskan tafsir surah An-Najm ayat 1-4, Yakhsyallah menyampaikan ayat tersebut menegaskan bahwa semua yang disampaikan oleh Nabi Muhammad bukanlah berdasarkan hawa nafsunya, melainkan semuanya adalah wahyu yang Allah turunkan kepadanya.

“Surah An-Najm ini untuk menguatkan kedudukan Nabi Muhammad, menegaskan perkataannya bahwa ia jauh dari sifat dusta, juga segala kepentingan pribadi dan nafsunya,” tegasnya.

Ayat ini sekaligus menjadi bantahan bagi orang-orang yang tidak mau mengambil sunnah (hadits) sebagai sumber hukum Islam selain Al-Quran.

Jika ada yang mengatakan bahwa hadits ditulis 200 tahun setelah Nabi wafat, akan tetapi pembukuannya dilakukan dengan tingkat ketelitian dan akurasi yang sangat tinggi, dilakukan oleh orang yang terpercaya, bahkan tidak ada buku/kitab yang ditulis dengan tingkat penelitian, ketelitian dan pembuktian seperti kitab-kitab hadits Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam.

Nabi Muhammad di mata orang-orang Quraisy Makkah juga dikenal sebagai orang yang memiliki kredibilitas tinggi. Oleh masyarakat Arab saat itu, ia bahkan diberi gelar Al-Amin, yang artinya orang yang terpercaya dalam kejujurannya juga memelihara amanah.

Kredibilitas merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang dalam menunaikan amanah. Oleh karenanya Allah memilih orang yang paling kredibel untuk menyampaikan wahyu-Nya (Al-Quran).

Imaam juga menyampaikan hadits, sungguh beruntung dan berbahagia, orang-orang yang mereka beriman kepadaku (Muhammad) sementara mereka tidak melihatku dan bersamaku seperti para sahabatku saat ini. “Bahkan Nabi sampai mengulangnya hingga tujuh kali,” katanya.

Yakhsyallah menjelaskan arti An-Najm sendiri ada tiga penafsiran, pertama diartikan bintang, kedua diartikan tumbuh-tumbuhan di sekitar manusia, dan ketiga diartikan juga sebagai petunjuk bagi manusia. (L/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)